Pembelajaran Matematika dengan Tutor Sebaya dalam Kelompok Kecil

20 November 2014

Pembelajaran Matematika dengan Tutor Sebaya dalam Kelompok Kecil

Menurut H.W Fowler matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Fungsi matematika untuk menyederhanakan kehidupan manusia sudah jarang kita rasakan. Alih-alih menyederhanakan matematika lebih sering dipandang sebagai sebuah pelajaran yang menakutkan, abstrak dan sulit. Peserta didik biasa tidak mengharap untuk memahami matematika, mereka mengharap sederhana menghafalnya dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari secara mekanis. Matematika yang dipelajari di sekolah hanya mempunyai sedikit atau tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia nyata. Hal ini dipengaruhi oleh pola pengajaran yang lebih menekankan pada hafalan dan Kecepatan berhitung. Akibatnya, seorang peserta didik akan memandang kebenaran solusi matematika sebagai sebuah kebenaran yang dicangkokkan kedalam kepala, bukan hasil dari pembuktian yang dapat ditelusuri oleh dirinya sendiri. Bisa dibayangkan apa jadinya ketika seorang peserta didik harus menghafal notasi-notasi matematis tanpa mengerti artinya.
Di negara yang sudah maju, percobaan menggunakan peserta didik sebagai guru atau tutor sebaya telah berlangsung dan menunjukkan keberhasilan. Di Indonesia hal ini sedang diujicobakan. Dasar pemikiran tentang tutor sebaya adalah peserta didik yang pandai dapat memberikan bantuan kepada peserta didik yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman sekelasnya di sekolah dan/atau kepada teman sekelasnya di luar kelas.
Hisyam Zaini (2002:60) mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu peserta didik dalam mengajarkan materi atau penyelesaian soal kepada teman-temannya (belajar mempresentasikan idenya).
Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di sekolah, maka:
  1. Beberapa peserta didik yang pandai disuruh mempelajari suatu topik
  2. Guru memberi penjelasan umum tentang topik yang akan dibahasnya
  3. Kelas dibagi dalam kelompok dan peserta didik yang pandai disebar ke setiap kelompok untuk memberikan bantuannya
  4. Guru membimbing peserta didik yang perlu mendapat bimbingan khusus
  5. Jika ada masalah yang tidak terpecahkan, peserta didik yang  pandai meminta bantuan kepada guru
  6. Guru mengadakan evaluasi.
Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya diluar kelas, maka:
  1. Guru menunjuk peserta didik yang pandai untuk memimpin kelompok belajar diluar kelas
  2. Tiap peserta didik disuruh bergabung dengan peserta didik yang pandai itu, sesuai dengan minat, jenis kelamin, jarak tempat tinggal, dan pemerataan jumlah anggota kelompok
  3. Guru memberi tugas yang harus dikerjakan para peserta didik yang di rumah
  4. Pada waktu yang telah ditentukan hasil kerja kelompok dibahas di kelas
  5. Kelompok yang berhasil baik diberi penghargaan
  6. Sewaktu-waktu guru berkunjung ke tempat peserta didik berdiskusi
  7. Tempat diskusi dapat berpindah-pindah (bergilir).
Jika model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil ini diterapkan, maka langkahnya sebagai berikut:
  1. Pilih materi/ soal yang memungkinkan dapat dipelajari/ dikerjakan peserta didik secara mandiri. Materi pelajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi)
  2. Bagilah para peserta didik menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Peserta didik yang pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya
  3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari suatu sub materi. Setiap kelompok dipandu olah peserta didik yang pandai sebagai tutor sebaya
  4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun diluar kelas
  5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi atau penyelesaian soalnya di depan kelas, sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama
  6. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai dengan urutan sub materi atau penyelesaian soalnya, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman peserta didik yang perlu diluruskan.
Dengan diterapkannya model pembelajaran tutor sebaya, diharapkan peserta didik akan lebih memahami materi-materi dalam pelajaran matematika. Karena dengan model pembelajaran tutor sebaya ini peserta didik tidak akan merasa malu bertanya atau takut bertanya kepada temannya sendiri seandainya ada yang kurang difahami.
Pada dasarnya, yang menjadi permasalahan bukan matematikanya, karena matematika sendiri memiliki spectrum yang luas, mulai dari perhitungan yang sederhana hingga persamaan dengan orde tak hingga, yang dapat dimanfaatkan dari perhitungan pengeluaran per bulan oleh ibu-ibu rumah tangga hingga meluncurkan roket ke bulan. tetapi masalahnya ada pada bagaimana memberikan matematika yang penting bagi tiap individu.
Dengan melibatkan peserta didik untuk berperan dalam kegiatan pembelajaran, berarti kita mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik secara penuh. Dalam konsep kompetensi, kita harus mampu mendeteksi kemampuan minimal peserta didik, untuk mencapai suatu indikator-indikator yang dilahirkan oleh kompetensi-kompetensi dasar tadi.
Share:

Google+

Diberdayakan oleh Blogger.