12 September 2015

ZUHUD SOSIAL

Sebagaimana telah kita ketahui dalam pandangan kaum sufi, dunia dan segala isinya adalah merupakan sumber kemaksiatan dan kemungkaran yang dapat menjauhkannya dari Tuhan. Karena hasrat, keinginan dan nafsu seseorang sangat berpotensi untuk menjadikan kemewahan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidupnya, sehingga memalingkannya dari Tuhan. Oleh karena itu, maka seorang sufi dituntut untuk terlebih dahulu memalingkan seluruh aktifitas jasmani dan ruhaninya dari hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan demikian segala apa yang dilakukannya dalam kehidupan tidak lain hanyalah dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan. Perilaku inilah yang dalam terminologi sufi disebut zuhud.[1]
Perilaku/sikap zuhud dalam kalangan sufi sangat diutamakan dan benar-benar ditampakkan dalam sikap dan tingkah laku para sufi dalam kehidupan sehari-hari. Zuhud ini pada hakikatnya adalah membelakangkan semua mata benda dunia. Dengan kata lain zuhud adalah tidak terlalu menghiraukan dunia.[2] 

Pengertian Zuhud 

Dalam tradisi tasawuf, zuhud merupakan maqam yang sangat menentukan. Sehingga hampir seluruh ahli tasawuf selalu menyebutkan zuhud sebagai salah satu maqam-nya. Hanya saja masing-masing dengan urutan yang berbeda, dan diantara yang disebut strukturnya oleh para ahli tasawuf, zuhud merupakan sebutan dari salah satu maqam yang selalu ada di dalamnya. Dapat dikatakan pula bahwa pengertian zuhud yang diungkapkan oleh para ahli hampir menyerupai pengertian-pengertian maqam-maqam yang lainnya, bahkan lebih dari itu, seluruh maqam yang disebut oleh para sufi merupakan pengejawantahan dari zuhud. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan para ahli tasawuf tentang zuhud.
Al-Junaidi menyatakan bahwa, zuhud adalah kosongnya tangan dari pemilikan dan kosongnya hati dari pencarian. Sufyan Tsuri mengatakan zuhud terhadap dunia adalah membatasi memakan makanan kasar, atau memakai jubah dengan kain kasar.[3]
Sikap zuhud dalam kalangan sufi sangat diutamakan dan benar-benar ditampakkan dalam sikap dan tingkah laku para sufi dalam kehidupan sehari-hari. Zuhud ini pada hakikatnya adalah membelakangkan semua mata benda dunia, dengan kata lain zuhud adalah tidak terlalu menghiraukan dunia. Dalam hal ini khalifah Ali bin Abi Thalib ra pernah ditanya tentang zuhud, beliau menjawab: "Zuhud ialah hendaklah kamu tidak terpengaruh dan iri hati terhadap orang-orang yang serakah terhadap keduniawian, baik dari orang mukmin atau dari orang kafir".
Syaikh Abdul Qasim al-Junaidi al-Baghdadi memberikan pengertian: "Zuhud yaitu bersifat dermawan dari harta yang dimiliki sehingga tak mempunyai harta, serta tidak mempunyai sifat serakah".
Menurut tokoh sufi lainnya, Masruq mengemukakan pandangannya, bahwa zuhud adalah seseorang yang mempunyai sifat selalu tidak memiliki sebuah kecuali karena kemurahan dari Allah". Sedangkan secara sederhana Yahya memberikan pandangan pula: "Yang dimaksud dengan zuhud adalah meninggalkan sifat-sifat kikir".
Sebagian ulama yang lain berkata: "seorang zahid yang sebenarnya ialah orang yang tidak pernah mencela dunia dan tidak pernah memujinya, bila dunia datang, ia tidak bergembira ria dan bila dunia pergi darinya ia tidak perlu berduka cita".[4]
Dalam ajaran tasawuf dijelaskan bahwa Allah Ta'ala telah merendahkan kedudukan dunia dan telah menamakannya dengan berbagai nama yang belum pernah dinamakan oleh orang. Allah SWT berfirman: 
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ 
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.(Q.S al-Hadid : 77).[5] 
Secara etimologi zuhud berarti raqobi ansya'in watarakuhu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya, zahaba di al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. Sedangkan secara terminologi arti zuhud tidak bisa dilepaskan dari dua hal yang pertama, zuhud sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tasawuf, kedua zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes.
Ketika tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan. Maka zuhud merupakan suatu stasiun (makam menuju tercapainya "perjumpaan" atau "makrifat kepada-Nya").[6]
Pengertian lain dari zuhud sikap menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia seorang zuhud seharusnya hatinya tidak terbelenggu atau hatinya tidak terikat oleh hal-hal yang bersifat duniawi dan tidak menjadikannya sebagai tujuan, hanya sarana untuk mencapai derajat ketaqwaan yang merupakan bekal untuk akhirat.[7]
Allah berfirman dalam surat an-Nisa [4]: 77 yang artinya : "Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa". 

Tahapan-tahapan Zuhud 

Kutipan suatu versi tentang makna zuhud atau asketisisme yang inklusif dalam kehidupan ini berasal dari ibn Qayyim al-Jauzi (t.th : 12) yang mengutip dari pendapat Imam Ahmad bin Hambal, ia menyebutkan tiga tahapan yang harus dilalui dalam zuhud. 
1.      Meninggalkan segala yang haram (zuhud orang awam) 
2.      Meninggalkan hal-hal yang berlebihan dalam perkara yang halal (zuhud orang kawwash) 
3.      Meninggalkan apa saja yang memalingkan diri dari Allah (zuhud orang arifin).
Bila definisi Ibn Qayyim al-Jauziyah saja yang kita pegang, maka setidaknya kita bisa menjabarkan beberapa nilai derivative dari makna zuhud ini, untuk usaha-usaha perbaikan hidup.
Meninggalkan hal-hal yang haram menuntut seseorang untuk mencari penghasilan secara tulus lewat kerja keras, menghindari hal-hal yang merugikan orang lain, dan menciptakan pekerjaan yang mempunyai nilai sosial yang tinggi.
Menghindari hal-hal yang berlebihan, walaupun halal, menunjukkan sikap hemat, sederhana, menghindari sikap berlebihan, kemewahannya.[8] 

Zuhud Abad Modern 

Dengan memegangi al-Qur'an dan hadits sedikit berbeda dengan paradigma sufisme awal yang sering menjerumuskan orang ke dalam posivitas hidup, neo-sufisme sebaliknya masalah menekankan kembali sikap positif kepada dunia.
Tokoh-tokoh neo-sufisme seperti al-Qashash 9w.1071/1693) – guru dari Abd Rauf al-Sinkili dan Muhammad Yusuf al-Makassari – tidak hanya menekankan pentingnya aktivitisme intelektual, tetapi juga menekankan pentingnya aktivisme dalam bentuk-bentuk yang lebih praktis. Seperti al-Qashash pernah menghimbau kaum muslimin agar meninggalkan waktu untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat. Dia menekankan agar kaum muslimin menjalankan tugas-tugas keduniawian untuk mencapai pemenuhan spiritual. Menurutnya, sufi yang sebenarnya bukanlah sufi yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, membantu orang sakit dan miskin dan membebaskan mereka yang tertindas, sufi yang sebenarnya adalah sufi yang mampu melakukan ta'awun dengan muslim lain dan sesama manusia untuk kemajuan masyarakat. Inilah bererapa contoh yang dilakukan oleh setiap sufi yang berharap dapat menjadi manusia yang sempurna (insan kamil).
Dari uraian dan kutipan kutipan di atas nampak jelas bahwa neo-sufisme adalah esolerisme atau penghayatan keagamaan batin yang menghendaki hidup aktif dan terlibat dalam kerja-kerja kemasyarakatan. Sesekali menyingkirkan diri untuk uzlah mungkin ada baiknya tetapi hal ini dilakukan untuk mendengarkan kembali wawasan dan pandangan, yang kemudian dijadikan titik tolak untuk pelibatan diri dan aktivitas, maka hal tersebut perlu dipikirkan lebih lanjut.[9]

Kesimpulan
Zuhud secara etimologis, zuhud berarti raghaba' ansyaiin watarakuhu artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya.
Harun Nasution mencatat ada lima pendapat tentang faktor-faktor zuhud. Pertama, dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib Kristen. Kedua, dipengaruhi oleh pitagoras yang mengharuskan kehidupan materi dalam rangka membersihkan roh. Ajaran meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran protenus yang menyatakan bahwa dalam rangka penyucian ruh yang telah kotor, sehingga bisa menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia. Keempat, pengaruh Budha dengan paham nirwananya, bahwa untuk mencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki kontemplasi. Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mencorong manusia dan mendekatkan diri kepada Tuhan, untuk mencapai persatuan Adman dengan Brahman.



DAFTAR PUSTAKA
Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002.
Moh. Saifullah al-Aziz Sehali, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya : Terbit Terang, 1998.
al-Qur'an dan Terjemahnya, Depag RI, 2004.
M. Amin Syukur, Zuhud di Abad Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 1997.
M. Amin Syukur, Tasawuf Kontekstual (Solusi Problem Manusia Modern), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.
M. Amin Syukur, dan Abdul Muhayya, Tasawuf dan Krisis, Walisongo Press dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 2001.

[1] Hasyim Muhammad, Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002, hlm. 34-35
[2] Moh. Saifullah al-Aziz Sehali, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya : Terbit Terang, 1998, hlm. 228
[3] Hasyim Muhammad, op.cit., hlm. 34-36
[4] Moh. Saifullah al-Aziz Sehali, op.cit., hlm.129
[5] al-Qur'an dan Terjemahnya, Depag RI, 2004
[6] M. Amin Syukur, Zuhud di Abad Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 1997, hlm. 1
[7] M. Amin Syukur, Tasawuf Kontekstual (Solusi Problem Manusia Modern), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hlm. 14
[8] M. Amin Syukur, dan Abdul Muhayya, Tasawuf dan Krisis, Walisongo Press dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 2001, hlm. 43-45
[9] Ibid., hlm. 38-45
Share:

7 Desember 2014

TES NON OBJEKTIF

Dalam rangka evaluasi hasil belajar peserta didik, banyak hal yang dilakukan. Namun, evaluasi ini tidak harus berupa tes-tes hasil belajar. Akan tetapi dalam setiap sekolah atau lembaga pendidikan, evaluasi hasil belajar yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan tes hasil belajar. Tes hasil belajar merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran.
Sebagai salah satu pengukur perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik, apabila ditinjau dari segi bentuk soalnya dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu : tes hasil belajar bentuk uraian (non objektif) dan tes hasil belajar bentuk obyektif.[1]
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas / serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut yang dapat di bandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.
Tes uraian adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang memiliki karakteristik sebagai berikut:[2]
  1. Tes tersebut berbentuk pertanyaan / perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian atau paparan kalimat yang pada umumnya cukup panjang
  2. Bentuk-bentuk pertanyaan / perintah itu menuntut kepada tester untuk memberikan penjelasan komentar, penafsiran dan lain-lain.
  3. Jumlah butir soalnya umumnya terbatas yaitu berkisar antara 5-10 butir
  4. Pada umumnya butir-butir soal tes uraian itu diawali dengan kata-kata, jelaskan, terangkan, uraikan dan lain-lain.
Jenis tes ini menuntut kemampuan siswa untuk mengemukakan, menyusun dan memadukan gagasan-gagasan yang telah dimilikinya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Tes jenis ini memungkinkan siswa menjawab pertanyaan secara bebas. Kebebasan ini berakibat data jawaban bervariasi, sehingga tingkat kebenaran dan tingkat kesalahannya pun menjadi bervariasi. Hal inilah yang mengundang subjektivitas penilai ikut berperan menentukan, karena itu tes ini disebut pula dengan tes subjektif (non objektif).
Tes uraian dibagi 2 macam, yaitu :[3]
  1. Tes uraian bentuk bebas artinya butir soal itu hanya menyangkut masalah utama yang dibicarakan tanpa memberikan arahan tertentu dalam menjawabnya. Contoh:Mengapa bangsa Indonesia memilih politik luar negeri yang bebas aktif?
  2. Tes uraian terbatas, peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal yang ditanyakan, namun arah jawaban dibatasi sedemikian rupa, sehingga kebebasan tersebut menjadi bebas yang terarah. Contoh: Apakah dasar yuridis dan politik yang mendasari Indonesia menempuh kebijaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif?
Tes hasil belajar bentuk uraian sebagai salah satu alat pengukur hasil belajar, tes ini tepat dipergunakan apabila pembuat soal (guru, dosen, dan lain-lain) disamping ingin mengungkap daya ingat dan pemahaman test terhadap materi pelajaran yang ditanyakan dalam tes, juga dikehendaki untuk mengungkap kemampuan testee dalam memahami berbagai macam konsep dan aplikasinya, selain itu tes ini lebih tepat dipergunakan apabila jumlah testee terbatas.
Adapun kelemahan dan kelebihan tes uraian adalah :[4]
a.       Kelebihan tes uraian :
1)      Mudah disiapkan dan disusun
2)      Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi / untung-untungan
3)      Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus
4)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri
5)      Dapat diketahui sejauh mana siswa, mendalami sesuatu masalah yang diteskan.
b.      Kekurangan tes uraian :
1)      Kadar validitas dan reliabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai
2)      Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan di tes karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas).
3)      Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif
4)      Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai.
5)      Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
Bertitik tolak dari kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh tes hasil belajar bentuk uraian maka ada beberapa petunjuk operasional yang bisa di lakukan ataupun dijadikan pedoman dalam menyusun butir-butir soal tes uraian.
Adapun petunjuk operasional itu adalah :[5]
  1. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya diusahakan agar butir-butir soalnya dapat mencakup ide-ide pokok dari materi pelajaran yang telah diajarkan atau telah diperintahkan kepada testee untuk mempelajarinya. Cara ini dimaksudkan, sekalipun butir-butir soal itu jumlahnya terbatas, akan tetapi telah terkandung di dalamnya materi yang luas dan bersifat komprehensif.
  2. Untuk menghindari timbulnya perbuatan curang oleh testee (misalnya : menyontek / bertanya pada testee lain), hendaknya diusahakan agar susunan kalimat soal dibuat berlainan dengan susunan kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran / bahan lain yang diminta untuk mempelajarinya. Cara ini dimaksudkan, sebelum testee menentukan dan menuliskan jawabannya di atas lembar jawaban, mereka agar berfikir lebih dahulu secara cermat, apakah jawabannya benar dan tepat ataukah tidak.
  3. Setelah butir-butir soal tes uraian dibuat hendaknya segera disusun dan dirumuskan secara tegas, bagaimana atau seperti apakah seharusnya jawaban yang dikehendaki oleh tester sebagai jawaban yang betul. Dengan cara ini maka faktor subyektifitas yang menyelinap ke dalam diri tester akan dapat dikurangi sampai sekecil-kecilnya.
  4. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya diusahakan agar pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintahnya jangan dibuat seragam melainkan dibuat secara bervariasi.
  5. Kalimat soal hendaknya disusun secara ringkas, padat dan jelas, sehingga cepat dipahami oleh testee dan tidak menimbulkan keraguan / kebingungan bagi testee dalam memberikan jawabannya.
  6. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian, sebelum sampai pada butir-butir soal yang harus dijawab atau dikerjakan oleh testee, hendaknya dikemukakan pedoman tentang cara mengerjakan atau menjawab butir-butir soal tersebut. Misalnya : “Jawaban soal harus dituliskan di atas lembar kertas berdasarkan nomor urut soal”. Hal ini merupakan hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh tester.
Hal yang perlu dicermati adalah kelemahan tes uraian yang terletak pada variasi jawaban yang tak terbatas sehingga menyulitkan penskoran, apalagi membandingkan antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya, untuk itu pemeriksaan hasil dapat ditempuh langkah peningkatan objektivitas dengan jalan:[6]
1.      Menyusun pola jawaban yang diambil dari sampel jawaban peserta didik
2.      Pemeriksaan jawaban tidak dilakukan dengan jalan membaca tiap halaman satu peserta didik sampai selesai melainkan diperiksa berdasarkan nomor.
3.      Setiap lembar jawaban dikoreksi lebih dari satu kali dan urutan dalam penilaiannya diubah-ubah yang tadinya urutan atas dijadikan urutan bawah kemudian hasilnya digabungkan dan diambil reratanya.
4.      Nilai peserta didik tidak langsung dijumlahkan, secara global tetapi dirinci dari tiap-tiap aspek penilaian, misalnya :
a.       Konsistensi pemikiran
b.      Kemampuan membahasakan gagasan
c.       Isi / bobot materi
d.      Kepustakaan yang dijadikan referensi
e.       Nilai-nilai baru yang dimunculkan.
Sehingga penilaian tidak didasarkan penjumlahan antar nomor soal.
Adapun saran yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan reliabilitas dari pada essay:
a.       Sebelum mulai memberi skor siapkanlah terlebih dahulu sebuah model jawaban, tentukanlah berapa jumlah skor yang akan diberikan pada tiap-tiap item
b.      Setiap jawaban hendaknya diperiksa tanpa melihat identitasnya terlebih dahulu
c.       Periksalah jawaban anak-anak secara item demi item.

KESIMPULAN
Test adalah : suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan nilai
Kelebihan dan kekurangan tes :
a.       Kelebihannya : mudah disiapkan disusun, tidak memberi daya kesempatan untuk berspekulasi / untung-untungan dan lain-lain
b.      Kekurangannya : pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan, waktu untuk koreksinya lebih lama dan tidak diwakilkan kepada orang lain.
Tes uraian dibagi menjadi dua macam, yaitu :
a.       Bentuk bebas artinya menyangkut masalah utama yang dibicarakan
b.      Terbatas, artinya kebebasan untuk menjawab soal sedemikian yang ditanyakan dengan arah jawaban yang dibatasi.
Yang intinya tes adalah evaluasi dalam pendidikan guna memberi penilaian ke anak didiknya sehingga dapat mengukur pantas atau tidakkah meluluskan dalam pendidikannya.

[1] Anas Sujiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hal. 99
[2] Wayan Nurkancana dan PPN Sumartana, Evaluasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1986, hal. 24
[3] M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, hlm. 57
[4] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hlm. 163
[5] Anas Sujiono, op.cit., hlm. 103-106
[6] M. Chabib Thoha, op.cit., hlm. 63
Share:

6 Desember 2014

MENSKOR TEST HASIL BELAJAR (OBJEKTIF DAN NON OBJEKTIF / ESSAY)

Beberapa orang berpendapat bahwa bagian yang paling penting dari pekerjaan pengukuran dengan test adalah penyusunan test. Jika alat tesnya sudah disusun dengan sebaik-baiknya, maka anggapannya sudah tercapailah sebagian besar dari maksudnya. Tentu saja anggapan tersebut tidak benar sama sekali. Penyusunan test merupakan satu bagian dari serentetan pekerjaan mengetes. Disamping penyusunan dan pelaksanaan test itu sendiri, menskor dan menilai merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan yang luar biasa bagi penilai. 
Apa itu menskor dan bagaimana teknik pemberian skor test hasil belajar?
Pemberian skor (scoring) merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil test, yaitu proses pengubahan jawaban-jawaban soal test menjadi angka-angka. Dengan kata lain, pemberian skor itu merupakan tindakan kuantitatif terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh tester dalam suatu test hasil belajar.[1]
Angka-angka hasil penskoran tersebut selanjutnya diubah menjadi nilai-nilai (grade) melalui proses tertentu. Penggunaan simbol untuk menyatakan nilai-nilai hasil test itu ada yang tertuang dalam bentuk rentangan angka antara 0-10, antara 0-100 dan adapula yang menggunakan simbol huruf yaitu A, B, C, D dan F (F = Fail, gagal).
Cara menskor hasil test biasanya disesuaikan dengan bentuk soal-soal test yang dipergunakan. Apakah test itu objektif atau non objektif (isian). Untuk soal-soal objektif biasanya setiap jawaban yang benar diberi skor 1 (satu) dan setiap jawaban yang salah diberi skor 0 (nol). Total skor diperoleh dari semua soal. Untuk soal-soal non objektif (essay) dalam penskoran biasanya digunakan cara pemberian bobot (weighting) kepada setiap soal menurut tingkat kesukuannya atau banyak-sedikitnya unsur tingkat kesukarannya atau banyak-sedikitnya unsur terdapat dalam jawaban yang dianggap paling benar. Misal soal no.1 diberi skor maksimum 4, untuk soal no.3 diberi skor maksimum 6, untuk soal no.5 skor maksimum 10, dan seterusnya.[2]
Dalam pekerjaan menskor atau menentukan angka dapat digunakan 3 macam alat bantu :[3]
1.      Pembantu menentukan jawaban yang benar disebut kunci jawaban
2.      Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah disebut kunci skoring
3.      Pembantu menskor tes objektif.

Teknik menskor tes objektif

1.      Fill-in dan completion (tes isian dan melengkapi)

Cara menilai tes bentuk ini ada dua pendapat, yang pertama mengatakan bahwa skor maksimum setiap bentuk fill-in sama dengan jumlah isian yang ada pada test tersebut. Jika pada suatu test bentuk fill-in ada 10 item, dan setiap item berisi satu isian, dua isian atau tiga isian, maka cara menilainya dihitung menurut jumlah isian yang ada pada seluruh item.
Pendapat kedua mengatakan bahwa skor maksimum test berbentuk fill-in dihitung menurut jumlah itemnya. Tiap item dinilai satu, meskipun mungkin jumlah isiannya tidak sama banyaknya.
Pemakalah berpendapat bahwa yang lebih baik adalah pendapat yang pertama, karena evaluasi yang demikian lebih halus dan lebih adil.
Rumus penskoran untuk fill-in dan completion adalah sebagai berikut:
S = R
S    : Skor terakhir / yang diharapkan
R : Jumlah isian yang dijawab betul (right)
Contoh penggunaan :
Misalnya sebuah test berbentuk fill-in mengandung 30 isian, Ahmad mengerjakan test tersebut 23 isian betul, 3 isian salah, dan 2 isian kosong (tidak dijawab). Maka skor Ahmad : 23 (tiap isian diberi nilai 1).

2.      True-False (tes benar-salah)

Setiap item tes bentuk true false diberi skor maksimum 1 (satu). Jadi apabila suatu item dijawab betul (sesuai dengan kunci jawaban), maka skornya adalah 1 (satu). Akan tetapi, jika dijawab salah (tidak sesuai dengan kunci jawaban), maka skornya 0 (nol).
Untuk menghitung skor akhir dari seluruh item test bentuk true false biasanya digunakan rumus sebagai berikut :


S = Skor terakhir / yang diharapkan
R = Jumlah item yang dijawab betul (right)
W = Jumlah item yang dijawab salah (wrong)
N = Banyaknya option untuk true false selalu dua
1 = Bilangan tetap (konstanta)
Keterangan penggunaan :
Umpamakan jumlah item true-false (B-S) = 20. Seorang siswa bernama Ali dapat menjawab betul 13 item dan salah 7 item, maka skor yang diperoleh Ali adalah sebagai berikut :
Aman dapat menjawab betul 10 item, dan salah 10 item. Skor yang diperoleh sebagai berikut :
Bakir hanya dapat menjawab 8 item betul dan 12 item salah, maka skor yang diperoleh Bakir ialah :
Dengan menggunakan rumus tersebut ternyata bahwa siswa yang hanya dapat menjawab betul setengah dari jumlah item akan mendapatkan skor 0 (nol). Dan siswa yang menjawab betul kurang dari setengah akan mendapatkan skor minus.

3.      Multiple choice (tes pilihan ganda)

Cara menskor terakhir dari tes yang berbentuk multiple choice dipergunakan rumus sebagai berikut :
Contoh penggunaan :
Umpamakan kita membuat test berbentuk multiple choice sebanyak 20 item, dengan item alternatif jawaban (A, B, C, D) 4 tiap item. Seorang siswa bernama Ipung dapat menjawab betul 14 item dan salah 6 item, maka skor yang diperoleh Ipung dari test tersebut sebagai berikut :
Jika dalam mengerjakan tes berbentuk true false / multiple choice terdapat item yang tidak dijawab (dikosongkan) maka dalam penilaian atau scoring, item yang tidak dijawab itu tidak diperhitungkan (tidak dianggap benar dan tidak dianggap salah).
Sebagai contoh :
a.       True false
Jumlah                         30 item
Dijawab betul  19 item
Dijawab salah  8   item
Tidak dijawab 3   item
Skor yang diperoleh :
Jadi, yang diperhatikan dalam scoring hanya 27 item.
b.      Multiple choice
Jumlah             20 item
Yang dijawab betul     16 item
Yang dijawab salah     3   item
Tidak dijawab 1   item
Skor yang diperoleh :
Akan tetapi ada juga yang berpendapat lain, yaitu semua item yang tidak dijawab (dikosongkan) berarti salah. Jadi, baik item yang dijawab, tetapi salah maupun item yang dikosongkan atau tidak dijawab kedua-duanya dianggap salah. Tentu saja hal ini bergantung pada perjanjian antara pengetes dengan yang di tes. Maka sebelum tes dimulai sebaiknya guru menjelaskan terlebih dahulu bagaimana cara menskor, dan bagaimana siswa menjadi lebih hati-hati dalam mengerjakan test.

4.      Matching (test menjodohkan)

Untuk menilai tes yang berbentuk matching diperhitungkan dari jumlah item yang dijawab betul saja, rumusnya sama dengan completion, yaitu :
S = R
Contoh penggunaan :
a.       Misalnya berbentuk matching sebanyak 10 item. Hari dapat mengerjakan test tersebut 7 item betul dan 3 item salah, maka skor yang diperoleh Hari = 10 – 3 = 7
Mira dapat mengerjakan 5 item betul, 3 item salah, 2 item dikosongkan atau tidak dijawab, maka skor yang diperoleh Mira = 5.
Jadi, dengan rumus penskoran tersebut di atas, item yang di jawab salah dan item yang tidak dijawab atau dikosongkan, kedua-duanya dianggap salah karena yang diperhitungkan hanya item yang dijawab betul.
b.      Cara lain dalam penilaian test berbentuk matching dapat juga dilakukan dengan menentukan tingkat kesukaran (difficulty index) dari tes tersebut dibandingkan dengan test-test bentuk lain yang digunakan bersama-sama. Cara lain yang kedua ini perlu dilakukan jika kita menganggap bahwa items yang berbentuk matching itu lebih sukar dari pada items bentuk lain yang digunakan bersama-sama dalam suatu tes.
Misalkan suatu tes terdiri atas tiga macam bentuk yaitu true-false, multiple choice, dan matching kita telah menetapkan bahwa tingkat kesukaran tiap item dari ketiga macam bentuk test tersebut berturut-turut adalah 1,2 dan 4. Ini berarti bahwa nilai tiap item yang betul dari true false, multiple choice, dan matching = 4.
Andaikata tes yang berbentuk matching itu ada 10 item, dan Basir dapat menjawab betul 7 item, maka skor yang diperoleh Basir = 7 x 4 = 28.

5.      Jawaban singkat

Dengan bentuk jawaban singkat menuntut siswa untuk menemukan sendiri jawaban singkat atas pernyataan dalam soal test. Test bentuk ini tidak memberikan peluang untuk menebak jawaban dari kemungkinan jawaban yang tersedia seperti pada bentuk pilihan. Dengan demikian sistem koreksi untuk faktor tebakan pun tidak dikenakan pada test bentuk ini.[4]
Dengan bentuknya yang sangat berbeda dari bentuk pilihan, maka cara penskorannya pun tidak seperti bentuk pilihan, yang perlu disiapkan untuk skoring test bentuk jawaban singkat hanyalah lembaran tidak dapat dibuat kunci skoring.
Lembaran kunci jawaban memuat semua kemungkinan jawaban yang dapat dibenarkan atas pernyataan sebuah soal. Apabila terdapat soal sebagai berikut:
Apabila hasil test membentuk kurva juling negatif berarti soal-soal tes itu …………
Butir soal semacam ini mengundang banyak kemungkinan jawaban yang dapat diterima karena memang benar.
Jawaban atas soal tersebut misalnya :
-          Mudah
-          Gampang
-          Sukar
-          Tingkat kesukaran rendah
-          Indeks kesukaran diatas 0.85
Dan mungkin ada yang lain lagi.
Untuk soal-soal hitungan lebih banyak lagi kemungkinan, tanpa pembatasan yang tegas, yang harus diterima sebagai jawaban yang benar. Contoh : 
Jawabannya dapat : 3.33, 3.3, 31/3, 32/6, 33/9 dan seterusnya.

Meskipun jawaban yang diminta dalam test bentuk ini adalah jawaban yang singkat, terdapat variasi jawaban siswa mulai dari yang lengkap sampai dengan yang kurang lengkap, namun masih menunjukkan bahwa siswa mempunyai sedikit pengetahuan mengenai materi yang dinyatakan itu. Oleh karena itu kemungkinan-kemungkinan jawabannya perlu diberikan pembobotan. Misalnya dengan pembandingan 3 : 2 : 1 atau 4 : 3 : 2 : 1 atau langsung saja diberi tingkatan skor 2 yang lengkap sekali, 1.5 yang lengkap dan yang kurang lengkap 1.[5]

C.    Teknik menskor test non objektif (essay)

Soal-soal bentuk uraian jika direncanakan dengan baik, sangat tepat untuk menilai proses berfikir seseorang serta kemampuannya mengekspresikan buah pikiran, kelemahan yang sering dirasakan penggunaan soal-soal bentuk uraian ini antara lain terbatasnya lingkup bahan pelajaran yang dinilai dan sulitnya mengoreksi jawaban dengan objektif.[6]
Adapun teknik menskor soal-soal non objektif (essay) adalah sebagai berikut :
1.      Nilailah jawaban-jawaban soal essay dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur.
2.      Untuk soal-soal isian dengan jawaban terbatas (restricted-response questions) berilah jawaban skor dengan point method gunakan pedoman jawaban sebagai petunjuk. Tulislah lebih dahulu pedoman jawabannya untuk tiap soal, dan tentukan nilai skor yang dikenakan pada tiap soal atau bagian soal (dengan weighting atau pembobotan).
3.      Untuk soal-soal isian dengan jawaban terbuka, nilailah dengan rating method, gunakan kriteria tertentu sebagai pedoman penilaian.
Soal-soal essay menurut jawaban yang terbuka dan bebas sehingga seringkali tidak mungkin untuk menyiapkan pedoman jawabannya. Oleh karena itu, biasanya guru atau pembuat test menilai tiap jawaban dengan menimbang-nimbang kualitasnya dan hubungannya dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi bukan menskor point demi point dengan kunci jawaban, untuk itu bisa dilakukan dengan mengklasifikasikan jawaban-jawaban itu ke dalam 5 tingkat, yang selanjutnya diberi nilai 0, 1, 2, 3, 4 atau A, B, C, D dan E.
4.      Evaluasilah semua jawaban siswa, soal demi soal dan bukan siswa demi siswa. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya halo effect.
5.      Evaluasilah jawaban-jawaban soal essay tanpa mengetahui identitas atau nama murid yang mengerjakan jawaban itu.
6.      Bilamana mungkin, mintalah dua atau tiga orang guru lain, yang mengetahui masalah itu untuk menilai tiap jawaban, ini diperlukan untuk mengecek keandalan skoring terhadap jawaban-jawaban essay itu.[7]
Tentu hal ini tidak perlu dilakukan pada setiap penilaian, tetapi sewaktu-waktu saja. Misalnya untuk memilih siswa-siswi yang akan dicalonkan untuk mengikuti latihan tertentu atau untuk memilih juara sekolah.

Kesimpulan
Dalam menskor test hasil belajar mempunyai teknik-teknik tertentu baik test objektif maupun non objektif (essay) disesuaikan dengan jenis dan kondisi soal test. Maka guru dalam menskor test hasil belajar harus menggunakan teknik yang sesuai dengan test yang telah diberikan supaya hasilnya adil dan objektif. Sehingga tidak merugikan siswa.

[1] Anas Sujiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal. 301
[2] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984, hal. 70
[3] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta, 1987, hal. 223
[4] Ngalim Purwanto, op.cit., hal. 64
[5] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, PT. Grasindo, Jakarta, 1991, hal. 102
[6] Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, CV. Sinar Baru Offset, Bandung, 1989, hal. 261
[7] Ngalim Purwanto, op.cit., hal. 64
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.