KEAJAIBAN AIR SUSU IBU (ASI)

19 November 2014

KEAJAIBAN AIR SUSU IBU (ASI)

Air susu ibu atau ASI adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat serta mengandung nutrisi-nutrisi dasar dan elemen, dengan jumlah yang sesuai untuk pertumbuhan bayi yang sehat.
ASI pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong dan mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Kolostrum yaitu cairan bening berwarna kekuning-kuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran sampai kira-kira seminggu sesudahnya. Bila ibu tidak dapat menyusui anaknya, harus digantikan oleh air susu dari orang lain atau susu formula khusus. Susu sapi tidak cocok untuk bayi sampai berusia 1 tahun.
ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan-makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan teknologi masa kini tidak mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman, 31: 14)
ASI mempunyai fungsi yang sangat penting untuk bayi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan penyakit serta menyediakan lingkungan yang ramah bagi bakteri menguntungkan yang disebut flora normal, yang keberadaannya menghambat perkembangan bakteri, virus, dan parasit berbahaya. 

ASI Berkaitan dengan al-Qur’an 

Al-Qur’an lebih dari empat belas abad menganjurkan ASI. Seperti telah dikemukakan yaitu pada QS. Al-Baqarah, 2: 233 “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan susunannya...”, QS, ath-Thalaq, 65: 6 “…kemudian jika ia menyusukan anak-anakmu…. Dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan anak itu”, QS. Al-Qashash, 28: 7 “…susuilah dia…”, dan an-Nisaa’, 4: 23 “lebih menekankan pria yang haram dinikahi, salah satunya ibu dan saudara sepersusuan”.
Dari ketiga ayat al-Qur’an di atas, maka di dalam al-Qur’an telah dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi-bayi / anak-anak mereka selama kurang lebih dua tahun untuk menyempurnakan susunannya dan baru disapih setelah dua tahun.
Dalam beberapa buku tentang sejarah Islam, disana diceritakan bahwa Rasulullah mempunyai ibu susu yang bernama Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad kabilah Hawazin. Beliau diasuh dan dibesarkan sampai usia lima tahun. Hal tersebut sesuai dengan ayat al-Qur’an surat ath-Thalaq, 65: 6 yang telah dijelaskan di atas.
Allah menganjurkan seorang ibu memberikan ASI kepada anaknya karena di dalam ASI terdapat zat-zat gizi dan sari-sari makanan yang sangat dibutuhkan oleh bayi untuk perkembangannya. Selain itu komposisi ASI yang sangat unik dan spesifik yang tidak bisa tertandingi oleh makanan bayi lainnya.
Sebelum orang-orang melakukan penelitian tentang ASI, Allah telah menganjurkan pemberian ASI. Penelitian-penelitian oleh para ilmuwan adalah pembuktian dari apa yang terkandung di dalam al-Qur’an. Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya, biarpun itu sekecil biji dzarrah.
Ciri menakjubkan lain dari Asi adalah fakta bahwa ASI sangat bermanfaat bagi bayi apabila disusui selama dua tahun. Pengetahuan penting ini, hanya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan, telah diwahyukan Allah 14 abad silam yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah, (2): 233. 

ASI Berkaitan dengan Psikologis 

Bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orangtua. Selain itu bayi juga akan merasa aman dan nyaman serta kepercayaan diri juga mengandung arti kasih sayang implisit antara ibu dan anak.
Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orang tuanya.
Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui berkaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
Faktor emosi juga sangat berpengaruh pada produksi / keluarnya ASI. Apabila seorang ibu dalam keadaan stres maka ASI akan sulit keluar dan hal tersebut akan mengganggu bayi dalam mengkonsumsi ASI.
Dalam pemberian ASI, hendaknya sang ayah ikut berperan bukan hanya ibu dan bayi saja. Di sini peran ayah misalnya ketika ibu akan menyusui bayinya, ayah membantu dengan menggendong dan meletakkan dalam pangkuan sang ibu. Selain itu, jika ibu dalam keadaan stres atau tegang atau dalam keadaan emosi yang tidak stabil, maka ayah membantu menenangkan ibu, agar ASI dapat keluar dengan lancar. 

ASI Berkaitan dengan Hormon 

Hormon-hormon yang mempengaruhi ASI dihasilkan oleh kelenjar pituitari anterior kecuali pada oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari posterior. Kelenjar pituitari (hipofisis) adalah suatu struktur berbentuk dan seukuran dengan biji buncis (ercis) kira-kira bergaris tengah 1,3 cm dan terikat pada hipotalamus mill infundibulum.
Meskipun ukurannya kecil, tetapi kelenjar pituitari memegang peranan penting dalam koordinasi kimia tubuh dan sering disebut “master of gland”, karena banyak sekresinya mengontrol kegiatan endokrin lainnya.
Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin dan menjalankan fungsinya di tempat lain. Kelenjar endokrin bermuara langsung ke dalam pembuluh darah, sehingga disebut kelenjar buntu. Hormon berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal reproduksi dan tingkah laku dibawah satu koordinasi dengan sistem saraf.
Hormon mempunyai beberapa sifat, yaitu:
  • Beberapa hormon bereaksi segera, lainnya bereaksi secara lambat.
  • Hormon berikatan dengan reseptor spesifik pada atau di dalam sel target.
  • Hormon mungkin memiliki “pembantu pesan kedua” intraseluler.
Hormon yang paling berperan dalam proses laktasi (sekresi susu( adalah oksitosin. Selama pelahiran, oksitosin, mempertinggi kontraksi otot polos dalam dinding uterus. Setelah bayi lahir, oksitosin akan merangsang pengeluaran susu dari kelenjar susu dalam menjawab rangsang mekanik yang diberikan oleh hisapan bayi. Selain hisapan, bisa berupa mendengar tangisan bayi atau sentuhan genital.
Oksitosin mempengaruhi pengeluaran susu dengan refleks neurodokrin lain. Susu dibentuk oleh sel-sel kelenjar buah dada, disimpan sampai bayi giat menghisap. Rangsangan menyentuh reseptor dalam putting mengawali impuls sensori pada hipotalamus. Jawabannya, sekresi oksitosin dari pituitari sangat cepat. Selanjutnya diangkut darah kelenjar susu, merangsang sel-sel otot polos sekeliling sel-sel kelenjar dan saluran untuk sekresi dan ejeksi air susu. Urutan ini disebut refleks ejeksi air susu. Ejeksi susu mulai dengan pelan, kira-kira 30 detik sampai 1 menit setelah penyusuan mulai. Rangsang isapan yang menghasilkan lepasnya oksitosin juga menghambat lepasnya prolaktin. Ini menyebabkan naiknya sekresi prolaktin, sehingga bisa tetap mempertahankan laktasi.  

ASI berkaitan dengan Pencernaan 

Pencernaan berkaitannya dengan zat makanan, zat makanan yang diperlukan tubuh ada 6 macam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Berdasarkan keperluan tubuh dibedakan menjadi 2 kelompok, zat makanan makro (zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah besar, berupa air, karbohidrat, lemak dan protein) dan zat makanan mikro (zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, berupa vitamin dan mineral).
Kolostrum mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI mature (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum akan membantu sistem pencernaan bayi yang baru lahir karena belum berfungsi secara optimal. ASI juga mengandung mineral yang dapat mencegah karies.
Kandungan karbohidrat pada ASI yang relatif tinggi terutama laktosa diperlukan untuk pertumbuhan sistem syaraf, selain itu juga diperlukan untuk absorbsi protein dan pertumbuhan bakteri usus. Laktosa melalui proses fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Suasana asam dalam usus bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang menyebabkan diare dan memacu pertumbuhan mikroorganisme yang berperan dalam sintesis vitamin B kompleks. Kondisi inilah yang menyebabkan Allah menitipkan ASI kepada setiap ibu hamil.
Meskipun disebut sebagai susu, ASI sebenarnya bagian terbesarnya tersusun atas air. Ini adalah ciri terpenting. Sebab selain makanan, bayi juga membutuhkan cairan dalam bentuk air. Keadaan yang benar-benar bersih dan sehat mungkin tidak bisa dimunculkan pada air atau bahan makanan, selain pada ASI.
Karena ASI berupa cairan dan bayi belum mempunyai gigi maka untuk proses pencernaannya tanpa pencernaan secara mekanik tetapi langsung secara kimiawi dengan bantuan enzim.
Jadi, pada ASI terdapat makanan makro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar, sehingga dapat dikatakan bahwa ASI adalah makanan yang sangat cocok dan tepat untuk bayi karena komposisinya yang lengkap dan telah memenuhi kebutuhan gizi bayi.
Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembangan organ.
Sang ibu bukanlah yang memutuskan untuk membuat ASI, sumber zat makanan terbaik bagi bayi yang memerlukan makanan di dalam tubuhnya. Sang ibu bukan pula yang menentukan beragam kadar gizi yang dikandung ASI. Allah maha Kuasalah yang mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup dan memperlibatkan kasih sayang kepadanya, yang menciptakan ASI untuk bayi di dalam tubuh ibu.  

ASI Berkaitan dengan Enzim

Enzim merupakan suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator yang sangat penting bagi reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh. Dengan adanya enzim, suatu reaksi kimia menjadi hemat energi dan berlangsung cepat. Katalisator adalah suatu zat yang mempengaruhi kecepatan reaksi tanpa mempengaruhi hasil akhirnya.
Pembentukan enzim pencernaan bayi baru sempurna pada usia kurang lebih 5 bulan. ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan, yaitu :
  • Lipase : untuk menguraikan lemak
  • Amylase : untuk menguraikan karbohidrat
  • Protease : untuk menguraikan protein
Dengan adanya enzim, maka pencernaan makanan ASI dapat berjalan dengan sempurna. Sehingga ASI dapat dengan mudah dicerna oleh bayi. 

ASI Berkaitan dengan Ekskresi 

Ekskresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme sel yang sudah tidak digunakan oleh tubuh dan dikeluarkan bersama urine, keringat atau udara pernafasan.
Zat makanan yang banyak dikonsumsi manusia adalah karbohidrat, protein dan lemak. Setelah mengalami metabolisme dalam tubuh, zat-zat tersebut akan menghasilkan energi dan zat sisa.
Alat eskresi pada manusia berupa ginjal, kulit, paru-paru dan hati. Organ-organ tersebut mengeluarkan sisa metabolisme dari dalam tubuh. Ginjal mengeluarkan air, NH3. urea dan asam urat. Kulit mengeluarkan air, urea dan garam tertentu dalam keringat. Paru-paru mengeluarkan gas CO2 dan H2O. Hati mengeluarkan zat warna empedu.
ASI dapat dengan mudah dicerna oleh ginjal bayi yang belum sempurna, karena mengandung enzim pencernaan, sehingga sisa metabolisme yang dieksresikan (dikeluarkan) melalui ginjal hanya sedikit dan kerja ginjal pun akan semakin ringan. Lain halnya jika bayi diberi susu formula atau susu sapi maka yang terjadi adalah ginjal akan bekerja keras untuk membuang kelebihan zat gizi yang tidak bisa diserap. Hal ini nampak dari pipis dan berak pada bayi masih berbau dengan frekuensi yang lebih sering. 

ASI berkaitan dengan Perkembangan Otak 

ASI mengandung DHA/AA dalam kadar tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi, terutama sebagai pembentuk sel-sel otak. Selain DHA/AA, Omega-3 sangat penting untuk perkembangan. Jadi, kandungan dalam ASI sangat berperan dalam perkembangan otak dan kecerdasan bayi.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan otak bayi yang diberi ASI lebih baik daripada yang tidak diberi ASI (susu buatan pabrik). Seorang ahli dari universitas Kentucky, James W. Anderson, membuktikan bahwa IQ (tingkat kecerdasan) bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini ditetapkan bahwa ASI yang diberikan hingga 6 bulan bagi kecerdasan bayi, dan bayi yang disusui kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat pada IQ.
IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9,5 tahun mencapai 12,9 point lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.
Dari penelitian di Denmark menemukan bahwa bayi yang diberikan ASI sampai lebih dari 9 bulan akan dewasa yang lebih cerdas. 

ASI berkaitan dengan Antibodi 

Antibodi atau Immunoglobin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel B) akibat kontak dengan antigen. Antigen atau imunogen adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan imun spesifik pada manusia dan hewan. Antibodi mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik.
Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi dari ASI sebenarnya, khususnya immunoglobulin A (IgA), karena memang IgA banyak ditemukan dalam cairan / sekret daripada dalam serum. IgA membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan.
Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi daripada penyakit. Hal ini dikarenakan ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, dan enzim untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan dari ibu ke bayi. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI akan terlindung dari serangan penyakit sistem pernafasan dan pencernaan (diare) dan ASI mampu mengurangi infeksi pada bayi. Hal itu disebabkan zat-zat kekebalan tubuh di dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan serangan penyakit.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Universitas Bristol mengungkap bahwa diantara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya.
-dari berbagai sumber-
Share:

Join this Site

Google+

Diberdayakan oleh Blogger.