AL-QALB (HATI)

2 Mei 2014

AL-QALB (HATI)

Dalam psikologi sufi menekankan kebutuhan untuk menyuburkan hati. Seseorang yang hatinya terbuka akan lebih bijaksana, penuh kasih sayang, dan lebih pengertian daripada mereka yang hatinya tertutup. Hati yang dimaksudkan adalah hakikat spiritual bathiniah kita. Bukan hati dalam arti fisik. Hati di sini adalah sumber cahaya bathiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih. Seorang sufi sejati hatinya hidup, terjaga, dan limpahi cahaya. Seorang sufi menuturkan, “jika kata-kata berasal dari kata, ia akan masuk ke dalam hati, jika ia keluar dari lisan, maka ia hanya sekedar melewati pendengarannya”. 


Quraish Shihab berpendapat bahwa kata “hati” sepadan dengan kata “qalbu”. Qolbu berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata kerja qalaba yang artinya membalik, berpotensi untuk berbolak balik yaitu di satu saat merasa senang, di saat lain merasa susah, suatu kali mau menerima dan suatu kali menolak. Hati tidak konsisten, kecuali yang mendapat bimbingan cahaya Ilahi.[1]
Dalam hal ini al-Ghazali (451-505 H/1059-1111 M) menjelaskan ada dua pengertian kasar, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada di sebelah kiri yang di dalamnya terdapat rongga dan disebut jantung. Sedangkan hati yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan atau rohaniah, yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap pengertian, pengetahuan arif.[2]
Qalb mampu menampung perasaan takut, gelisah, harapan, dan ketenangan. QS. Al-Ahzab: 26.
Dan dia menurunkan orang-orang ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan”. 
Ayat-ayat yang terkait dengan al-Qalb
Aql mampu menerima dan menyimpan sifat-sifat seperti keteguhan hati, kesucian, kekasaran, kekerasan, dan sifat sombong. Di antara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut : QS. Al-Hajj: 53
Agar dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat
Dalam ayat tersebut di atas, demikian juga ayat-ayat lainnya, jelas disebutkan bahwa Qalb menerima penyakit hati (marad) dan juga dapat bersifat kasar, keras, dan kejam. Kemudian dalam ayat lainnya dijelaskan bahwa Qalb punya kemampuan untuk berzikir dan dengan dzikir ia akan menjadi tenang. Diantaranya adalah ayat berikut: QS. Ar-Ra’d: 28
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
Dijelaskan bahwa Qalb punya kemampuan untuk memahami (dengan menggunakan aql). Fakta-fakta sejarah dengan mengarahkan kemampuan pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Di samping itu ia dapat menjadi buta karena tidak digunakan. Di antara ayatnya adalah sebagai berikut : QS. Al-Hajj: 46
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa Qalb dalam arti fisik adalah jantung yang merupakan pusat peredaran darah di seluruh tubuh. Akan tetapi dalam pengertian metafisik, maka qalb adalah suatu dimensi jiwa yang mempunyai kemampuan memahami seperti aql namun disamping itu ia juga memiliki kemampuan lain yaitu penghayatan dan perasaan, seperti: rasa takut, benci, rindu, cinta, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bahwa Qalb memiliki dua kecerdasan ganda, yaitu mencerdaskan rasional dan kecerdasan emosional. Oleh karena itulah, istilah qalb dalam al-Qur’an disebut juga dengan istilah: sadr, fuad, lubb, syaqaf. Disebut dengan sadr karena al-Qalb menjadi tempat terbitnya ma’rifat kepada Allah. Disebut dengan lubb karena qalb menjadi tempat terbitnya tauhid. Kemudian disebut syaqaf karena qalb itu tempat munculnya kecintaan terhadap sesama makhluk dan manusia.[3]
Ayat-ayat yang lalu menguraikan kesudahan yang dialami oleh kaum kafir yang dihalau kembali ke Makkah dan sekitarnya. Di sini diuraikan apa yang terjadi atas sekelompok orang-orang Yahudi yang mengkhianati Piagam Madinah dan memihak kepada kaum musyrikin. Ayat di atas menyatakan bahwa : Dan Dia Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa itu menurunkan orang-orang yang membantu kelompok koalisi itu, yakni dari segolongan ahl al-kitab yaitu Bani Quraizhah- menurunkan mereka dari benteng-benteng mereka, dan Dia mencampakkan rasa takut dalam hati mereka baik sebelum maupun sesudah mereka turun. Sekelompok dari mereka kamu bunuh, yaitu kaum pria yang memandang senjata dan sekelompok yang lain kamu tawan yaitu anak-anak dan kaum wanita. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah antara lain kebun-kebun mereka dan harta benda mereka yang lain, dan begitu pula kamu akan dianugerahi tanah yakni wilayah lain yang belum kamu injak yakni kuasai baik yang dihuni oleh ahl al-kitab seperti Khaibar, dan adalah Allah terhadap segala sesuatu Maha Kuasa.
Di Madinah hidup sekian banyak suku Yahudi, antara lain Bani Quraizhah. Ketika Nabi Saw tiba di Madinah, beliau membentuk masyarakat Madani, di mana pemeluk-pemeluk berbagai agama hidup tenang dan bekerjasama, serta bersatu padu menghadapi musuh dari luar. Wakil-wakil dari masyarakat menandatangani apa yang dinamai “Piagam Madinah”. Salah satu di antara kelompok adalah Bani Quraizhah. Tetapi ternyata kelompok itu berkhianat, dengan bergabung bersama kelompok-kelompok kaum musyrikin yang menyerang kota Madinah. Nah, ketika Nabi kembali ke Madinah sebelum shalat Asyhar –setelah kegagalan pasukan musyrik– Allah memerintahkan beliau untuk menyerang Bani Quraizhah. Ketika itu mereka bermukim di sebelah tenggara kota Madinah. Rasul bersabda: “Janganlah ada salah seorang dari kamu yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”. Orang-orang Yahudi itu dikepung sehingga mereka berlindung di benteng-benteng mereka yang tinggi. Setelah berlalu dua puluh hari, mereka menawarkan perdamaian, mereka mengusulkan agar diperlakukan seperti kelompok Yahudi yang sebelumnya juga telah berkhianat yaitu kelompok Bani Nadhir. Mereka diizinkan meninggalkan tempat sambil membawa apa yang dapat dibawa oleh unta-unta mereka. Setelah perundingan yang alot, mereka akhirnya setuju untuk menetapkan seseorang yang disepakati kedua pihak akhirnya menerima Sa’id ibn Mu’adz, salah seorang tokoh muslimin yang menjadi hakim pemutus. Beliau memutuskan membunuh pasukan (lelaki) dan memperbudak wanita-wanita mereka. Rumah-rumah kediaman Bani Quraizhah diserahkan kepada kelompok Muhajirin.
Kata (صياصيهم) adalah bentuk jamak dari kata (صيصية) yang pada mulanya berarti tanduk kerbau. Makna ini kemudian berkembang menjadi “benteng” tempat perlindungan, bagaikan mempersamakannya, dengan tanduk yang dijadikan alat untuk mempertahankan diri.
Ayat di atas mendahulukan kata (فريقا)/sekelompok yang menjadi objek (تقتلون)/kamu bunuh, sedang objek (تأسرون) kamu tawan diletakkan sesudahnya. Didahulukannya penyebutan objek yang dibunuh untuk menggambarkan betapa besar kemenangan Nabi dan sahabat-sahabat beliau, karena kekuatan Bani Quraizhah benar-benar terpatahkan dengan terbunuhnya kaum pria yang berpotensi menyerang Nabi saw.[4]

[1] Frager Robert, Psikologi Sufi Untuk Transformasi Hati, Diri dan Jiwa, Jakarta, 2002, hlm. 53
[2] Dr. H. Asep Usmar Ismail, Tasawuf, Jakarta, 2005, hlm. 41.
[3] Dr. Burhanuddin, Paradigma Psikologi Islam, Yogyakarta, 2004, hlm. 124.
[4] Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jakarta, 2003.
Share:

Google+

Diberdayakan oleh Blogger.