28 November 2014

PENILAIAN PORTOFOLIO

Definisi portofolio banyak dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:
  1. Poulson (1991: 60) mendefinisikan portofolio sebagai kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih, kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi kriteria seleksi, kriteria penilaian, dan bukti refleksi diri.
  2. Menurut Gronland (1998: 159) dalam Elin Rosini, portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang tergantung pada keluasan tujuan apa yang harus tersurat, tergantung pada subjek dan tujuan penggunaan portofolio. Contoh pekerjaan siswa ini memberikan dasar bagi pertimbangan kemajuan belajarnya dan dapat dikomunikasikan pada siswa, orang tua, serta pihak lain yang berkepentingan. Portofolio dapat digunakan untuk mendokumentasikan perkembangan siswa. Karena menyadari proses belajar sangat penting untuk keberhasilan hidup, portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat kemajuan mereka sendiri terutama dalam hal perkembangannya, sikap ketrampilan, dan ekspresinya terhadap sesuatu.
Secara umum, portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa atau catatan mengenai siswa yang didokumentasikan secara baik dan teratur. Portofolio dapat berbentuk tugas-tugas yang dikerjakan siswa, jawaban siswa atas pertanyaan guru, catatan hasil observasi guru, catatan hasil wawancara guru dengan siswa, laporan kegiatan siswa dari karangan atau jurnal yang dibuat siswa. Dengan demikian yang dimaksud portofolio adalah suatu kaidah yang digunakan oleh guru untuk mengumpulkan bukti pencapaian peserta didik dalam satu masa tertentu. Dalam hal ini portofolio merupakan instrumen penilaian kompetensi siswa atau menilai hasil belajar siswa. Portofolio yang demikian disebut portofolio sebagai penilaian. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian berdasarkan kebijakan KBK 2002 adalah:
  1. Valid, artinya penilaian harus memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa
  2. Mendidik, artinya penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa
  3. Berorientasi pada kompetensi, artinya penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
  4. Adil, artinya penilaian terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial ekonomi, budaya, bahasa dan gender.

Manfaat Penggunaan Portofolio Antara Lain:

  1. Menurut Berenson & Carter (1995: 184) mengemukakan manfaat portofolio sebagai berikut : mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki, mendorong tanggung jawab siswa untuk belajar, membangkitkan kepercayaan diri dan motivasi untuk belajar
  2. Menurut Gronlund (1998: 158) mengemukakan keuntungan portofolio sebagai berikut: kemajuan siswa dapat terlihat dengan jelas, dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa bagi siswa itu sendiri, orang tua dan lainnya.
  3. Menurut Depdiknas, 2003:7; manfaat portofolio adalah portofolio membantu pihak luar untuk menilai program pembelajaran yang bersangkutan, portofolio memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan aktif dalam penilaian hasil belajar, portofolio membantu guru dalam mengambil keputusan tentang pembelajaran atau perbaikan pembelajaran.

Kelebihan Dan Keterbatasan Penilaian Portofolio

Kelebihan atau kekuatan portofolio antara lain:
  • Memungkinkan pendidik menilai keterampilan atau kecakapan peserta didik
  • Mendorong kolaborasi (komunikasi dan hubungan) antara peserta didik dan pendidik
Adapun kelemahannya antara lain:
  • Memerlukan waktu yang relatif panjang dan segera
  • Pendidik harus tekun, sabar dan terampil.
Share:

27 November 2014

TAFSIR SURAH AL-BALAD AYAT 10-17

SURAH AL-BALAD AYAT 10-17
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ {10} فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ {11} وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ {12} فَكُّ رَقَبَةٍ {13} أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ {14} ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ {17}
10) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan
11) Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar
12) Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
13) (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan
14) Atau memberi makan pada hari kelaparan
17) Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.[1]
AL-MUFRADAT
(البلد)        al-Balad, Allah bersumpah dengan pada ayat ini, terulang dalam al-Qur’an sebanyak 8 kali, empat diantaranya bergandeng dengan kata (هَذَا) hadza/ini yang jika demikian selalu yang dimaksud adalah kota Makkah.
(حِلّ)         Hill, berakar dari makna melepas ikatan yang berkembang makna-makna lain seperti bermukim di satu tempat.
(والد)         Walid, diterjemahkan Bapak atau ayah
(كبد)        Kabid, dengan kasrah pada huruf ba’ atau huruf (i) sesudah (ba) berarti hati, sedang (كبد) kabad dengan fathah pada huruf ba’ atau huruf (a) sesudah (b) diartikan sebagai penyakit yang melanda hati.
(يَحسَبُ)     Yahsabu / menduga
(اَهْلكت)    Ahlaktu terambil dari kata (هلك) halaka yang berarti sesuatu tanpa manfaat.
(هديناه)      Hadainahu terambil dari kata (الهدى) al-huda pada mulanya digunakan dalam arti batu besar yang terdapat di laut atau sungai dan yang digunakan sebagai rambu guna menghindari bahaya.
(النجدين)    An-Najdain, bentuk tunggalnya adalah (نجد) najd yang berarti dataran yang tinggi lagi terbentang luas dan jelas.
(اقتحم)      Iqtahama terambil dari kata (قحمه) qahmah yang berarti keras, sulit.
(فكّ)         Fakk terambil dari kata  فكّ(fakka) yang berarti membuka
(رقبة)         Raqabah pada mulanya berarti leher, dipahami dalam arti hamba sahaya.
(مقربة)       Maqrabah terambil dari kata (قرب) qurb yang berarti dekat.
(مسكين)    Miskin terambil dari kata (سكن) sakana berarti menetap, tidak bergerak, tunduk, hina dan lemah.
(متربه)        Matarabah terambil dari kata  تراب(turab) yang berarti tanah
(تواصوا)      Tawashau terambil dari kata (وصّى- وصيه) wassha – washiyyah, yang berarti tanah yang dipenuhi yakni bersinambung tumbuhannya.
(صبر)        Shabr terdiri dari huruf-huruf (صـ) shad, (ب) ba’, dan (ر) ra’, maknanya berkisar pada tiga hal, pertama menahan, kedua ketinggian sesuatu, ketiga jenis batu.[2]

PENJELASAN
Ayat 1-2 menjelaskan betapa agung dan mulia Kota Makkah di sisi Allah dan bahwa apapun yang terjadi disana –walaupun terjadi pelanggaran dan penganiayaan atas nabi-Nya yang agung itu– namun Kota Makkah tetap mulia, sehingga setiap orang yang berkunjung atau berada disana berkewajiban untuk menghormatinya.
Memang terkadang, perlakuan tidak wajar yang diterima oleh seorang dari penduduk satu kota atau negara, menjadikan ia enggan berkunjung lagi ke negara itu, bahkan meremehkan kota tersebut. Tidak demikian seharusnya sikap terhadap kota Makkah. Karena Makkah telah dijadikan Allah sebagai kota suci dan agung.Ayat ke-3 Allah bersumpah demi ayah dan anaknya, generasi demi generasi, Ayah yang ditonjolkan disini karena anak dinisbahkan kepada Ayahnya, sehingga namanya digabung dengan nama ayahnya.
Ayat ke-4 berpesan kepada Nabi Muhammad Saw, bahwa apa yang beliau alami di kota suci itu, merupakan bagian dari penderitaan dan susah payah dalam memenangkan perjuangan hidup sejati serta mempertahankan nilai-nilai agama dan bahwa perjuangan adalah kodrat seluruh manusia, generasi demi generasi.
Ayat ke-5-6 menggambarkan keangkuhan manusia itu, ketika ia berkata telah menghabiskan secara sia-sia harta yang banyak sekali.
Keangkuhan pertama tercermin pada kata Lubadan yang mengisyaratkan bahwa pemberiannya selalu melimpah dan amat banyak tidak memberi dalam bentuk kecil-kecil. Sedang keangkuhan kedua dilakukan oleh ucapan (اهلكت) yang berarti menghabiskan secara sia-sia. Ucapan tersebut menunjukkan bahwa yang bersangkutan beranggapan, bahwa walaupun banyak yang telah dikeluarkannya namun itu semua tidak berarti baginya dan tidak membawa manfaat sedikit pun.[3]
Ayat ke-7-9 menjelaskan bahwa mata, lidah dan bibir yang disebut disini bukan indra atau potensi lain yang dianugerahkan oleh Allah, agaknya untuk menyesuaikan dengan sikap manusia tercermin dalam ayat-ayat yang lalu. Dengan memanfaatkan mata (mata kepala atau mata hati) manusia akan sampai kepada kesimpulan bahwa ada yang Maha Kuasa, sehingga dengan demikian ia tidak akan menduga bahwa tidak ada yang dapat mengatasi dan mengalahkannya. Dengan memanfaatkan bibir dan lidah dengan baik, pasti ia tidak akan mengucapkan kalimat tidak wajar yang seperti diucapkan manusia yang melampaui batas.
Ayat 10, Sayyid Qutb ketika menafsirkan ayat 8 surah asy-Syams menjelaskan bahwa dari celah-celah ayat ini (demikian juga ayat 10 surah yang ditafsirkan ini) tercermin pandangan Islam tentang manusia dalam segala aspeknya. Manusia adalah makhluk yang memiliki gabungan tabiat, potensi dan arah yakni bahwa gabungan penciptaannya dari tanah dan ruh Ilahi menjadikannya memiliki potensi yang sama dalam kebaikan dan keburukan. Dia dapat membedakan antara keduanya dan juga mampu mengarahkan dirinya kepada kebaikan dan keburukan, dan bahwa kemampuan tersebut terdapat dalam dirinya dan hal tersebut dilukiskan al-Qur’an, sekali dengan ucapan “Dia mengilhamkan kepada dirinya”, dan di lain kali dengan “Kami telah menunjukkannya dua jalan”.
Ayat 11-12 mengajak dan mendorong semua manusia agar memilih jalan kebaikan. Allah berfirman: Maka tidakkah sebaiknya ia bangkit dengan penuh semangat dan kesungguhan untuk terjun menempuh jalan yang mendaki lagi sukar, yakni jalan kebaikan itu? Ayat berikutnya menggambarkan agung dan mulianya jalan itu dengan menyatakan: Apakah yang menjadikanmu mengetahui apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Engkau tidak dapat membayangkan betapa keagungan dan hakikatnya.
Ayat ke-13 menjelaskan bahwa bentuk perbudakan yaitu dengan penjajahan. Dalam bukunya al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah beliau menulis, perbudakan dalam bentuk lama, dimana seseorang memiliki seorang manusia sebagai budaknya, boleh dikatakan telah punah, sebagaimana diharapkan oleh islam, tetapi masa kini, yang lebih berbahaya terhadap kemanusiaan, yakni perbudakan terhadap bangsa-bangsa dalam pikiran-pikiran mereka, harta benda, kekuasaan serta kemerdekaan negara-negara mereka.
Ayat ke-14 setelah membebaskan perbudakan maka langkah kedua adalah upaya menyebarluaskan keadilan sosial yakni dengan firman-Nya: Pemberian makanan pada hari kelaparan. Pemberian makanan terletak paling tidak 2 sisi, pertama pemberian makanan terjadi pada situasi (مَسْغَبَةْ) terambil dari kata سغب (saghiba) yang berarti lapar disertai dengan keletihan, dan atau dahaga yang disertai kepayahan. Ia adalah masa krisis pangan yang melanda satu masyarakat.
Kesulitan kedua, disyaratkan oleh penggunaan kata (اطعم) ith’am yang memberi kesan, bahwa makanan yang diberikan itu adalah milik si pemberi bukan si penerima. Kesan ini lebih kuat lagi dengan adanya bacaan ath’ama/memberi makan bukan ith’am. Memang adalah merupakan jalan mendaki, bila anda memberi makan orang lain pada saat paceklik, sedang anda sendiri membutuhkan makan itu.
Ayat ke 15-16 menjelaskan siapa yang seharusnya mendapat prioritas untuk memperoleh makan itu. Mereka adalah anak yatim, anak belum dewasa yang telah wafat ayahnya dan yang serupa dengan mereka yang ada hubungan kedekatan atau orang miskin yang sangat fakir yang sangat membutuhkan bantuan.
Pelayanan kepada anak yatim dan kaum terlantar –walaupun dalam redaksi ditafsirkan terbatas pada pemberi makan– namun pada hakikatnya hal tersebut hanyalah sebagai salah satu contoh dari pelayanan dan perlindungan yang diharapkan. Mereka juga membutuhkan pendidikan, pelayanan kesehatan dan rasa aman.[4]
Ayat ke-17-18, kata اَلْمَيْمَنَةْ, terambil dari kata (يمين) yamin, yang biasa diartikan kanan. Bahasa Arab menggunakan kata tersebut untuk beberapa makna al-berkat, yakni kebajikan yang melimpah, kekuatan dan digunakan juga untuk optimisme.
Paling tidak ada 4 makna dan kesan yang ditemukan dalam al-Qur’an ketika Kitab Suci ini menggunakan kata Yamin.
1)      Sisi baik dan agung (QS. Maryam : 52)
2)      Kekuasaan atau kekuatan (QS. Az-Zumar : 67)
3)      Kesungguhan sebagaimana yang digunakan menunjuk kepada sumpah yang menggunakan kata yamin atau aiman (QS. Al-Baqarah : 22)
4)      Lambang kebaikan dan kenikmatan. Mereka yang pada hari kemudian, diberi kitab amalnya dengan tangan kanannya atau dari sisi kanannya, maka pertanda bahwa ia akan memperoleh kemudahan dalam hisab (pemeriksaan dan pertanggung jawaban amal). (QS. Al-Insyuqaq : 7-8).
Ayat 19-20, kata (كفروا) kafaru terambil dari kata كفر (kafara) yang berarti menutup; petani dan malam misalnya dilukiskan akar kata tersebut. Karena malam menutup pandangan akibat kegelapannya, sedangkan petani menutup benih dengan menanamnya di tanah, Syeikh M. Abduh menyimpulkan arti kufur dalam pemakaian al-Qur’an sebagai “segala aktivitas yang bertentangan dengan tujuan kehadiran agama”.
Kata (آيات) ayat bentuk tunggalnya (آية) ayah / tanda, al-Qur’an menggunakan kata ini dalam berbagai arti, seperti tanda, mukjizat, al-Qur’an, pengajaran, dan fenomena alam. Al-Qur’an adalah ayat karena ia adalah bukti kebenaran yang datang dari Allah. Fenomena alam juga merupakan ayat, karena keberadaan, keserasian dan sistem kerjanya yang amat unik dan menakjubkan merupakan tanda dan bukti keesaan, kekuasaan dan wujud Tuhan Yang Maha Esa.[5]

KESIMPULAN
Surah ini mengandung isyarat tentang kedudukan mulia Kota Makkah sekaligus menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan kodrat serta potensi menghadapi berbagai tantangan. Salah satu bentuk perjuangan tersebut adalah perjuangan mengangkat taraf hidup orang lemah seperti anak-anak yatim. Tujuan utama surat ini adalah menunjukkan betapa manusia sangat lemah dan bahwa kuasa dan kekuatan hanya dimiliki oleh Allah Swt.


[1] Abduh, al-Ustadz Muhammad, Tafsir Juz ‘Amma, Sinar Baru, Bandung, 1993, hlm. 167
[2] Shihab, Quraish, M., Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Lentera Hati, Jakarta, 2002, hlm. 261-265
[3] Ibid., hlm. 271
[4] Ibid., hlm. 275
[5] Ibid., hlm. 280
Share:

26 November 2014

PERILAKU KEAGAMAAN DALAM PENDIDIKAN

Pada hakekatnya, Pendidikan Agama hendaklah dapat mewarnai kepribadian anak sehingga agama benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi pengendali dalam hidupnya dikemudian hari untuk pembinaan pribadi. Pendidikan yang baik juga bisa dikatakan pendidikan yang bisa memberikan sumbangan pada semua bidang pertumbuhan individu. Diantaranya adalah dalam bidang pertumbuhan spiritual dan moral. Pendidikan yang baik dapat menolong individu, menguatkan iman, aqidah dan pengetahuannya terhadap Tuhannya dan dengan hukum-hukum, ajaran-ajaran dan moral agamanya, begitu juga membentuk keinginan yang betul dalam melaksanakan tuntutan-tuntutan iman yang kuat kepada Allah dan pemahaman yang sadar terhadap ajaran-ajaran agama, dan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari dan pada seluruh bentuk tingkah lakunya dan dengan hubungan-hubungannya dengan Tuhannya, dengan orang-orang lain dan dengan seluruh makhluk lain[1].
Berbicara mengenai pendidikan, khususnya Pendidikan Agama, saat ini dengan menatap ke abad 21 millennium ke-3 dan era globalisasi atau pasar bebas, terjadi dua hal yang paradoks atau bertentangan. Satu sisi keadaan masyarakat kita sedang bobrok, yang tidak lepas dari kegagalan pendidikan bangsa (bukan hanya pendidikan di sekolah).
Secara garis, besar misi utama Agama Islam adalah memberi petunjuk (hudan) kepada umat manusia untuk kehidupan yang baik dan menghindari perbuatan yang jelek.
Sering disebutkan bahwa misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw adalah mewujudkan akhlaq yang mulia. 
إِنَّمَـا بُعِثْتُ  ِلأُ تَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ 
Ajaran tersebut meliputi hubungan antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan makhluk lain atau lingkungan sekitarnya.[2] Pada dasarnya, agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu. Secara umum norma-norma tersebut menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan dengan kenyataan agama yang dianutnya.[3]
Pendidikan agama tersebut dapat menolong individu menanamkan nilai-nilai aqidah, akhlaq dan ibadah yang sesuai dengan hukum-hukum, ajaran-ajaran dan moral agama Islam dan juga membentuk keinginan yang besar dalam melaksanakan tuntutan-tuntutan keimanan yang kuat kepada Allah dan pemahaman yang sadar terhadap ajaran-ajaran agama serta nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari pada seluruh bentuk tingkah lakunya yang berhubungan dengan Tuhan, orang lain dan seluruh makhluk lain.[4]
Pendidikan Agama di sekolah sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik, karena pendidikan agama mempunyai dua aspek terpenting.
Aspek pertama dari pendidikan agama, adalah yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian. Anak didik diberi kesadaran kepada adanya Tuhan, lalu dibiasakan melakukan perintah-perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-larangan Nya. Dalam hal ini anak didik dibimbing agar terbiasa kepada peraturan yang baik, yang sesuai dengan ajaran agama. Seperti yang diberikan oleh keluarga yang berjiwa agama. Sedangkan pendidikan agama di sekolah harus juga melatih anak didik untuk melakukan ibadah yang diajarkan dalam agama[5]
Namun pada umumnya, kita telah mengetahui bahwa anak semenjak dilahirkan sampai menjadi orang dewasa menjadi orang yang dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri dalam masyarakat, harus mengalami perkembangan. Baik atau buruknya hasil perkembangan anak itu terutama bergantung kepada pendidikan (pengaruh-pengaruh) yang diterima anak itu dari berbagai lingkungan pendidikan yang dialaminya.[6]
Aspek kedua dari pendidikan agama adalah yang ditujukan kepada pikiran yaitu pengajaran agama itu sendiri. Kepercayaan kepada Tuhan tidak akan sempurna bila isi ajaran-ajaran Tuhan itu tidak diketahui betul-betul. Anak didik harus ditunjukkan apa yang disuruh, apa yang dilarang, apa yang boleh, apa yang dianjurkan melakukannya dan apa yang dianjurkan meninggalkannya menurut ajaran agama.[7]
Oleh karena itu perkembangan tersebut akan terlihat dalam berbagai sikap dan tingkah laku.
Saat ini melihat kenyataan yang hidup dalam masyarakat kaum pelajar, kita mendapat kesan bahwa agama tidak lagi menjadi pengatur, pengontrol sikap dan tindakan mereka dalam hidup. Mereka dibesarkan untuk memenuhi otaknya dengan ilmu pengetahuan, melatih kecakapan dan ketrampilan dalam berbagai bidang akan tetapi mentalnya dibiarkan tidak tumbuh, jiwanya ditinggalkan kosong dari kepercayaan kepada tuhan dan moralnya diserahkan kepada keadaan lingkungan. Sehingga menjadikan mereka semakin jauh dari agama, inilah yang kita rasakan sekarang.[8]

[1] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992), hlm. 35
[2] Qodri A. Azizi, Arah Pendidikan Agama, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003) hlm. 60.
[3] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003) hlm. 240
[4] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam,  hlm. 35
[5] Zakiyah Darajat, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV. Haji Mas Agung. 1988), hlm. 129
[6] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000), hlm. 123
[7] Zakiyah Darajat, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV. Haji Mas Agung, 1998), hlm. 130
[8] Zakiyah Darajat, Pendidikan Agama dan Pembinaan Mental, (Jakarta: PT. Bulan Bintang 1975), hlm. 36-37.
Share:

20 November 2014

Pembelajaran Matematika dengan Tutor Sebaya dalam Kelompok Kecil

Menurut H.W Fowler matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Fungsi matematika untuk menyederhanakan kehidupan manusia sudah jarang kita rasakan. Alih-alih menyederhanakan matematika lebih sering dipandang sebagai sebuah pelajaran yang menakutkan, abstrak dan sulit. Peserta didik biasa tidak mengharap untuk memahami matematika, mereka mengharap sederhana menghafalnya dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari secara mekanis. Matematika yang dipelajari di sekolah hanya mempunyai sedikit atau tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia nyata. Hal ini dipengaruhi oleh pola pengajaran yang lebih menekankan pada hafalan dan Kecepatan berhitung. Akibatnya, seorang peserta didik akan memandang kebenaran solusi matematika sebagai sebuah kebenaran yang dicangkokkan kedalam kepala, bukan hasil dari pembuktian yang dapat ditelusuri oleh dirinya sendiri. Bisa dibayangkan apa jadinya ketika seorang peserta didik harus menghafal notasi-notasi matematis tanpa mengerti artinya.
Di negara yang sudah maju, percobaan menggunakan peserta didik sebagai guru atau tutor sebaya telah berlangsung dan menunjukkan keberhasilan. Di Indonesia hal ini sedang diujicobakan. Dasar pemikiran tentang tutor sebaya adalah peserta didik yang pandai dapat memberikan bantuan kepada peserta didik yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman sekelasnya di sekolah dan/atau kepada teman sekelasnya di luar kelas.
Hisyam Zaini (2002:60) mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu peserta didik dalam mengajarkan materi atau penyelesaian soal kepada teman-temannya (belajar mempresentasikan idenya).
Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di sekolah, maka:
  1. Beberapa peserta didik yang pandai disuruh mempelajari suatu topik
  2. Guru memberi penjelasan umum tentang topik yang akan dibahasnya
  3. Kelas dibagi dalam kelompok dan peserta didik yang pandai disebar ke setiap kelompok untuk memberikan bantuannya
  4. Guru membimbing peserta didik yang perlu mendapat bimbingan khusus
  5. Jika ada masalah yang tidak terpecahkan, peserta didik yang  pandai meminta bantuan kepada guru
  6. Guru mengadakan evaluasi.
Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya diluar kelas, maka:
  1. Guru menunjuk peserta didik yang pandai untuk memimpin kelompok belajar diluar kelas
  2. Tiap peserta didik disuruh bergabung dengan peserta didik yang pandai itu, sesuai dengan minat, jenis kelamin, jarak tempat tinggal, dan pemerataan jumlah anggota kelompok
  3. Guru memberi tugas yang harus dikerjakan para peserta didik yang di rumah
  4. Pada waktu yang telah ditentukan hasil kerja kelompok dibahas di kelas
  5. Kelompok yang berhasil baik diberi penghargaan
  6. Sewaktu-waktu guru berkunjung ke tempat peserta didik berdiskusi
  7. Tempat diskusi dapat berpindah-pindah (bergilir).
Jika model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil ini diterapkan, maka langkahnya sebagai berikut:
  1. Pilih materi/ soal yang memungkinkan dapat dipelajari/ dikerjakan peserta didik secara mandiri. Materi pelajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi)
  2. Bagilah para peserta didik menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Peserta didik yang pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya
  3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari suatu sub materi. Setiap kelompok dipandu olah peserta didik yang pandai sebagai tutor sebaya
  4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun diluar kelas
  5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi atau penyelesaian soalnya di depan kelas, sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama
  6. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai dengan urutan sub materi atau penyelesaian soalnya, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman peserta didik yang perlu diluruskan.
Dengan diterapkannya model pembelajaran tutor sebaya, diharapkan peserta didik akan lebih memahami materi-materi dalam pelajaran matematika. Karena dengan model pembelajaran tutor sebaya ini peserta didik tidak akan merasa malu bertanya atau takut bertanya kepada temannya sendiri seandainya ada yang kurang difahami.
Pada dasarnya, yang menjadi permasalahan bukan matematikanya, karena matematika sendiri memiliki spectrum yang luas, mulai dari perhitungan yang sederhana hingga persamaan dengan orde tak hingga, yang dapat dimanfaatkan dari perhitungan pengeluaran per bulan oleh ibu-ibu rumah tangga hingga meluncurkan roket ke bulan. tetapi masalahnya ada pada bagaimana memberikan matematika yang penting bagi tiap individu.
Dengan melibatkan peserta didik untuk berperan dalam kegiatan pembelajaran, berarti kita mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik secara penuh. Dalam konsep kompetensi, kita harus mampu mendeteksi kemampuan minimal peserta didik, untuk mencapai suatu indikator-indikator yang dilahirkan oleh kompetensi-kompetensi dasar tadi.
Share:

Pembelajaran Tutor Sebaya Dalam Pembelajaran Matematika menurut MC. Keachie

Kenyataannya banyak peserta didik yang sulit untuk mengerti pelajaran matematika, selain itu mereka juga takut bertanya pada guru. Oleh karena itu, model pembelajaran tutor sebaya perlu digunakan dalam pembelajaran matematika. Dengan penggunaan model pembelajaran tutor sebaya ini, diharapkan peserta didik mampu mengerti materi matematika yang diajarkan.
Kegiatan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran tutor sebaya akan menimbulkan perilaku peserta didik yang aktif dan kritis serta dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. MC. Keachie mengemukakan 6 aspek terjadinya keaktifan peserta didik.
  1. Partisipasi peserta didik dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran.
  2. Tekanan pada aspek afektif dalam belajar.
  3. Partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar peserta didik.
  4. Kekompakan kelas sebagai kelompok belajar.
  5. Kebebasan belajar yang diberikan pada peserta didik, kesempatan untuk berbuat serta mengambil keputusan penting dalam proses pembelajaran.
  6. Pemberian waktu untuk menanggulangi masalah pribadi peserta didik, baik berhubungan maupun tidak berhubungan dengan pembelajaran.
Share:

Motivasi Belajar dalam Pendidikan

Sejak awal dikembangkannya ilmu pengetahuan, banyak dibahas mengenai bagaimana mencapai hasil belajar yang efektif. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. Motivasi belajar adalah sebuah ciri pribadi, orangtua dan guru bisa membantu mengembangkan sebagaimana mereka juga mungkin memelihara keteguhan hati atau kepercayaan diri dalam diri seorang anak. Terkadang pertumbuhan motivasi belajar tidak terlihat atau tampak terhenti dalam jangka waktu yang lama.[1]
Smith (dalam Good, 1980) yang menulis khusus analisis kegiatan belajar telah mengemukakan definisi tentang belajar sebagai berikut:[2] 
Learning refers to changes in behavior, changes which are attributable to aset of antecedent conditions categorized as growth, physiology, perception, orang motivation. In addition, the changes in performance, which we define as learning, are relatively speaking, permanent rather than transitory; they persist for some time, if only for a few minutes. 
Dalam definisi yang dikemukakan oleh Smith tersebut dapat dijumpai dua istilah penting sebagai hasil belajar yaitu behavior (tingkah laku) dan performance (penampilan) yaitu dua istilah yang menunjukkan sesuatu yang dapat diamati oleh orang lain.
Proses pembelajaran yang dilakukan dalam kelas, merupakan aktifitas mentransformasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pengajar diharapkan mampu mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik secara penuh. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dapat mengembangkan cara-cara belajar mandiri, berperan dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses pembelajaran itu sendiri. Disini pengalaman peserta didik lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.[3]
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik.[4]

[1] Nur Setiyo Budi Widarto, Hasrat untuk Belajar (Membantu Anak-anak Termotivasi dan Mencintai Belajar), Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2004, hal. 41
[2] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran secara Manusiawi, Rineka Cipta, Jakarta: 1993, hal. 22-23
[3] Martinis Yamin, Pengembangan Kompetensi Pembelajaran, Universitas Indonesia Press, Jakarta: 2004. hal. 60.
[4] Amin Suyitno, Pemilihan Model-model Pembelajaran dan Penerapannya di Sekolah, hal. 1
Share:

19 November 2014

KEAJAIBAN AIR SUSU IBU (ASI)

Air susu ibu atau ASI adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat serta mengandung nutrisi-nutrisi dasar dan elemen, dengan jumlah yang sesuai untuk pertumbuhan bayi yang sehat.
ASI pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong dan mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Kolostrum yaitu cairan bening berwarna kekuning-kuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran sampai kira-kira seminggu sesudahnya. Bila ibu tidak dapat menyusui anaknya, harus digantikan oleh air susu dari orang lain atau susu formula khusus. Susu sapi tidak cocok untuk bayi sampai berusia 1 tahun.
ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan-makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan teknologi masa kini tidak mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman, 31: 14)
ASI mempunyai fungsi yang sangat penting untuk bayi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan penyakit serta menyediakan lingkungan yang ramah bagi bakteri menguntungkan yang disebut flora normal, yang keberadaannya menghambat perkembangan bakteri, virus, dan parasit berbahaya. 

ASI Berkaitan dengan al-Qur’an 

Al-Qur’an lebih dari empat belas abad menganjurkan ASI. Seperti telah dikemukakan yaitu pada QS. Al-Baqarah, 2: 233 “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan susunannya...”, QS, ath-Thalaq, 65: 6 “…kemudian jika ia menyusukan anak-anakmu…. Dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan anak itu”, QS. Al-Qashash, 28: 7 “…susuilah dia…”, dan an-Nisaa’, 4: 23 “lebih menekankan pria yang haram dinikahi, salah satunya ibu dan saudara sepersusuan”.
Dari ketiga ayat al-Qur’an di atas, maka di dalam al-Qur’an telah dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi-bayi / anak-anak mereka selama kurang lebih dua tahun untuk menyempurnakan susunannya dan baru disapih setelah dua tahun.
Dalam beberapa buku tentang sejarah Islam, disana diceritakan bahwa Rasulullah mempunyai ibu susu yang bernama Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad kabilah Hawazin. Beliau diasuh dan dibesarkan sampai usia lima tahun. Hal tersebut sesuai dengan ayat al-Qur’an surat ath-Thalaq, 65: 6 yang telah dijelaskan di atas.
Allah menganjurkan seorang ibu memberikan ASI kepada anaknya karena di dalam ASI terdapat zat-zat gizi dan sari-sari makanan yang sangat dibutuhkan oleh bayi untuk perkembangannya. Selain itu komposisi ASI yang sangat unik dan spesifik yang tidak bisa tertandingi oleh makanan bayi lainnya.
Sebelum orang-orang melakukan penelitian tentang ASI, Allah telah menganjurkan pemberian ASI. Penelitian-penelitian oleh para ilmuwan adalah pembuktian dari apa yang terkandung di dalam al-Qur’an. Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya, biarpun itu sekecil biji dzarrah.
Ciri menakjubkan lain dari Asi adalah fakta bahwa ASI sangat bermanfaat bagi bayi apabila disusui selama dua tahun. Pengetahuan penting ini, hanya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan, telah diwahyukan Allah 14 abad silam yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah, (2): 233. 

ASI Berkaitan dengan Psikologis 

Bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orangtua. Selain itu bayi juga akan merasa aman dan nyaman serta kepercayaan diri juga mengandung arti kasih sayang implisit antara ibu dan anak.
Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orang tuanya.
Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui berkaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
Faktor emosi juga sangat berpengaruh pada produksi / keluarnya ASI. Apabila seorang ibu dalam keadaan stres maka ASI akan sulit keluar dan hal tersebut akan mengganggu bayi dalam mengkonsumsi ASI.
Dalam pemberian ASI, hendaknya sang ayah ikut berperan bukan hanya ibu dan bayi saja. Di sini peran ayah misalnya ketika ibu akan menyusui bayinya, ayah membantu dengan menggendong dan meletakkan dalam pangkuan sang ibu. Selain itu, jika ibu dalam keadaan stres atau tegang atau dalam keadaan emosi yang tidak stabil, maka ayah membantu menenangkan ibu, agar ASI dapat keluar dengan lancar. 

ASI Berkaitan dengan Hormon 

Hormon-hormon yang mempengaruhi ASI dihasilkan oleh kelenjar pituitari anterior kecuali pada oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari posterior. Kelenjar pituitari (hipofisis) adalah suatu struktur berbentuk dan seukuran dengan biji buncis (ercis) kira-kira bergaris tengah 1,3 cm dan terikat pada hipotalamus mill infundibulum.
Meskipun ukurannya kecil, tetapi kelenjar pituitari memegang peranan penting dalam koordinasi kimia tubuh dan sering disebut “master of gland”, karena banyak sekresinya mengontrol kegiatan endokrin lainnya.
Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin dan menjalankan fungsinya di tempat lain. Kelenjar endokrin bermuara langsung ke dalam pembuluh darah, sehingga disebut kelenjar buntu. Hormon berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal reproduksi dan tingkah laku dibawah satu koordinasi dengan sistem saraf.
Hormon mempunyai beberapa sifat, yaitu:
  • Beberapa hormon bereaksi segera, lainnya bereaksi secara lambat.
  • Hormon berikatan dengan reseptor spesifik pada atau di dalam sel target.
  • Hormon mungkin memiliki “pembantu pesan kedua” intraseluler.
Hormon yang paling berperan dalam proses laktasi (sekresi susu( adalah oksitosin. Selama pelahiran, oksitosin, mempertinggi kontraksi otot polos dalam dinding uterus. Setelah bayi lahir, oksitosin akan merangsang pengeluaran susu dari kelenjar susu dalam menjawab rangsang mekanik yang diberikan oleh hisapan bayi. Selain hisapan, bisa berupa mendengar tangisan bayi atau sentuhan genital.
Oksitosin mempengaruhi pengeluaran susu dengan refleks neurodokrin lain. Susu dibentuk oleh sel-sel kelenjar buah dada, disimpan sampai bayi giat menghisap. Rangsangan menyentuh reseptor dalam putting mengawali impuls sensori pada hipotalamus. Jawabannya, sekresi oksitosin dari pituitari sangat cepat. Selanjutnya diangkut darah kelenjar susu, merangsang sel-sel otot polos sekeliling sel-sel kelenjar dan saluran untuk sekresi dan ejeksi air susu. Urutan ini disebut refleks ejeksi air susu. Ejeksi susu mulai dengan pelan, kira-kira 30 detik sampai 1 menit setelah penyusuan mulai. Rangsang isapan yang menghasilkan lepasnya oksitosin juga menghambat lepasnya prolaktin. Ini menyebabkan naiknya sekresi prolaktin, sehingga bisa tetap mempertahankan laktasi.  

ASI berkaitan dengan Pencernaan 

Pencernaan berkaitannya dengan zat makanan, zat makanan yang diperlukan tubuh ada 6 macam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Berdasarkan keperluan tubuh dibedakan menjadi 2 kelompok, zat makanan makro (zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah besar, berupa air, karbohidrat, lemak dan protein) dan zat makanan mikro (zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, berupa vitamin dan mineral).
Kolostrum mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI mature (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum akan membantu sistem pencernaan bayi yang baru lahir karena belum berfungsi secara optimal. ASI juga mengandung mineral yang dapat mencegah karies.
Kandungan karbohidrat pada ASI yang relatif tinggi terutama laktosa diperlukan untuk pertumbuhan sistem syaraf, selain itu juga diperlukan untuk absorbsi protein dan pertumbuhan bakteri usus. Laktosa melalui proses fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Suasana asam dalam usus bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang menyebabkan diare dan memacu pertumbuhan mikroorganisme yang berperan dalam sintesis vitamin B kompleks. Kondisi inilah yang menyebabkan Allah menitipkan ASI kepada setiap ibu hamil.
Meskipun disebut sebagai susu, ASI sebenarnya bagian terbesarnya tersusun atas air. Ini adalah ciri terpenting. Sebab selain makanan, bayi juga membutuhkan cairan dalam bentuk air. Keadaan yang benar-benar bersih dan sehat mungkin tidak bisa dimunculkan pada air atau bahan makanan, selain pada ASI.
Karena ASI berupa cairan dan bayi belum mempunyai gigi maka untuk proses pencernaannya tanpa pencernaan secara mekanik tetapi langsung secara kimiawi dengan bantuan enzim.
Jadi, pada ASI terdapat makanan makro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar, sehingga dapat dikatakan bahwa ASI adalah makanan yang sangat cocok dan tepat untuk bayi karena komposisinya yang lengkap dan telah memenuhi kebutuhan gizi bayi.
Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembangan organ.
Sang ibu bukanlah yang memutuskan untuk membuat ASI, sumber zat makanan terbaik bagi bayi yang memerlukan makanan di dalam tubuhnya. Sang ibu bukan pula yang menentukan beragam kadar gizi yang dikandung ASI. Allah maha Kuasalah yang mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup dan memperlibatkan kasih sayang kepadanya, yang menciptakan ASI untuk bayi di dalam tubuh ibu.  

ASI Berkaitan dengan Enzim

Enzim merupakan suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator yang sangat penting bagi reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh. Dengan adanya enzim, suatu reaksi kimia menjadi hemat energi dan berlangsung cepat. Katalisator adalah suatu zat yang mempengaruhi kecepatan reaksi tanpa mempengaruhi hasil akhirnya.
Pembentukan enzim pencernaan bayi baru sempurna pada usia kurang lebih 5 bulan. ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan, yaitu :
  • Lipase : untuk menguraikan lemak
  • Amylase : untuk menguraikan karbohidrat
  • Protease : untuk menguraikan protein
Dengan adanya enzim, maka pencernaan makanan ASI dapat berjalan dengan sempurna. Sehingga ASI dapat dengan mudah dicerna oleh bayi. 

ASI Berkaitan dengan Ekskresi 

Ekskresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme sel yang sudah tidak digunakan oleh tubuh dan dikeluarkan bersama urine, keringat atau udara pernafasan.
Zat makanan yang banyak dikonsumsi manusia adalah karbohidrat, protein dan lemak. Setelah mengalami metabolisme dalam tubuh, zat-zat tersebut akan menghasilkan energi dan zat sisa.
Alat eskresi pada manusia berupa ginjal, kulit, paru-paru dan hati. Organ-organ tersebut mengeluarkan sisa metabolisme dari dalam tubuh. Ginjal mengeluarkan air, NH3. urea dan asam urat. Kulit mengeluarkan air, urea dan garam tertentu dalam keringat. Paru-paru mengeluarkan gas CO2 dan H2O. Hati mengeluarkan zat warna empedu.
ASI dapat dengan mudah dicerna oleh ginjal bayi yang belum sempurna, karena mengandung enzim pencernaan, sehingga sisa metabolisme yang dieksresikan (dikeluarkan) melalui ginjal hanya sedikit dan kerja ginjal pun akan semakin ringan. Lain halnya jika bayi diberi susu formula atau susu sapi maka yang terjadi adalah ginjal akan bekerja keras untuk membuang kelebihan zat gizi yang tidak bisa diserap. Hal ini nampak dari pipis dan berak pada bayi masih berbau dengan frekuensi yang lebih sering. 

ASI berkaitan dengan Perkembangan Otak 

ASI mengandung DHA/AA dalam kadar tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi, terutama sebagai pembentuk sel-sel otak. Selain DHA/AA, Omega-3 sangat penting untuk perkembangan. Jadi, kandungan dalam ASI sangat berperan dalam perkembangan otak dan kecerdasan bayi.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan otak bayi yang diberi ASI lebih baik daripada yang tidak diberi ASI (susu buatan pabrik). Seorang ahli dari universitas Kentucky, James W. Anderson, membuktikan bahwa IQ (tingkat kecerdasan) bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini ditetapkan bahwa ASI yang diberikan hingga 6 bulan bagi kecerdasan bayi, dan bayi yang disusui kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat pada IQ.
IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9,5 tahun mencapai 12,9 point lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.
Dari penelitian di Denmark menemukan bahwa bayi yang diberikan ASI sampai lebih dari 9 bulan akan dewasa yang lebih cerdas. 

ASI berkaitan dengan Antibodi 

Antibodi atau Immunoglobin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel B) akibat kontak dengan antigen. Antigen atau imunogen adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan imun spesifik pada manusia dan hewan. Antibodi mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik.
Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi dari ASI sebenarnya, khususnya immunoglobulin A (IgA), karena memang IgA banyak ditemukan dalam cairan / sekret daripada dalam serum. IgA membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan.
Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi daripada penyakit. Hal ini dikarenakan ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, dan enzim untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan dari ibu ke bayi. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI akan terlindung dari serangan penyakit sistem pernafasan dan pencernaan (diare) dan ASI mampu mengurangi infeksi pada bayi. Hal itu disebabkan zat-zat kekebalan tubuh di dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan serangan penyakit.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Universitas Bristol mengungkap bahwa diantara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya.
-dari berbagai sumber-
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.