MUNCULNYA RENAISANCE DAN PENJAJAHAN BARAT ATAS DUNIA ISLAM

28 Oktober 2013

MUNCULNYA RENAISANCE DAN PENJAJAHAN BARAT ATAS DUNIA ISLAM

I.              PENDAHULUAN
Dalam tradisi Barat, istilah “renaisans” berarti menemukan kembali sesuatu yang hilang, tetapi institusi-institusi yang dibincangkan Mez dalam tradisi Islam lebih merupakan sesuatu yang betul-betul baru ketimbang “ditemukan” kembali. Jadi ungkapan “renaisans Islam” sesungguhnya layak untuk diperdebatkan dan hal ini akan membawa kita pada suatu pengertian tentang proses kultural yang dialami peradaban Islam pada abad ke-10 M.
Renaisans Italia telah menyaksikan kelahiran kembali pengetahuan, kebudayaan, dan gaya klasik. Oleh karena itu, istilah “renaisans” telah diperluas pengertiannya hingga mencakup berbagai kebangkitan dan periode budaya restorasi klasik. Renaisans Barat (seperti, Carolingian, Ottonian, abad ke-12, Bizantium) telah berkembang dalam pengertian yang telah diperluas tersebut. Ada tanda-tanda yang sangat jelas bahwa fenomena serupa juga ditemukan pada lingkungan budaya peradaban Islam, yang pada abad ke-10 M menikmati kelahiran kembali warisan klasik dan kebangkitan kembali kebudayaan pada umumnya.

Agaknya mustahil bagi kita untuk melakukan perbandingan secara detail antara renaisans Islam di satu pihak dan renaisans Barat dipihak lain. Kitapun tampaknya tidak perlu melakukan hal tersebut. Jika hanya ingin membuktikan bahwa renaisans semacam itu pernah terjadi. Akan tetapi, sedikit penelitian untuk melihat perbedaan dan persamaan antara kedua renaisans tersebut tetap perlu dilakukan. Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang munculnya renaisans dan penjajahan Barat atas dunia Islam.

II.           DESKRIPSI DATA
A.    Renaisans Islam
Periode modern dalam sejarah Islam bermula dari tahun 1800 M dan berlangsung sampai sekarang. Di awal periode ini kondisi dunia Islam secara politis berada di bawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat.
Periode ini memang merupakan zaman kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran di periode pertengahan. Pada periode ini mulai bermunculan pemikiran pembaharuan dalam Islam. Gerakan pembaharuan itu paling tidak muncul karena dua hal. Pertama, timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran-ajaran “asing” yang masuk dan diterima sebagai ajaran Islam. Ajaran-ajaran itu bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sebenarnya, seperti bid’ah, khurafat dan takhyul. Ajaran-ajaran inilah, menurut mereka, yang membawa Islam menjadi mundur. Oleh karena itu, mereka bangkit untuk membersihkan Islam dari ajaran atau paham seperti itu. Gerakan ini dikenal sebagai gerakan reformasi. Kedua, pada periode ini Barat mendominasi dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu, mereka berusaha bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk menciptakan balance of power.[1]
Renaisans Islam yang rentang waktunya sangat panjang dapat dikatakan telah berlangsung dari abad ke-3 H/9 M sampai abad ke-4 H/10 M. Periode ini, yang menurut istilah S.D. Goitein disebut sebagai puncak “intermediate civilization of Islam”, menyaksikan munculnya kelas menengah yang makmur dan berpengaruh, yang memiliki keinginan kuat dan fasilitas yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan dan status sosial, yang telah memberikan kontribusi dalam pengembangan dan penyebaran kebudayaan kuno. Masyarakat urban, dengan seluruh permasalahannya yang akut, –suplai makanan yang kurang, penyakit, ketidakadilan, dan perselisihan– telah menyediakan wadah yang diperlukan bagi usaha-usaha kreatif dan pembebasan diri dari pola-pola dan batasan-batasan tradisional. Mobilitas fisik para saudagar dan sarjana bergandengan tangan dengan mobilitas sosial. Individu-individu yang gigih menghancurkan struktur kelas tradisional yang didasarkan pada garis keturunan; pengetahuan, kecerdasan, dan bakat dikedepankan sebagai faktor penentu peranan dan status sosial.[2] Selama masa ini, para penguasa dan pejabat negara merupakan patron yang menaruh minat besar terhadap pengetahuan, memanjakan para filosof, ilmuwan, dan sastrawan di istana mereka yang megah. Perkembangan perniagaan dan perdagangan meluas hingga melampaui daerah perbatasan kerajaan Islam, dan pertumbuhan urbanisasi memberikan fasilitas komunikasi bagi masyarakat yang memiliki latar belakang beragam. Baghdad menjadi dasar bagi kerajaan besar yang membentang dari Spanyol sampai India. Masyarakat Islam, menurut G. Levi Della Vida, “lebih kosmopolitan daripada masyarakat Yunani dan Romawi yang pernah ada”. Puncaknya dicapai pada paruh kedua abad ke-10 dibawah pemerintahan Dinasti Buwaihiyyah di Baghdad dan Iran bagian barat, yang lebih tercurahkan dan toleran. Sultan-sultan Buwauihiyyah dan wazir-wazirnya merupakan patron yang sangat menggemari seni dan ilmu. Tidak dapat disangkal bahwa masa Buhaiwiyyah merupakan puncak kejayaan periode ini yang dijuluki Adam Mez sebagai “Renaisans Islam” dan hingga batas-batas tertentu bisa dianggap sebagai keunggulan kebudayaan Islam abad pertengahan.
Renaisans Islam sebenarnya juga banyak memiliki kesamaan dengan renaisans pada abad ke-12 M. Keduanya sangat menekankan pentingnya warisan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani Kuno, dengan pengecualian bahwa Renaisans Italia lebih memfokuskan pada tradisi retorik dan literer warisan tersebut. Pada kenyataannya, baik dalam kebangkitan kembali Islam maupun renaisans abad pertengahan, sejarah dan kesusastraan klasik adalah dua aspek yang paling tidak diperhatikan dalam penerjemahan dari Yunani. Untuk hal lainnya, kebangkitan kembali kebudayaan Islam mungkin dapat dikaitkan dengan renaisans Italia. Ada kesamaan di antara keduanya dalam hal individualisme dan semangat sekularisme. Akan tetapi, jika dalam renaisans Italia energi mereka lebih banyak dicurahkan untuk mereproduksi warisan-warisan kuno dalam bidang seni dan arsitektur, serta dalam gaya secara umum, hal ini tidak terjadi pada renaisans Islam.[3]
B.     Renaisans Barat
Gerakan-gerakan renaisans melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah dunia. Abad ke-16 dan 17 M merupakan abad yang paling penting bari Eropa, sementara pada akhir abad ke-17 dunia Islam mulai mengalami kemunduran. Dengan renaisans, Eropa bangkit kembali untuk mengejar ketinggalan mereka pada masa kebodohan dan kegelapan.[4] Mereka menyelidiki rahasia alam, menaklukkan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan.
Pada awal kebangkitannya, Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat. Dihadapannya masih terdapat kekuatan-kekuatan perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus lautan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka.[5] Mereka melakukan berbagai penelitian tentang rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan. Setelah Christopher Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco da Gama menemukan jalan ke Timur melalui Tanjung Harapan (1498 M) benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu, sungguh tak terkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi pada jalur lama yang dikuasai umat Islam. L. Stoddard menggambarkan, dengan sekejap mata dinding laut itu berubah menjadi jalan raya, dan Eropa yang semula terpojok segera menjadi yang dipertuan di laut dan dengan demikian yang dipertuan di dunia. Terjadilah perputaran nasib yang maha hebat dalam sejarah seluruh umat manusia.[6]
Perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tak berhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya. Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang sejak lama mengalami kemunduran. Kemajuan Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Penemuan mesin uap yang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa semakin memantapkan kemajuan mereka. Teknologi perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian, sebagaimana telah disebutkan dalam bab sebelum ini, Eropa penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari dan ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan mereka. Bahkan, satu demi satu negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.

C.    Penjajahan Barat terhadap Dunia Islam di Anak Benua India dan Asia Tenggara
India ketika berada pada masa kemajuan pemerintahan kerajaan Mughal adalah negeri yang kaya dengan hasil pertanian. Hak itu mengundang Eropa yang sedang mengalami kemajuan untuk berdagang ke sana. Di awal abad ke-17 M, Inggris dan Belanda mulai menginjakkan kaki di India. Pada tahun 1611 M, Inggris mendapat izin menanamkan modal, dan pada tahun 1617 M, Belanda mendapatkan izin yang sama.
Kongsi dagang Inggris, British East India Company (BEIC) mulai berusaha menguasai wilayah India bagian timur ketika ia merasa cukup kuat. Penguasa-penguasa setempat mencoba mempertahankan kekuasaan, dan berperang melawan Inggris tahun 1761 M. Namun, mereka tidak berhasil mengalahkan Inggris. Akibatnya, daerah-daerah Oudh, Bengal, dan Orissa jatuh ke tangan Inggris. Pada tahun 1803 M, Delhi, ibu kota kerajaan Mughal juga berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Inggris,[7] karena bantuan yang diberikan Inggris kepada raja ketika mengalahkan aliansi Sikh-Hindu yang berusaha menguasai kerajaan. Mulai saat itulah Inggris leluasa mengembangkan sayap kekuasaannya di anak benua India dan sekitarnya. Pada tahun 1842 M, Keamiran Muslim Sind di India dikuasainya. Pada tahun 1857 M kerajaan Mughal bahkan dikuasai penuh dan setahun kemudian rajanya yang terakhir dipaksa meninggalkan istana. Sejak itu, India berada di bawah kekuasaan Inggris yang menegakkan pemerintahannya di sana. Pada tahun 1879 M, Inggris berusaha menguasai Afghanistan, dan Kesultanan Muslim Baluchistan dimasukkan di bawah kekuasaan India-Inggris, tahun 1899 M.
Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, justru menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal menancapkan kekuasaannya di negeri ini. Hal itu mungkin karena, dibandingkan dengan Mughal, kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga dengan mudah dapat ditaklukkan.[8]
Kerajaan Islam Malaka yang berdiri pada awal abad ke-15 M di Semenanjung Malaya yang strategis dan merupakan kerajaan Islam kedua di Asia Tenggara setelah Samudera Pasai, ditaklukkan Portugis tahun 1511 M. Sejak itu, peperangan-peperangan antara Portugis melawan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seringkali berkobar. Pedagang-pedagang Portugis terutama berupaya menguasai Maluku yang sangat kaya akan rempah-rempah. Penjajahan Portugis yang terlama di Nusantara adalah di Timor Timur.
Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang. Spanyol berhasil menguasai Filipina, termasuk di dalamnya beberapa kerajaan Islam, seperti Kesultanan Maguindanao, Kesultanan Buayan, dan Kesultanan Sulu.
Akhir abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris, Denmark dan Perancis yang datang ke Asia Tenggara. Akan tetapi, dua negara yang disebut terakhir tidak berhasil menjajah negeri di Asia Tenggara dan hanya datang untuk berdagang. Belanda datang tahun 1595 M dan dengan segera dapat memonopoli perdagangan di kepulauan Nusantara. Kongsi dagangnya, VOC, segera pula memainkan peran politik. Tentu saja kehadirannya ditantang oleh penduduk setempat. Oleh karena itu seringkali terjadi peperangan antara Belanda dengan penduduk, walaupun akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh Belanda. Yang terbesar di antaranya adalah Perang Aceh, Perang Paderi di Minangkabau, dan Perang Diponegoro di Jawa. Sementara itu, setelah Inggris datang ke Asia Tenggara, ia segera menjadi kekuatan yang cukup dominan, menyaingi kekuatan Belanda. Kekuasaan Inggris tertancap di Semenanjung Malaya, termasuk Singapura sekarang, dan Kalimantan Barat, termasuk Brunei. Inggris bahkan juga sempat menguasai seluruh Indonesia untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama di awal abad ke-19 M.
Sebagaimana di India, di Asia Tenggara kekuasaan politik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20 M, ketika negeri-negeri jajahan tersebut memerdekakan diri dari kekuasaan asing.
D.    Kemunduran Kerajaan Usmani dan Ekspansi Barat ke Timur Tengah
Kemajuan-kemajuan Eropa dalam teknologi militer dan industri perang membuat Kerajaan Usmani menjadi kecil di hadapan Eropa. Akan tetapi, nama besar Turki Usmani masih membuat Eropa Barat segan untuk menyerang atau mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di kekuasaan kerajaan Islam ini, termasuk daerah-daerah yang berada di Eropa Timur. Namun, kekalahan besar Kerajaan Usmani dalam menghadapi serangan Eropa di Wina tahun 1683 M membuka mata Barat bahwa Kerajaan Usmani telah mundur jauh sekali. Sejak itulah Kerajaan Usmani berulangkali mendapat serangan-serangan besar dari Barat.[9]
Sejak kekalahan dalam pertempuran Wina itu, Kerajaan Usmani juga menyadari akan kemundurannya dan kemajuan Barat. Usaha-usaha pembaharuan mulai dilaksanakan dengan mengirim duta-duta ke negara-negara Eropa, terutama Prancis, untuk mempelajari suasana kemajuan di sana dari dekat.[10] Celebi Mehmed diutus ke Paris tahun 1720 M dan diinstruksikan untuk mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan, dan institusi-institusi lainnya. Ia kemudian memberi laporan tentang kemajuan teknik, organisasi angkatan perang modern, dan kemajuan lembaga-lembaga sosial lainnya. Laporan-laporan itu mendorong Sultan Ahmad III (1703-1730 M) untuk memulai pembaharuan dikerajaannya. Pada masa kekuasaannya didatangkan ahli-ahli militer dari Eropa untuk tujuan pembaharuan militer dalam Kerajaan Usmani. Pada tahun 1717 M, seorang perwira Perancis, De Rochefort, datang ke Istambul dalam rangka membentuk korp artileri dan melatih tentara Usmani dalam ilmu-ilmu kemiliteran modern. Pada tahun 1729 M, datang lagi Comte de Bonneval, juga dari Perancis, untuk memberi latihan penggunaan meriam modern. Ia dibantu oleh McCarthy dari Irlandia, Ramsay dari Skotlandia, dan Mornai dari Perancis. Pada tahun 1734 M, untuk pertama kalinya Sekolah Teknik Militer dibuka.[11] Usaha pembaharuan ini tidak terbatas dalam bidang militer. Dalam bidang-bidang yang lain pembaharuan juga dilaksanakan, seperti pembukaan percetakan di Istanbul tahun 1727 M, untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan. Demikian juga gerakan penerjemahan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Turki.
Meskipun demikian, usaha-usaha pembaharuan itu bukan saja gagal menahan kemunduran Kerajaan Turki Usmani yang terus mengalami kemerosotan, tetapi juga tidak membawa hasil yang diharapkan. Penyebab kegagalan itu terutama adalah kelemahan raja-raja Usmani karena wewenangnya sudah jauh menurun. Di samping itu, keuangan negara yang terus mengalami kebangkrutan sehingga tidak mampu menunjang usaha pembaharuan. Faktor terpenting lainnya yang membawa kegagalan itu adalah karena ulama dan tentara Yenissari yang sejak abad ke-17 M menguasai suasana politik dalam Kerajaan Usmani serta menolak usaha pembaharuan itu. Dengan demikian, Kerajaan Usmani terus saja mendekati jurang kehancurannya, sementara Barat yang menjadi ancaman baginya semakin besar.
Usaha pembaharuan Turki Usmani baru mengalami kemajuan setelah penghalang pembaharuan utama, yaitu tentara Yenissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807-1839 M) pada tahun 1826 M. Struktur kekuasaan kerajaan dirombak, lembaga-lembaga pendidikan modern didirikan, buku-buku barat diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, siswa-siswa berbakat dikirim ke Eropa untuk belajar, dan yang terpenting sekali adalah sekolah-sekolah yang berhubungan dengan kemiliteran didirikan. Bidang militer inilah yang utama dan pertama mendapat perhatian. Akan tetapi, meski banyak mendatangkan kemajuan, hasil gerakan pembaharuan tetap tidak berhasil menghentikan gerak maju Barat ke dunia Islam di abad ke-19 M.
Di samping itu, gerakan pembaharuan malah justru mengancam kekuasaan para sultan yang absolut, karena para pejuang Turki melihat bahwa kelemahan Turki terletak pada keabsolutan Sultan itu. Mereka ingin membatasi kekuasaan Sultan dengan membentuk konstitusi, sehingga lahir gerakan tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda, dan Partai Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terekki).
Di pihak lain, satu demi satu daerah-daerah di Asia dan Afrika yang sebelumnya dikuasai Turki Usmani, melepaskan diri dari Konstantinopel. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani itu yang tak kalah pentingnya adalah timbulnya perasaan nasionalisme pada bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaannya. Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, memohon bantuan Barat untuk kemerdekaan tanah airnya. [12]
Demikianlah keadaan dunia Islam pada abad ke-19 M, sementara Eropa sudah jauh meninggalkannya. Eropa dipersenjatai dengan ilmu modern dan penemuan yang membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh itu jatuh ke tangan Barat. Dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah membagi-bagi seluruh dunia Islam. Inggris merebut India dan Mesir. Rusia menyeberangi Kaukasus dan menguasai Asia Tengah. Perancis menaklukkan Afrika Utara, dan bangsa-bangsa Eropa lainnya mendapat pula bagiannya dari warisan Islam itu.[13]
E.     Bangkitnya Nasionalisme di Dunia Islam dan Tumbuhnya Gerakan Partai yang memperjuangkan Kemerdekaan Negaranya
Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam pada umumnya –yang dikenal dengan gerakan pembaharuan– didorong oleh dua faktor yang saling mendukung, pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam itu dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Yang pertama seperti gerakan Wahhabiyah yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1787 M) di Arabia, Syah Waliyullah (1703-1762 M) di India, dan Gerakan Sanusiyah di Afrika Utama yang dipimpin oleh Said Muhammad Sanusi dari Aljazair. Sedangkan yang kedua, tercermin dalam pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa Turki Usmani dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dan dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam. Pelajar-pelajar muslim asal India juga banyak yang menuntut ilmu ke Inggris.
Gerakan pembaharuan itu dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memang tidak bisa dipisahkan dengan politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme (persatuan Islam sedunia) yang mula-mula didengungkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M).
Semangat Pan-Islamisme yang bergelora itu mendorong Sultan Kerajaan Turki Usmani, Abd al-Hamid II (1876-1909 M), untuk mengundang al-Afghani ke Istambul, ibu kota kerajaan. Gagasan ini dengan cepat mendapat sambutan hangat di negeri-negeri Islam. Akan tetapi semangat demokrasi al-Afghani tersebut menjadi duri bagi kekuasaan Sultan, sehingga al-Afghani tidak diizinkan berbuat banyak di Istambul. Setelah itu, gagasan Pan-Islamisme dengan cepat redup, terutama setelah Turki Usmani bersama sekutunya, Jerman, kalah dalam Perang Dunia I dan kekhalifahan dihapuskan oleh Mustafa Kemal, tokoh yang justru mendukung gagasan nasionalisme, rasa kesetiaan kepada negara kebangsaan.
Gagasan nasionalisme yang berasal dari Barat itu masuk ke negeri-negeri muslim melalui persentuhan umat Islam dengan Barat yang menjajah mereka dan dipercepat oleh banyaknya pelajar muslim yang menuntut ilmu ke Eropa atau lembaga-lembaga pendidikan “Barat” yang didirikan di negeri mereka. Gagasan kebangsaan ini pada mulanya banyak mendapat tantangan dari pemuka-pemuka Islam karena dipandang tidak sejalan dengan semangat ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, ia berkembang cepat setelah gagasan Pan-Islamisme redup.

III.        ANALISIS
Pada pertengahan abad ke-20 M dunia Islam bangkit dan memerdekakan negerinya dari penjajahan Barat. Periode ini memang merupakan zaman kebangkitan kembali Islam setelah mengalami kemunduran di periode pertengahan.
Kemudian pada abad ke-16 dan 17 M itu merupakan abad yang paling penting bagi eropa. Sementara pada akhir abad ke-17 dunia Islam mulai mengalami kemunduran. Dengan renaisans, Eropa akhirnya bangkit kembali untuk mengejar ketinggalan mereka pada masa kebodohan dan kegelapan.

IV.        KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : bahwa renaisans Islam yang rentang waktunya sangat panjang dapat dikatakan telah berlangsung dari abad ke-3 H/9 M sampai abad ke-4 H/10 M. Periode ini disebut sebagai puncak “Intermediate Civilization of Islam” menyaksikan munculnya kelas menengah yang makmur dan memiliki keinginan kuat dan fasilitas yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan dan status sosial.


DAFTAR PUSTAKA
Abu I-Hasan Ali al-Nadwi, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta: Pustaka Jaya-Djambatan, 1988.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2003.
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
Joel L. Kraemer, Renaisans Islam, Bandung: Mizan, 2003.
L. Stoddard, Dunia Baru Islam, Jakarta: CV. Mutiara, 1966.
S.M. Ikram, Muslim Civilization in India, London : Cambridge University Press, 1977.



[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2003, hlm. 173-174.
[2] Joel L. Kraemer, Renaisans Islam, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 26.
[3] Ibid., hlm. 27.
[4] Abu I-Hasan Ali al-Nadwi, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta: Pustaka Jaya-Djambatan, 1988, hlm. 220.
[5] L. Stoddard, Dunia Baru Islam, Jakarta: 1966, hlm. 25.
[6] Ibid., hlm. 26.
[7] S.M. Ikram, Muslim Civilization in India, London : Cambridge University Press, 1977, hlm. 268.
[8] Badri Yatim, op.cit., hlm. 176-177.
[9] L. Stoddard, loc.cit.
[10] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1988, hlm. 15.
[11] Ibid., hlm. 16.
[12] Badri Yatim, op.cit., hlm. 179.
[13] L. Stoddard, op.cit., hlm. 27.
Share:

Google+

Diberdayakan oleh Blogger.