Cari Artikel Disini

October 13, 2008

EVALUASI PENDIDIKAN

I. Pendahuluan

Menurut Islam, pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kegiatan yang wajib hukumnya baik pria maupun wanita yang berlangsung seumur hidup - semenjak dari buaran hingga ajal datang (al-Hadits) – life is education.[1]

Dalam proses pendidikan inilah evaluasi memiliki kedudukan yang amat strategis, karena hasil dari kegiatan evaluasi dapat digunakan sebagai input untuk perbaikan kegiatan pendidikan. Untuk mengetahui lebih jelas tentang evaluasi pendidikan, pemakalah akan menguraikan pada bab selanjutnya.

II. Pembahasan

A. Pengertian Evaluasi Pendidikan

Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti tindakan atau proses untuk menemukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan. Dalam bahasa Arab evaluasi dikenal dengan istilah “imtihan” yang berarti ujian. Dan dikenal dengan istilah khataman sebagai cara menilai hasil akhir dari proses pendidikan.[2]

Menurut Soegarda Poerbawakatja dalam “Ensiklopedi Pendidikan” menguraikan pengertian pendidikan yang lebih luas, sebagai “semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan serta ketrampilannya (orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah”. Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk meningkatkan pengaruh kedewasaan si anak yang selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatan.[3]

Jika kata evaluasi dihubungkan dengan kata pendidikan, maka dapat diartikan sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, untuk itu evaluasi pendidikan sebenarnya tidak hanya menilai tentang hasil belajar siswa tersebut, seperti evaluasi terhadap guru, kurikulum, metode, sarana prasarana, lingkungan dan sebagainya.[4]

Selain istilah evaluasi, terdapat pula istilah lain yang hampir berdekatan, yaitu pengukuran dan penilaian. Sementara orang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama, sehingga dalam memaknainya tergantung dari kata mana yang siap diucapkan.[5]

B. Kedudukan Evaluasi Pendidikan

Ajaran Islam menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi pendidikan. Oleh karena itu, jika evaluasi dihubungkan dengan kegiatan pendidikan memiliki kedudukan yang amat strategis, maka hasilnya dapat digunakan sebagai input untuk melakukan perbaikan kegiatan dalam bidang pendidikan.

Dalam berbagai firman Allah SWT memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidikan.[6] Hal ini, misalnya dapat dipahami dari ayat yang berbunyi sebagai berikut:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَ ئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ {31} قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32}

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (al-Baqarah : 31-32)

Dia, yakni Allah mengajarkan Adam nama-nama seluruhnya, yakni memberinya benda-benda dan mengajarkan fungsi benda-benda.

Setelah pengajaran Allah dicerna oleh Adam as sebagaimana dipahami dari kata kemudian, Allah memaparkan benda-benda itu kepada malaikat lalu berfirman “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu, jika kamu orang-orang yang benar dalam dugaan kau bahwa kalian lebih wajar menjadi khalifah”.

Para malaikat yang ditanya itu secara tutur menjawab sambil mensucikan Allah, tidak ada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Maksudnya bukan karena Engkau tidak tahu, tetapi karena ada hikmah diantara itu.[7]

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ {33}

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (al-Baqarah : 33)

Untuk membuktikan kemampuan khalifah kepada malaikat, Allah berfirman : "Hai Adam! beritahukanlah kepada mereka nama-namanya yakni benda itu". Perhatikanlah! Adam diperintahkan untuk “memberitahukan” yakni menyampaikan kepada malaikat, bukan “mengajar” mereka, pengajaran mengharuskan agar bahan pengajarannya dimengerti oleh yang diajarnya sehingga perlu mengulang-ulangi pelajaran hingga benar-benar dimengerti, berbeda dengan penyampaian atau berita yang tidak mengharuskan pengulangan dan berita harus di mengerti.[8]

Dari ayat tersebut ada empat hal yang dapat diketahui. Pertama, Allah SWT dalam ayat tersebut bertindak sebagai guru memberikan pengajaran kepada Nabi Adam as; kedua, para malaikat tidak memperoleh pengajaran sebagaimana yang telah diterima Nabi Adam. Ketiga, Allah SWT memerintah kepada Nabi Adam agar mendemonstrasikan ajaran yang diterima dihadapan para malaikat. Keempat, materi evaluasi atau yang diujikan haruslah yang pernah diajarkan.[9]

Selain Allah bertindak memberikan pengajaran kepada makhluk-Nya atau hamba-Nya dan dapat pula memberikan pengawasan dengan melalui perantara malaikat sebagai pencatat amal perbuatan manusia sebagaimana yang terdapat pada ayat berikut ini:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ {18}

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas Raqib dan ‘Atid” (QS. Qaaf : 18)

Tiada keluar satu katapun dari mulut manusia kecuali padanya ada seorang malaikat yang menyaksikan, meneliti perbuatan, mencatat apa saja yang memuat pahala atau hukuman bagi manusia. Hikmah dari hal ini ialah bahwa Allah Ta’ala tidaklah menciptakan manusia untuk di azab melainkan untuk dididik dan dibimbing. Maka, setiap penderitaan yang dialami oleh manusia adalah untuk meningkatkan jiwanya.[10]

C. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan

Tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

1. Tujuan umum

a. Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau kemajuan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu

b. Untuk mengetahui tingkat efektifitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

2. Tujuan khusus

a. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan

b. Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.[11]

Sebagaimana yang terdapat pada ajaran Islam, tujuan evaluasi dapat dipahami berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an antara lain disebutkan sebagai berikut :

1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problem kehidupan yang dialaminya. Sebagaimana terdapat pada QS. Al-Baqarah : 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ {155}

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah : 155)

Maksudnya : iman tidak menjamin untuk mendapatkan rizki yang banyak, kekuasaan dan tidak ada rasa takut tetapi berjalan sesuai ketentuan sunatullah yang berlaku untuk makhluknya. Seseorang yang mempunyai kesempurnaan iman dan dirinya mempunyai pengalaman digembleng dalam penderitaan maka adanya musibah justru akan membersihkan jiwanya.[12]

2. Untuk mengetahui sampai dimana atau sejauhmana hasil pendidikan wahyu yang telah ditetapkan Rasulullah SAW terhadap umatnya.

إِذْ قَالَ مُوسَى ِلأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَاراً سَآتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُم بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَّعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ {7}

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: "Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang." (QS. An-Naml : 7)

Maksudnya : seseorang akan merasa gembira dengan melihat api dari kejauhan ketika tersesat di malam gelap gulita, karena berharap dengan api itu dia tidak akan kebingungan, merasa aman di jalan dan dapat memanfaatkannya untuk berdiang, karena itulah Musa kembali dari tempat api yang membawa berita penting dan cahaya yang mulia.[13]

3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimanan manusia sehingga diketahui manusia yang paling mulia disisi Allah.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ {103} وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ {104} قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ {105} إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءِ الْمُبِينُ {106} وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ {107}

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS. Ash-Shaffat : 103-107)

Maksudnya : kerelaan Nabi Ibrahim dengan menyembelih anaknya demi keputusan Allah dengan tunduk dan patuh yang nyata keikhlasannya maka Allah pasti akan memberi balasan bagi setiap orang yang berbuat baik sesuai yang patut dia terima dan setimpal dengan yang dia peroleh.[14]

Fungsi evaluasi

1. Penilaian berfungsi selektif

Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.

2. Penilaian berfungsi diagnostik

Dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnostik kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya, dengan diketahui sebab-sebab kelemahan ini, akan mudah di cari cara untuk mengatasinya.

3. Penilaian berfungsi sebagai penempatan.[15]

D. Prinsip-prinsip Evaluasi Pendidikan dalam al-Qur’an

Evaluasi dapat terlaksana dengan baik apabila pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip berikut ini.

1. Prinsip keseluruhan (al kamal : الكمال / al tamam : التمم)

Penilaian harus mengumpulkan data mengenai seluruh aspek kepribadian. Meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik

a. Aspek kognitif. Cara berfikir seseorang dalam setiap perbuatan

b. Aspek afektif. Cara bersikap seseorang dalam perbuatan

إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-‘Ashr:3).[16]

c. Aspek psikomotorik

كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ {3}

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.[17]

2. Prinsip kesinambungan (istimrar : استمرار)

Penilaian diusahakan secara kesinambungan / kontinuitas atau terus menerus.

3. Prinsip obyektivitas (maudluiyyah : موضوعية)

Penilaian diusahakan subjektivitas atau jujur, mengatakan sesuatu sesuai dengan apa adanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ {119}

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah:119).[18]

E. Prosedur / Teknik Evaluasi Pendidikan

Teknik evaluasi dalam pendidikan dapat dibagi beberapa langkah diantaranya :

1) Perencanaan

Dapat dilakukan dengan merumuskan tujuan evaluasi dalam suatu program belajar mengajar didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai.

2) Pengumpulan data

Dengan cara menetapkan aspek-aspek yang harus dinilai, artinya untuk memperoleh bahan informasi yang cukup tentang anak didik dengan diadakan evaluasi yang dapat ditempuh dengan langkah yaitu: pelaksanaan evaluasi, pemeriksaan hasil-hasil evaluasi, dan pemberian kode atau skor.

3) Verifikasi data

Dengan menentukan metode evaluasi yang akan digunakan aspek yang akan dinilai. Misalnya : untuk menilai sikap dipergunakan checklist.

4) Analisis data

Dengan cara memilih atau menyusun alat-alat evaluasi yang akan dipergunakan berupa tes maupun bukan tes (non tes).

5) Penafsiran data

Dengan menentukan kriteria yang dipergunakan untuk menentukan frekuensi evaluasi dengan menyusun bahan pelajaran.

III. Kesimpulan

Suatu cobaan dan ujian dari Allah itu semua semata-mata karena Allah sangat sayang terhadap hambanya, walaupun hamba tersebut kadang melalaikan apa yang diperintahkan Allah, ataupun juga apa yang dilarangkan Allah. Bahkan hamba tersebut sering kali tidak melakukan hak-hak yang mana itu sangat disenangi Allah.

Maka dalam evaluasi pendidikan ini semua telah dilakukan hamba-Nya bermanfaat apa tidak, mereka menggunakan apa yang telah diberi oleh Allah dengan sebaik-baiknya apa tidak dan yang lebih penting lagi apa yang berhubungan dengan pendidikan dimana saja tidak saja di sekolah itu bermanfaat bagi dirinya dan untuk masa depannya.

Maka dari itu evaluasi pendidikan merupakan solusi terpenting dalam hidup supaya setiap apa yang telah dilakukan ada suatu tujuan yang menjamin adanya suatu pokok permasalahan, karena pendidikan merupakan ajaran hidup dan pengalaman bagi setiap manusia.



DAFTAR PUSTAKA

Drs. Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Drs. H. Abuddin Nata, MA., Filsafat Pendidikan Islam I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Sugarda Poerbawakatja, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an), vol.3, Jakarta: Lentera Hati, 2000.

Ahmad Musthofa al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi (26), Semarang: CV. Toha Putra, 1989.

Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Grafindo Perkasa, 1996.

Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press, 1999.

Imam Jalaluddin al-Mahally as-Syuyuti, Tafsir Jalalain, Bandung: Sinar Baru, 1990.

Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001.




[1] Drs. Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hlm. 1

[2] Drs. H. Abuddin Nata, MA., Filsafat Pendidikan Islam I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm. 131

[3] Sugarda Poerbawakatja, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976, hlm. 214, Sebagaimana dikutip oleh Drs. Zuhairini, dkk., op.cit., hlm. 120

[4] Drs. Abuddin Nata, MA., op.cit., hlm. 131

[5] Ibid., hlm. 132

[6] Ibid., hlm. 134

[7] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an), vol.3, Jakarta: Lentera Hati, 2000, hlm. 143-144

[8] Ibid., hlm. 148

[9] Drs. H. Abudin Nata, op.cit., hlm. 134-135

[10] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi (26), Semarang: CV. Toha Putra, 1989, hlm. 266-271

[11] Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Grafindo Perkasa, 1996, hlm. 16-17

[12] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi (2), Semarang: CV. Toha Putra, 1989, hlm. 38-39

[13] Ibid., (7), hlm. 208-209

[14] Ibid., (23), hlm. 117-118

[15] Drs. H. Abudin Nata, MA., op.cit., hlm. 138-139

[16] Imam Jalaluddin al-Mahally as-Syuyuti, Tafsir Jalalain, Bandung: Sinar Baru, 1990, hlm. 278

[17] Ahmad Musthafa al-Maraghi, op.cit., hlm. 131

[18] Drs. H. Abudin Nata, MA., op.cit., hlm. 141

Google+ Followers

Followers

Tag: