Cari Artikel Disini

October 27, 2008

PERADABAN ISLAM MODERN DI MALAYSIA

I. PENDAHULUAN

Agama Islam telah diakui di seluruh dunia, begitu pula dari Malaysia. Penjajah Ingris di tanah Melayu bermula di negeri-negeri Selat pada abad ke-18-19. lalu di negeri-negeri Melayu lainnya pada abad ke 19-20 sejak itu mulailah Era Baru sejarah pemikiran umat Islam di Malaysia. Bersamaan dengan proses modernisasi yang di lancarkan kolonialisme Barat, muncullah aliran modernisme didalam pemikiran sebagian umat Islam. Jika aliran modernisme tradisional lebih menekankan persoalan-persoalan teologi atau agama, maka aliran neo modernisme membahas persoalan-persoalan keduaniaan dan kehidupan secara lebih luas dan menyeluruh, dalam makalah ini akan sedikit dibahas tentang ideologi, politik, sosial dan budaya. Ekonomi dari Malaysia.

II. PEMBAHASAN

A. Bidang Ideologi

Secara konstitusinal, Islam menikmati status resmi sebagai agama negara Federasi Malaysia. Seperti di banyak negara muslim lain. Islam telah menjadi ideologi utama kaum oposisi.[1] Pengaruh Islam terhadap penduduk asli Malaysia, yaitu berakal dalam-dalam. Sejak mereka dibuang kepercayaan animesme dan memeluk Islam selama masa kerajaan Malaka (abad XV), bangsa Melayu tak pernah berubah agama.[2] Barangkali tak semua mereka itu muslim yang taat, tapi kesetiaan, nilai-nilai, keyakinan dan sentimen Islami selalu hadir dan menembus kebudayaan Melayu serta sistem nilai dalam berbagai tingkat kekentalan. Agama Islam di Malaysia adalah agama negara atau agama resmi di Malaysia. Walau demikian, konstitusi Malaysia juga menjamin bahwa agama-agama lain dapat di amalkan dengan aman dan damai diseluruh Malaysia.[3] Tetapi setelah penjajahan Inggris di tanah Melayu pada abad 19-20. Sejak itu mulailah era baru sejarah pemikiran umat Islam di Malaysia. Bersamaan dengan proses modernisme yang di lancarkan Kolonialisme Barat. Muncullah aliran modernisme didalam pemikiran sebagian umat Islam.[4] Dalam hal ini menjadikan kemunduran masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya. Orang malaysia karena tidak melihat etika-etika Islam, tetapi hanya merajuk pada negeri barat, akan tetapi Malaysia tidak hanya dapat kemunduran, akan tetapi juga dapat keuntungan karena ada pemikiran-pemikiran yang mempunyai pikiran maju untuk menjadi negara yang maju.

B. Politik

Kususnya dalam bidang politik, kesan pertama tentang pengaruh modernisme ialah sikap pro-kolonisme, baik di kalangan mereka yang berpendidikan sekuler maupun agama. Di Malaysia, tokoh pertama yang menyerah pada tekanan peradaban barat modern dan malah bekerjasama dengan pemerintah kolonial ialah, Abdullah Munshi (1796-1854). Tidak hanya membantu para penguasa Inggris, Abdullah juga banyak membantu para pendeta dan Misionaris Kristen dalam penerjemahan Injil ke dalam Bahasa Melayu.[5]

Dengan kedudukannya sebagai katalis pertama, gerakan modernisasi dengan berani ia mengecam feodalisme sebagaimana tercermin dalam catatan perjalanannya ke Kelantan atas perintah Inggris.[6] Dari kalangan-kalangan pembantu pengawas sekolah-sekolah Melayu, yang bersikap prokolonialisme ialah Muhammad Yusuf Ahmad. Menurutnya kedatangan Inggris diperlukan untuk memerintah negeri tersebut menjaga hak dan kepentingan orang-orang Melayu, dan melatih mereka dalam hal-hal yang tidak diketahui.[7] Sesudah berdirinya badan-badan Melayu semi politik itu, baru muncul “organisasi” politik, yang sebenarnya. Diantara organisasi-organisasi politik awal yang mendukung gagasan nasionalisme konservatif adalah UMNO. Kemudian organisasi-oraganisasi yang anti kolonialisme, seperti KMM, PKMNI, API, dan PRM. Sebenarnya organisasi-organisasi yang bersebrangan dengan UMNO[8] tak menolak secara tegas sistem feodalsme. Mereka hanya mengecam secara tak langsung kaum feodal Melayu dan para pendukungnya.[9] Akhirnya, dalam pembahasan tentang pemikiran modernisme dalam politik, barangkali tidak ada unsur yang lebih penting untuk dibicaraan selain aliran sekularisme. Konsep sekularisme merujuk kepada Turki sebagai modelnya dan Mustafa Kamal Attaruk sebagai tokohnya. Kemudian sekularisme ala Turki berkembang di Malaysia, tokoh yang banyak menulis tentang Mustofa Kamal ialah Ahmad bin Ismail, melalui penerbitannya sendiri.[10] Kemudian pengaruh Turki modern menjadi anutan para organisasi-organisasi, seperti KMM dan UMNO pun terpengaruh sekularisme Turki, melalui pimpinan Dato’ Onn Jaafar, kepemimpinannya dalam menggerakkan nasionalisme Melayu telah menjalin hubungan mesra antar Tanah Melayu dengan Turki.[11]

Dengan kenyataan ini, jelaslah bahwa sekularisme sebagai unsur modernisme memang memperoleh lahan subur di Malaysia. Paham tersebut akan semakin bertambah dengan adanya beberapa tokoh dan aktivis Islam yag turut bekerjasama memperkokohnya dari masa ke masa.[12]

C. Sosial dan Budaya

Dalam bidang sosial, pengaruh modernisme yang terpenting ialah masuknya unsur liberalisme dan feminisme, yang menyentuh emanspasi wanita seperti masalah profesi, busana, pergaulan, dan kepemimpinan.

Pertumbuhan pemikiran liberalisme dan emansipasi wanita di Malaysia dimulai pada awal abad ke-20 melalui majalah al-Iman di Singapura. Dengan tujuan membangkitkan kesadaran kaum wanita, al-Iman membandingkan peranan wanita barat yang berusaha sendiri mencari nafkah, termasuk bekerja berat yang memerlukan kekuatan jasmani.[13] Kandungan lembaga Melayu secara keseluruhan sebenarnya tidak menolak kemajuan atau modernitas, tetapi karena modernitas juga turut meruntuhkan nilai-nilai tradisi Melayu yang sangat menjadi perdebatan dikalangan para ulama’ Malaysia adalah tentang busana.[14] Dari tinjauan tentang perkembangan pemikiran modernisme sosia jelas sekali telah dipengaruhi hampir setiap peringkat dan golongan umat Islam. Isu yang selalu hangat ialah peranan wanita, meskipun topik lain tetapu dibahas pada waktu-waktu tertentu.[15]

Sepatutnya kita berterima kasih kepada modernitas, tetapi sebaliknya, karena modernitas pulalah beberapa ulama’ terpaksa menggaruk kepala yang tak gatal, karena modernitas telah melampui batas yang di tetapkan oleh hukum agama kita harus mengucapkan terima kasih kepada barat yang membawa modernitas, tetapi malangnya ia di salah gunakan hingga melanggar batas “keislaman”.[16]

D. Ekonomi

Sejarah pemikiran modernitas dalam ekonomi dari malaysia di awali dengan fenomena materrlisme. Memang fenomena ini tidak dapat disifatkan sebagai pengaruh Barat, karena merupakan hal yang natural. Tetapi dalam konteks ini harus dipandang sebagai pengaruh barat, karena kecenderungan para pendukungnya yang sering memandang dunia barat sebagai Model negara maju dan kaya.[17] Unsur materialisme berjalan seiring dengan kapitalisme yaitu suatu sistem yang mementingkan kelompok kecil kelas kapasitas atau pemodal.[18]

Ciri kapitalisme yang penting ialah bunga atau riba, dikalangan masyarakat Melayu terdapat beberapa jenis kegiatan yang melibatkan riba. Pertama, berhutang dengan jaminan tanah kepada renternir. Begitu seriusnya masalah ini dapat disaksikan, misalnya pada 1933, dianggarkan jumlah hutang orang Melayu di negeri Melayu bersekutu meningkat hampir $ 4 juta, dan dari jumlah itu sebanyak $ 2, 986,246 adalah hutang melalui agunan tanah simpanan Melayu.[19]

Dalam menghadapi situasi tersebut, tokoh Islam termasuk Sayid Syekh al-Hadi merasaberhutang dan menyalahkan orang Melayu karena tindakan yang merugikan itu.[20] Secara tak langsung, para pemuka itu tidak menyukai kegiatan yang melibatkan satu bentuk paham kerakyatan ala sosialisme. Mereka berpendapat bahwa, masyarakat Melayu makin lama makin miskin. Pasa perniagaan diseluruh tanah Melayu dipunyai orang asing. Sebab, yang menjadikan masyarakat Melayu terdesak diantaranya adalah modal asing, tenaga kerja asing dan produk-produk dari luar yang bertujuan membuka negeri ini seluas luasnya tanpa mengjiraukan kehidupan masyarakat Melayu.[21]

III. KESIMPULAN

Peradaban Islam modern di Malaysia membawa kehidupan dan kemunduran, karena peradaban modernisme hanya diberikan pada aspek politik, sosial, ekonomi dan kurangnya menekankan persoalan-persoalan agama, banyak sekali kemunduran-kemunduran Islam yang paling menonjol adalah pada sosial dan budaya.

DAFTAR PUSTAKA

- Zainah Anwar, Kebangkitan Islam di Malaysia, Jakarta, LP3ES, 1990.

- Lukman Harun, Potret Dunia islam, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1985.

- DR. Abdur Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Islam Di Malaysia, Jakarta, Gema Insani Press, 1997.



[1] Zainah Anwar, Kebangkitan Islam di Malaysia, Jakarta, LP3ES, 1990. hlm. 2.

[2] Ibid, hlm. 12.

[3] Lukman Harun, Potret Dunia islam, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1985, hlm. 238.

[4] DR. Abdur Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Islam Di Malaysia, Jakarta, Gema Insani Press, 1997, hlm. 51.

[5] DR. Abdur Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Islam Di Malaysia, Jakarta, Gema Insani Press, 1997, hlm. 151.

[6] Ibid, hlm. 152.

[7] Ibid, hlm. 153.

[8] Ibid, hlm. 156.

[9] Ibid, hlm. 160.

[10] Ibid, hlm. 166.

[11] Ibid, hlm. 168.

[12] Ibid, hlm. 169.

[13] Ibid, hlm. 177.

[14] Ibid, hlm. 182.

[15] Ibid, hlm. 187.

[16] Ibid, hlm. 181.

[17] Ibid, hlm. 188.

[18] Ibid, hlm. 189.

[19] Ibid, hlm. 193.

[20] Ibid, hlm. 193.

[21] Ibid, hlm. 195.

Post a Comment

My Blog List

Google+ Followers

Join this Site