May 3, 2011

PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING LEARNING)


1.       Pengertian Pembelajaran CTL
Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning) merupakan salah satu model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan impelementasi Kurikulum 1994.[1] CTL merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih memperhatikan karakteristik siswa atau daerah tempat pembelajaran. Aplikasi pendekatan CTL mengupayakan agar siswa dapat belajar dengan baik manakala apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekililingnya.
Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengaitkan  antara materi pelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata yang dialami siswa serta mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.       Latar Belakang Pembelajaran CTL
Pembelajaran kontekstual menekankan pada multiaspek lingkungan, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, sehingga mampu mendorong pendidik untuk mendesain lingkungan pembelajaran. Hal ini dapat diperoleh dengan cara memadukan sebanyak mungkin pengalaman belajar, seperti lingkungan sosial, budaya, fisik dan psikologis dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Adapun masalah yang melatarbelakangi konsep pembelajaran CTL adalah bahwa sebagian besar siswa tidak dapat menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya, padahal proses belajar mengajar dapat benar-benar berlangsung jika siswa mampu memproses informasi dan pengetahuan sedemikian rupa sehingga pengetahuan tersebut dapat bermakna.[2]
Agar pencampaiannya lebih efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip desain dalam pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning). Prinsip itu antara lain kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, partisipasi aktif siswa, perulangan dan umpan balik.[3]
Dalam hal ini penulis akan mencoba melakukan elaborasi tentang pendekatan pembelajaran CTL pada mata pelajaran Fiqh. Pentingnya pendekatan pembelajaran CTL bagi mata pelajaran Fiqh didasarkan atas beberapa ciri/ karakteristik Pendidikan Agama Islam.[4]
Pendekatan pembelajaran CTL memiliki enam (6) komponen. Pertama. Berdasarkan falsafah konstruktivisme, yaitu suatu aliran filsafat berisi tentang pengetahauan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong.
Pertama, pendidikan ibadah shalat merupakan bagian mata pelajaran fiqih ibadah yang dikembangkan dari ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Karena itu pendidikan ibadah shalat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.
Kedua, dari segi muatan pendidikannya, pendidikan ibadah shalat merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang memiliki tujuan pembentukan moral kepribadian peserta didik yang baik. Oleh sebab itu semua mata pelajaran yang memiliki tujuan relevan dengan Fiqh harus seiring dan sejalan dalam pendekatan pembelajarannya.
Ketiga, tujuan diberikannya mata pelajaran pendidikan ibadah shalat adalah terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, berbudi pekerti luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam terutama sumber-sumber ajaran dan sendi-sendi lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.
Keempat, mata pelajaran pendidikan ibadah shalat tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik agar menguasai ilmu keislaman tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mengamalkan ajaran Islam dalam keseharian.
Kelima, prinsip dasar pendidikan ibadah shalat didasarkan pada tiga kerangka dasar yaitu akidah (penjabaran dari konsep iman), syariah (penjabaran dari konsep Islam), akhlaq (penjabaran dari konsep ihsan).
Keenam, dilihat dari aspek tujuan, pendidikan ibadah shalat bersifat integratif, yaitu menyangkut potensi intelektual (kognitif), potensi moral kepribadian (afektif) dan potensi keterampilan mekanik (psikomotorik). Oleh sebab itu pembelajaran PAI harus mampu mengembangkan semua potensi secara pararel tanpa menafikan potensi lain yang dimiliki oleh siswa.
Karakteristik yang dimiliki mata pelajaran Fiqh ibadah sangat kompleks, komprehensif dan memerlukan pengatahuan lintas sektor. Oleh sebab itu pola pendekatan dan strategi pembelajaran harus dilakukan secara dinamis dan inovatif agar cita-cita atau tujuan PAI dengan cepat dapat dicapai.
Atas dasar pertimbangan di atas maka menerapkan pendekatan CTL dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan ibadah shalat menjadi sebuah keniscayaan. Karena dengan pendekatan CTL akan lebih mempercepat proses bimbingan dan pembinaan kualitas personel siswa baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dengan demikian, bagaimanapun jenis kurikulum yang digunakan, dalam kegiatan belajar mengajar (kurikulum proyek, terpusat, terpadu dan terikat) yang penting adalah dalam pelaksanaan dan keberhasilannya kurikulum tersebut disempurnakan atau dilengkapi dengan berbagai aktifitas walaupun hanya berperan sebagap pelengkap. Dalam pengertian, ativitas di luar proses belajar mengajar formal harus ditetapkan juga secara tertulis, terutama jika proses belajar mengajar atau kurikulum menghendaki itu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi melalui pendekatan CTL, seorang guru harus mampu menciptkan kondisi yang kondusif. Kendati demikian kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh aktivitas dan kratifitas guru, disamping kompetensi-kompetensi profesionalnya.[5]

3.       Prinsip Dasar Pembelajaran CTL
Menyampaikan pembelajaran sesuai dengan konsep teknologi pendidikan dan pembelajaran pada hakikatnya merupakan kegiatan menyampaikan pesan kepada siswa oleh nara sumber dengan menggunakan bahan alat, teknik, dan dalam lingkungan tertentu. Hal ini dimaksudkan agar penyampaian tersebut lebih efektif, oleh karena itu, perlu diperhatikan beberapa prinsip desain pesan pembelajaran. Prinsip tersebut antara lain kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, partisipasi aktif siswa, perulangan, dan umpan balik.
a.       Kesiapan dan motivasi
Prinsip ini menyatakan bahwa jika dalam menyampaikan pesan pembelajaran siswa siap dan mempunyai motivasi tinggi, hasilnya akan lebih baik. Siap disini berarti siap pengetahuan prasyarat, siap mental, dan siap fisik. Untuk mengetahui kesiapan siswa perlu diadakan tes prasyarat.
Sedangkan motivasi merupaan dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, termasuk melakukan kegiatan belajar. Dorongan bisa berasal dari dalam maupun dari luar diri siswa. Motivasi dapat ditingkatkan dengan memberikan ganjaran dan hukuman (reward and punishment).
b.       Penggunaan alat pemusat perhatian
Terpusatnya mental terhadap suatu objek memegang peranan penting bagi keberhasilan proses belajar mengajar. Semakin memperhatikan akan semakin berhasil, tetapi sebaliknya, semakin tidak memperhatikan akan gagal. Meskipun penting, perhatian mempunyai sifat sukar dikendalikan dalam waktu lama. Karena itu perlu digunakan berbagai alat dan teknik untuk mengendalikan atau mengarahkan perhatian. Alat pengendali perhatian yang paling utama adalah media seperti gambar, ilustrasi, bagan warna-warni, audio, video, penegas visual atau penegas verbal.
Teknik yang dapat digunakan untuk mengendalikan perhatian misalnya gerakan, perubahan, sesuatu yang aneh, mengagetkan, menegangkan, lucu atau humor.
c.       Memancing penampilan siswa
Memancing penampilan untuk membantu siswa dalam menguasai materi atau mencapai tujuan pembelajaran. Bentuk kegiatan siswa berupa latihan atau praktikum. Siswa diharapkan dapat berlatih menerapkan konsep da prinsip yang dipelajari dalam konteks dan situasi yang berbeda, bukan sekedar menghafal. Misalnya setelah mempelajari konsep adab, siswa mereka diberi tugas berlatih tentang tata cara sopan santun kepada orang tua.
d.      Perulangan
Perulangan dilakukan dengan cara dan media yang sama maupun berbeda. Perulangan dapat pula dilakukan dengan memberikan  tinjauan selintas awal pada saat memulai pelajaran dan ringkasan atau kesimpulan pada akhir pembelajaran.
e.       Umpan balik
Jika dalam penyampaian pesan siswa dibeli umpan balik, hasil belajar akan meningkat. Jika salah diberikan pembetulan (corrective feedback) dan jika betul diberi diberi konfirmasi dan penguatan (confirmative feedback). Siswa akan menjadi mentap jika betul kemudian dibetulkan. Sebaliknya, siswa akan tahu letak kesalahannya jika diberi tahu kesalahannya dan dibetulkan. Secara teknis, umpan balik diberikan dalam bentuk kunci jawaban yang benar.



[1] Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 37.
[2] Abdul Gafur, Mencoba Pembelajaran Kontekstual, Buletin Pusat Perbukuan, Gerakan Masyarakat Mengembangkan Budaya Baca, (Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas, Bagian Proyek Pengembangan Sistem dan Standard Perbukuan Dasar, Vol. 09, 2003), hlm. 37.
[3] Ibid., hlm. 38.
[4] Abdul Majid, S.Ag., Dian Andayani, S.Pd., Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 78-79.
[5] Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Op. Cit., hlm. 165.

Tag:

abad 20 Abad XIX Abbasiyah Abdul Karim Abdul Malik Abdul Wahab Khalaf abortion abortus abortus provocatus criminal abundant life Ahli kitab Ahmad bin Hanbal Ahmad Dahlan Ahmad Rifa'i Ajaran Akad nikah akal akhlak Akhlaq Akidah aktualisasi al-ASy'ari Al-Baqilani al-daqaq al-Ghazali al-Hamra al-himmah al-Iqtisad Al-Juwaini al-maududi al-Naisabur Al-Qur'an al-qusyairi al-Sharf Alfred Allah ana al-haq anak anak zina Annemarie Schimmel antar agama Anthropomorphisme Aqidah Arsitektur Islam arsitektur Jawa Asasi Manusia asbabun nuzul astrologi asuransi asuransi jiwa Atom aufklaerung ayat-ayat agama Azande Ba'i bahasa arab Bani Abbas Bani Umayah Bank Belajar Belajar Mengajar Benda bertanggung jawab Bimbingan dan Konseling Biografi al-Baqilani BK BKKBN buniya al-islam Candi Charles Darwin Christian Snouck Hurgronje cinta cinta ilahi cinta universal Clingy communicating controlling coordinating Cordova corporate governance cosmos CTL Dakwah Dampak Negatif darwin deccan demokratis dendam determinisme dhanny al-dalalah Dion O'Banion discipline distribusi zakat Distrusful Dosa dukun dzikir Edmund Husserl efisiensi ekonomi Eksistensialisme empirisme Engels epistemologi EQ equity Etika etimologi evaluasi evaluating Evans-Pritchard Fadl Faid ar-Rahman fatalism Fatwa Fazlur Rahman Fenomenologi Fertilasi in Vitro filsafat Filsafat Hidup filsafat modern filsafat proses Filsafat Yunani Fiqh forecasting free act free will Frenetic Seachers Friedrich Nietzsche Fungsi Orang Tua future-oriented gaji genetic engineering genus ghailan al-dimasyqi gharar ghazali munir Granada Guru hadits dirayah hadits riwayah Hak Tuhan harga rendah hari akhir harta hasud Hasyim Asy'ari hellenisme Henry Bergson hikmah Historis Honig Hopeless Hukum hukum Islam hukum zakat human right humaniora i'jazul Qur'an ibadah Ibn Maskawaih Ibn Mujahid Ibn Rusyd ideologi korupsi Ihya Ulumuddin ijtihad ikhlas Ikhtiyariyah ilmu ilmu hadits Ilmu Kalam Ilmu Pengetahuan ilmu tafsir Imam Ghazali Imam Hambali Imam Haramain Imam Syafi'i Iman Implikasi In God We Trust indonesia infaq informasi Inseminasi Artifisial insurance intelektual muslim interelasi Intra Uterine Device introspeksi intuisi IQ Isabella Islam islam Jawa Islam santri Istinbat IUD iztirariyah Jabariyah jalaluddin rumi jarh ta'dil jauhar Jawa Jean Paul Sartre Jerussalem jisim jiwa John Deawey John Locke jual beli judi Justice kaidah fiqh Kalisalak Karel A. Steenbrink karismatik kasab Kasb kaum du'afa KB Keadilan Keadilan Tuhan kebebasan Keberagamaan kebudayaan Kecerdasan Spiritual kedaulatan kedokteran kehidupan manusia kejawen Kekerasan Kekuasaan Tuhan Keluarga Keluarga Berencana kemandirian kemerdekaan kenabian kepemimpinan kepercayaan kerajaan Islam kesatuan eksistensi Kesatuan Ummah Kesehatan Kesehatan Mental ketenangan jiwa keutamaan dzikir khalifah Khatib Sambas KHI khilafah khulafaurrasyidin Ki Hajar Dewantara Kiai kiamat kimia Kompetensi komunitas Konsensus Konsep Iman konsep Islam Konsep Takdir konsepsi tentang Tuhan Konstitusi Madinah Kontekstual Kontemporer korupsi kosmologi Krisis Sosial Kristen Kultural kurikulum lailatul qadar Lembaga Generasi Muslim Lembaga Penjamin Simpanan lingkungan Logika LPS Lutheran ma'rifat madrasah madzhab empat Magic mahabbah mahmudah Makhluk man is dead or dying manajemen mandul manfaat dzikir manipulasi maqamat Martin Heidegger masailul fiqhiyah Masalah Amal masjid besar masjid Quba masyarakat masyarakat madani matematika Matn al-Hikam Mengenal Islam menstrual regulation Metafisika metode berpikir militerstis mitoni modernis moksa Monoteisme Moral Agama Motivasi mu'amalah Mu'tazilah Muhammad Arkoun Muhammad Saleh muhkam mujahadah mukjizat Muktasab munasabah musfadah muslim musytarak mutasyabihat mutlaq Nabi Muhammad saw Narkotika nasab Nasabah nasib Nawawi al-Bantani Nikah non-muslim Normatif North Whitehead not much is known about ma'bad al-juhani NU nujum nutfah obligasi Oksigen Orang Awam Orang Tua orde lama organisasi organizing Orientalis otokratis Ovarian transplant Paham Jabariyah paham qadariyah PAI pajak Pandangan Masyarakat Pareto partisipasi paternalistis Pemahaman Pemeliharaan pemerintah Pemikiran pemikiran deduksi pemikiran induksi pemilu 2009 pemimpin Pencegahan Pendekatan Sosiologi Pendidikan pengajaran pengawasan pengelolaan zakat Pengembangan pengendalian diri Pengentasan pengetahuan sejati Peningkatan Mutu Penyaluran Penyesuaian Peran Orang Tua Peran Wanita Perang Salib Perbuatan Manusia percaya diri perdamaian agama perencanaan Perkawinan Perlindungan perlombaan berhadiah Perspektif Perspektif Agama perwalian pesantren piagam madinah planning Pluralisme pluralitas Pola Asuh Politik porkas pragmatisme pre-literature predestination prenatal privasi problem kemasyarakatan Produk Profesional psikofisik Psikologi Psikoterapi PTUN qadariyah Qat'iy al-dalalah Rahasia Bank Ramadhan ramal Realitas relativisme relevansi renaisance Reproduksi resepsi pernikahan Resitasi respirasi riba Risalah Nabi Muhammad ritual Romawi Timur rububiyah rukun islam Rukun Nikah rule of law Rumah Tangga rumi sabar saham sains Saleh Darat SDM sedekah Sejarah Sejarah Arsitektur sejarah hadits sekolah Selaput Rahim self indication self-control shadaqah Sifat Tuhan Sigmund Freud signs of the unseen Skeptisisme Sogyal Rinpoche sombong Sosial Sosial-Budaya sosiologi spanyol sperma SPI spiritual SQ Stabilitas staffing status anak status hukum sterilisasi strategi pengajaran Studi Agama Islam Sufi sufisme Sumber sumber daya manusia syari'ah ta'rif tabularasa tafsir ayat-ayat tahalli tajalli takabur takdir take and give takhalli Taklif tanah rakyat tanjim tarajjumah tarekat Tasawuf Tasdiq taubat Tauhid tawakkal tazkiyah Teknologi Modern telepon tempuran tentang agama Teologi teologi islam terminologi terorisme The Spiral of Violence Theology of The Dead of God Tingkeban toleransi towards understanding islam tradisi Islam tradisi Jawa tradisionalis tubektomi Tuhan Tuhan Mati ujub Ulama Jawa ulumul hadits undian berhadiah upacara kematian urdu UU No. 38 tahun 1999 valuta asing vasektomi W. Montgomery Watt wahdatul adyan Wahyu wajib pajak wajib zakat wali westernis whitehead William James zakat zakat konsumtif zakat produktif Zaman Zarathustra zina zoon politicon zuhud