Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan

7 November 2009

KONSEP AL-QUR’AN TENTANG HARI AKHIR

Hari kiamat (يوم القيامة) dipakai untuk mengistilahkan kehidupan setelah kematian. Mereka-mereka yang beragama meyakini kehidupan akhirat sebagai tempat di mana segala perbuatan seseorang di dalam kehidupan dunia ini akan dibalas. Namun tidak sedikit juga orang yang meragukan akan adanya kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematian). Mereka-mereka yang meyakini pasti akan mengatakan : meyakini hari kiamat sangat mudah, sama halnya meyakini adanya hari esok setelah hari ini, nanti setelah sekarang, memetik setelah menanam. Dengan meyakini adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan di dunia, seseorang akan menjaga dari perbuatan sesuka hatinya, karena ia yakin segala perbuatan dalam kehidupannya sekarang akan dituainya di kemudian hari, yaitu alam sesudah kematian.

QS. al-Waqi’ah 1-12

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya. Maka jadilah ia debu yang beterbangan. Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan.
Al-Waqi’ah termasuk salah satu nama hari kiamat, kiamat dinamai al-Waqi’ah karena hari kiamat itu pasti terjadi dan ada. Hal ini seperti firman-Nya dalam surat al-Haqqat : 15
“Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat”.
Jika Allah menghendaki kejadiannya, tidak ada seorangpun yang dapat mengalihkan atau menolak kejadiannya. Hal ini seperti firman-Nya “Patuhilah seruan Tuhanmu datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya”.
Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman, “Merendahkan dan meninggikan”, yaitu merendahkan beberapa kaum untuk menuju neraka jahanam, walaupun mereka itu adalah orang-orang mulia selagi di dunia, mengangkat kaum yang lain ke martabat yang tinggi, kenikmatan abadi, walaupun mereka itu orang-orang rendahan kala di dunia.
Firman Allah dalam surat al-Zalzalah : 1-3
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?"
Apabila –dan itu pasti terjadi– bumi digoncangkan dengan goncangannya –yang amat dahsyat yang hanya terjadi sekali dalam kedahsyatan seperti itu–, dan persada bumi diseluruh penjurunya tanpa kecuali –telah mengeluarkan beban-beban berat– yang dikandung –nya, baik manusia yang telah mati maupun barang tambang yang dipendamnya atau apapun selainnya dan ketika itu manusia yang sempat mengalaminya bertanya –dalam hatinya– keheranan: “Apa yang terjadi baginya sehingga dia bergoncang demikian dahsyat dan mengeluarkan isi perutnya?”.
Dalam ayat 7 dijelaskan bahwa manusia pada waktu itu berdiri atas golongan-golongan, yaitu golongan kanan, golongan kiri dan golongan orang yang paling dahulu beriman. “golongan kanan” adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kanan yang menunjukkan mereka ahli surga. Tentulah keadaan mereka sangat baik dan sangat menyenangkan. Dan “golongan kiri” ialah orang-orang yang menerima buku dengan tangan kiri yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahli neraka dan akan mendapat siksa dan hukuman yang sangat menyedihkan. Berkenaan dengan ini Mu’adz bin Jabal meriwayatkan:
أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص.م تَلاَ هَذِهِ اْلآيَةَ ثُمَّ قَبَضَ بِيَدِهِ قَبْضَتَيْنِ وَقَالَ: هَذِهِ فِى الْجَنَّةِ وَلاَ اُبَالِى وَهَذِهِ فِى النَّارِ وَلاَ اُبَالِى.
“Nabi Besar Muhammad saw, tatkala membaca ayat di atas, beliau menggenggamkan kedua belah tangannya lalu berkata, “Ini (yang digenggam dengan tangan kanan beliau) adalah ahli surga dan tidak perlu aku mempertahankan (yang digenggam dengan tangan kiri beliau) ini adalah ahli neraka dan tidak perlu aku memperhatikan”.
Dalam ayat 10 dijelaskan bahwa orang-orang yang paling dahulu beriman kepada Allah SWT, tidak asing lagi bagi kita pribadi dan kebesarannya serta perbuatan-perbuatan mereka mengagumkan. Dapat diartikan pula bahwa orang-orang yang paling dahulu mematuhi perintah Allah, mereka pulalah yang paling dahulu menerima rahmat Allah.
Ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “assabiqun” ialah mereka yang disebut dalam hadits Siti ‘Aisyah, sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رَضي الله عنها أنّ رسول الله ص.م قال: أَتَدْرُوْنَ مَنِ السَّابِقُوْنَ اِلَى ظِلِّ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالُوا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ. قال: اَلَّذِيْنَ اِذَا اَعْطَوْاالْحَقَّ قَبَلُوْهُ وَاِذَا سُبلُوْا بَذَلُوْهُ وَحَكَمُوا لِلنَّاسِ كَحُكْمِهِمْ ِلاَنْفُسِهِمْ (أخرجه احمد)
“Nabi besar Muhammad saw telah bersabda: “Apakah kamu sekalian tahu siapa yang paling dahulu mendapat rahmat dari Allah pada Hari Kiamat nanti?” mereka (para sahabat) berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda: “Mereka itu adalah orang yang apabila diberi haknya lalu menerimanya dan apabila diminta orang diberikannya. Apabila menjatuhkan hukuman terhadap orang lain sama seperti mereka menjatuhkan hukuman terhadap diri mereka sendiri”.
Sedangkan Al-Auza’i menafsirkan, yang diterimanya dari Ustman bin Abi Saudah, tafsir ayat “orang-orang yang paling dahulu” itulah orang-orang yang paling dekat, di dalam surga yang penuh kesenangan. Tafsirnya ialah orang-orang yang bila datang waktu shalat, dia yang datang paling dahulu ke masjid, jika datang panggilan berperang di jalan Allah, dia pula yang dahulu tampil dengan sikap siaganya yang menghadapi maut. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman, “mereka itulah orang-orang yang didekatkan berada dalam surga kenikmatan”, yaitu orang-orang yang didekatkan kepada kasih dan ridha-Nya.
Dalam surat al-Qiyamah : 3-4
“Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”.
Apa yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya tentang Hari Kiamat mestinya disambut dengan pembenaran oleh seluruh makhluk, tetapi ada yang enggan percaya. Mengapa dia enggan? Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya yang telah terserak setelah kematiannya? Bukan demikian, sungguh Kami Kuasa menyempurnakan yakni menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna.
Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap pemantapan keimanan pada hari akhir itu. Perhatian yang besar itu dapat kita saksikan dari beberapa hal di bawah ini:
Pertama: Dihubungkannya dengan keimanan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, tetapi yang disebut kebaikan ialah seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. (QS. Al-Baqarah: 177)
Kedua: Amat banyak sekali uraian perihal hari kiamat yang disebutkan oleh al-Qur’an, bahkan hampir tidak ada satu suratpun yang tidak memuat pembahasannya. Diuraikan pula hal-hal yang dapat mendekatkan pemahaman untuk jiwa dan kalbu. Kadang-kadang dengan menggunakan keterangan dan kupasan yang nyata, kadang-kadang dengan membuat perumpamaan.
Ketiga: Siapa yang mengikuti isi al-Qur’an dan meneliti betul ayat-ayatnya, tentu ia dapat mengetahui bahwa Allah SWT tidak mengemukakan hari kiamat dengan sebuah nama saja, tetapi menggunakan nama-nama yang berlainan dan setiap nama menunjukkan pengertian yang akan terjadi pada hari yang kesemuanya berupa kesukaran dan kesengsaraan. Misalnya ialah sebagai berikut:
  1. Hari kebangkitan (yaumul ba’tsi) sebagaimana firman-Nya: “Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu Telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)." (QS. ar-Rum: 56)
  2. Hari kiamat (yaumul qiyamah) sebagaimana firman-Nya, “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam”. (QS. az-Zumar: 60)
  3. Saat atau masa (sa’ah) sebagaimana firman-Nya, “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan”. (QS. al-Qamar: 1). Juga firman-Nya, “Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)”. (QS. al-Hajj: 1)
  4. Akhirat (akhirah) sebagaimana firman-Nya, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.
  5. Hari pembalasan (yaumudin) sebagaimana firman-Nya, “Allah yang merajai hari pembalasan”. (QS. al-Fatihah: 3)
  6. Hari penghitungan (yaumul hisab) sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya diriku kepada Tuhanku dan Tuhanmu semua dari setiap orang yang sombong yang tidak mempercayai hari hisab (perhitungan amal) nanti”. (QS. Ghafir: 27)
  7. Kejadian yang menyelubungi (ghasiyah) sebagaimana firman-Nya, “Sudahkah sampai kepadamu berita ghasyiah (kejadian yang menyelubungi)”. (QS. al-Ghasyiah: 1)
  8. Peristiwa yang dahsyat (waqi’ah) sebagaimana firman-Nya “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. QS. al-Waqi’ah: 1-3)
  9. Hari bangkit (yaumul khuruj) sebagaimana firman-Nya, “Pada hari mereka mendengar teriakan dengan hak. Itulah hari khuruj (kebangkitan dari kematian)”. (QS. Qaf: 42).
  10. Hari penyesalan (yaumul hasrah) sebagaimana firman-Nya, “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman”. (QS. Maryam: 39)

Tanda-tanda Hari Akhir sebagai berikut :

1. Terbelahnya bulan (al-Qamar: 1)
“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan”.
2. Peperangan dan kekacauan
“Rasulullah saw bersabda: “Al-harj (akan meningkat)”, mereka bertanya “Apakah al-harj itu?” beliau menjawab, “(yaitu) pembunuhan (saling membunuh)”. HR. Bukhari.
3. Kehancuran kota-kota besar: peperangan dan bencana
“Berbagai kota besar akan dihancurkan dan hal ini akan terjadi seolah-olah kota itu tidak pernah ada sebelumnya”. (Al-Mutta al-Hindi, al-Burhan fi alamat al-mahdi akhir al-zaman).
4. Gempa bumi
“As-Sa’ah (hari akhir) tidak akan terjadi hingga gempa bumi akan sangat sering terjadi”. (HR. Bukhari)
5. Kemiskinan
“kekayaan akan beredar di antara orang-orang kaya, tanpa manfaat bagi orang-orang miskin”. (HR. Tirmidzi)
6. Runtuhnya nilai-nilai akhlaq
“Hari kiamat (as-sa’ah) akan datang ketika perzinaan tersebar luas”. (Al-Haythami al-Fitan)
7. Munculnya nabi-nabi palsu
“Hari akhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh dajal, masing-masing dirinya mengaku sebagai utusan Allah”. (HR. Abu Daud)
8. Terlihatnya api di timur
“Munculnya sebuah kebakaran besar yang terlihat di timur hingga mencapai dilangit hingga tiga malam. Terlihatnya warna merah yang besar tidak semerah warna fajar lazimnya, dan merebak diantara horizon”. (Al-Muttaqi al-Hindi, p. 22).
9. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj ke bumi untuk melakukan pengrusakan
10. Matahari terbit dari arah barat dan tenggelam di timur.

Detik-detik kiamat sebagai berikut:

  1. Ibu yang menyusu akan meninggalkan anaknya
  2. Planet bertabrakan satu sama lain
  3. Gunung-gunung berterbangan
  4. Iman di hati hilang
  5. Tiupan sangkakala pertama dibunyikan, semua makhluk mati kecuali yang diizinkan oleh Allah.
  6. Tiupan sangkakala kedua, semua makhluk dihidupkan, dikumpulkan untuk dibalas amalnya.
KESIMPULAN
Hari kiamat adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan makhluk hidup di dunia yang harus kita percayai kebenaran adanya yang menjadi jembatan untuk menuju kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi. Iman kepada hari kiamat adalah rukun iman yang kelima. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet sangkakala oleh malaikat Isrofil untuk menghancurkan bumi beserta seluruh isinya.
Hari kiamat tidak dapat diprediksi kapan akan datangnya karena merupakan rahasia Allah SWT yang tidak diketahui siapapun. Namun dengan demikian kita masih bisa mengetahui kapan datangnya hari akhir/kiamat dengan melihat tanda-tanda yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw. Orang yang beriman kepada Allah SWT dan banyak berbuat kebajikan akan menerima imbalan surga yang penuh kenikmatan, sedangkan bagi orang-orang kafir akan masuk neraka untuk disiksa.
Dengan percaya dan beriman kepada hari akhir kita akan didorong untuk selalu berbuat kebaikan, menghindari perbuatan dosa, tidak mudah putus asa, tidak sombong, tidak takabur, karena semua amal perbuatan kita dicatat oleh malaikat yang akan digunakan sebagai bahan referensi apakah kita akan masuk surga atau neraka.

DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Zaini, dkk., Al-Qur’an dan Tafsirnya, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1991.
Hamka, Tafsir al-Azhar, Surabaya: CV. Karunia, 1981.
Nasib, Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani Press, cet. 2, 2000.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, cet.II, vol. 14, 2004.
_______________, Tafsir al-Misbah, Tangerang: Lentera Hati, cet. III, vol. 15, 2005.
Yunus, Mahmud, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2000.
Share:

6 November 2009

ILMU MUNASABAH: DASAR PEMIKIRAN DAN MANFAAT

Kitab suci al-Qur’an merupakan kitab yang berisi berbagai petunjuk dan peraturan yang disyari’atkan dan al-Qur’an memiliki sebab dan hikmah yang bermacam. Dalam ayat-ayat al-Qur’an memiliki maksud-maksud tertentu yang diturunkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan, turunnya ayat juga bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi pada masa itu. Susunan ayat-ayat dan surah-surahnya ditertibkan sesuai dengan yang terdapat dalam lauh al-mahfudh, sehingga tampak adanya persesuaian antara ayat satu dengan ayat yang lain dan antara surah satu dengan surah yang lain.
Oleh karena itu, timbul cabang ilmu dari ulumul Qur’an yang khusus membahas persesuaian-persesuaian tersebut, yaitu yang disebut ilmu munasabah atau ilmu tanaasubil ayati wassuwari. Orang yang pertama kali menulis cabang ilmu ini adalah Imam Abu Bakar an-Naisaburi (324 H). Kemudian disusul oleh Abu Ja’far ibn Zubair yang mengarang kitab “Al-Burhanu fi Munasabati Suwaril Qur’ani” dan diteruskan oleh Burhanuddin al-Buqai yang menulis kitab “Nudzumud Durari fi Tanasubil Aayati Wassuwari” dan as-Suyuthi yang menulis kitab “Asraarut Tanzilli wa Tanaasuqud Durari fi Tanaasubil Aayati Wassuwari” serta M. Shodiq al-Ghimari yang mengarang kitab “Jawahirul Bayani fi Tanasubi Wassuwari Qur’ani”.

Pengertian Munasabah

Menurut bahasa, munasabah berarti hubungan atau relevansi, yaitu hubungan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang sebelum atau sesudahnya.
Ilmu munasabah berarti ilmu yang menerangkan hubungan antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya.
Karena itu sebagian pengarang menamakan ilmu ini dengan “ilmu tanasubil ayati was suwari”, yang artinya juga sama, yaitu ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lain.
Menurut istilah, ilmu munasabah / ilmu tanasubil ayati was suwari ini ialah ilmu untuk mengetahui alasan-alasan penertiban dari bagian-bagian al-Qur’an yang mulia.
Ilmu ini menjelaskan segi-segi hubungan antara beberapa ayat / beberapa surat al-Qur’an. Apakah hubungan itu berupa ikatan antara ‘am (umum) dan khusus / antara abstrak dan konkret / antara sebab-akibat atau antara illat dan ma’lunya, ataukah antara rasional dan irasional, atau bahkan antara dua hal yang kontradiksi.
Jadi pengertian munasabah itu tidak hanya sesuai dalam arti yang sejajar dan parallel saja. Melainkan yang kontradiksipun termasuk munasabah, seperti sehabis menerangkan orang mukmin lalu orang kafir dan sebagainya. Sebab ayat-ayat al-Qur’an itu kadang-kadang merupakan takhsish (pengkhususan) dari ayat-ayat yang umum. Dan kadang-kadang sebagai penjelasan yang konkret terhadap hal-hal yang abstrak.
Sering pula sebagai keterangan sebab dari suatu akibat seperti kebahagiaan setelah amal sholeh dan seterusnya. Jika ayat-ayat itu hanya dilihat sepintas, memang seperti tidak ada hubungan sama sekali antara ayat yang satu dengan yang lainnya, baik dengan yang sebelumnya maupun dengan ayat yang sesudahnya. Karena itu, tampaknya ayat-ayat itu seolah-olah terputus dan terpisah yang satu dari yang lain seperti tidak ada kontaknya sama sekali. Tetapi kalau diamati secara teliti, akan tampak adanya munasabah atau kaitan yang erat antara yang satu dengan yang lain.
Karena itu, ilmu munasabah itu merupakan ilmu yang penting, karena ilmu itu bisa mengungkapkan rahasia kebalaghahan al-Qur’an dan menjangkau sinar petunjuknya.

Dasar-dasar Pemikiran Adanya Munasabah Diantara Ayat-ayat / Surat-surat al-Qur’an

Asy-Syatibi menjelaskan bahwa satu surat, walaupun dapat mengandung banyak masalah, namun masalah-masalah tersebut berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga seseorang hendaknya jangan hanya mengarahkan pandangan pada awal surat, tetapi hendaknya memperhatikan pula akhir surat atau sebaliknya. Karena bila tidak demikian, akan terabaikan maksud ayat-ayat yang diturunkan itu.
Mengenai hubungan antara suatu ayat atau surat dengan ayat atau surat lain (sebelum atau sesudahnya) tidaklah kalah pentingnya dengan mengetahui sebab nuzulul ayat. Sebab mengetahui adanya hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat itu dapat pula membantu kita memahami dengan tepat ayat-ayat dan surat-surat yang bersangkutan. Ilmu al-Qur’an mengenai masalah ini disebut :
علم تناسب الأيات والسّور.
Ilmu ini dapat berperan mengganti ilmu asbabul nuzul, apabila kita tidak dapat mengetahui sebab turunnya suatu ayat, tetapi kita bisa mengetahui adanya relevansi ayat itu dengan yang lainnya. Sehingga di kalangan ulama timbul masalah mana yang didahulukan antara mengetahui sebab turunnya ayat dengan mengetahui hubungan antara ayat itu dengan yang lainnya.
Tentang masalah ilmu munasabah di kalangan ulama’ terjadi perbedaan pendapat, bahwa setiap ayat atau surat selalu ada relevansinya dengan ayat atau surat lain. Ada pula yang menyatakan bahwa hubungan itu tidak selalu ada. Akan tetapi sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat ada hubungannya satu sama lain. Ada pula yang berpendapat bahwa mudah mencari hubungan antara suatu ayat dengan ayat lain, tetapi sukar sekali mencari hubungan antara suatu surat dengan surat yang lain.
Muhammad ‘Izah Daruzah mengatakan bahwa semula orang menyangka antara satu ayat atau surat dengan ayat atau surat yang lain tidak memiliki hubungan antara keduanya. Tetapi kenyataannya, bahwa sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat itu ada hubungan antara satu dengan yang lain.
Sebagaimana contoh surat al-Fath, ada hubungannya dengan surat sebelumnya (surat al-Qital/Muhammad) dan dengan surat sesudahnya (al-Hujurat). Surat al-Fath diturunkan sesudah Nabi mencapai perdamaian Hudaibiyah dengan musyrikin Makkah dan umat Islam mendapatkan kemenangan setelah didahului dengan peperangan dengan musyrikin Arab, maka jelaslah ada hubungannya dengan surat sebelumnya (al-Qital/Muhammad). Setelah kemenangan di tangan Islam dan keamanan serta ketertiban masyarakat sudah mantap, maka turunlah surat al-Hujurat yang mengatur bagaimana seharusnya sikap umat Islam. Mengenai contoh antara ayat satu dengan ayat yang lain dapat dilihat pada uraian-uraian berikut:
Firman Allah dalam surat al-Ghasyiyah ayat 17-20
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20)
Dalam ayat tersebut kelihatan tidak ada relevansinya dan perpaduan pikiran pada ayat tersebut. Sebab meninggikan langit terpisah dari menciptakan unta. Dan menegakkan gunung terpisah dari meninggikan langit dan juga menghamparkan bumi terputus dari menegakkan gunung. Akan tetapi al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhan 1:45, telah menunjukkan ada munasabah antara ayat-ayat itu. Pada waktu turun al-Qur’an masyarakat badui yang masih primitif, binatang unta adalah sangat vital untuk kehidupan mereka dan unta-unta itu membutuhkan air untuk minum. Oleh sebab itu, mereka sering memandang ke langit untuk mengharapkan hujan turun. Mereka juga memerlukan tempat tinggal untuk berlindung dan tiada lain adalah di gunung-gunung, kemudian mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk kelangsungan hidupnya.
Sebagaimana keterangan di atas bahwasanya mencari munasabah atau relevansi antara satu ayat dengan ayat yang lain tidaklah begitu sulit. Sebab pembicaraan kita sedikit yang tidak bisa dipahami dengan satu ayat saja, sehingga perlu ada ayat-ayat yang mengiringinya untuk menjelaskan maksud ayat yang terdahulu. Berbeda dengan mencari hubungan antara surat satu dengan surat yang lain terlihat adanya kesulitan. Oleh karena itu, hanya sedikit ulama tafsir yang mengungkapkan adanya munasabah atau relevansi antara surat satu dengan surat yang lainnya. Mereka cukup mencari-cari adanya dua lafadz yang serupa atau adanya dua ayat yang sebanding dalam kedua surat yang berurutan letaknya baik di permulaan, di pertengahan maupun di penghabisan surat.
Di bawah ini adalah beberapa contoh surat yang ada munasabah / relevansi.
1. Permulaan surat al-Baqarah
“Alif laam miin. Kitab (Al Qur’an) Ini tidak ada keraguan padanya”.
Di dalam ayat ini terdapat isyarah kepada lafaz yang ada di dalam surat al-Fatihah ayat ke enam.
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”
Di dalam surat ini seolah-olah ketika mereka mohon petunjuk ke jalan yang lurus yang mereka mohon itu adalah al-Qur’an. Karena al-Qur’an adalah jalan yang lurus dan tidak ada keragu-raguan di dalamnya seperti surat yang pertama.
2. Surat al-Isra’ yang dimulai dengan tasbih ada munasabah atau relevansi dengan surat al-Kahfi yang dimulai dengan tahmid. Sebab tasbih biasanya didahului dengan tahmid.
3. Surat al-Kautsar merupakan imbangan dari surat al-Ma’un. Sebab pada surat al-Ma’un terdapat tanda-tanda atau sifat-sifat orang munafik sebanyak empat, yaitu kikir, tidak sembahyang, melakukan shalat dengan riya’ (show) dan enggan mengeluarkan zakat. Maka di dalam surat al-Kautsar :
“Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”. (QS. Al-Kautsar: 1)
Sebagai imbangan sifat kikir, dan lafadz فصل (maka shalatlah kamu) sebagai bandingan dengan meninggalkan shalat dan lafadz لربك (untuk keridhaan Allah bukan untuk manusia). Sebagai imbangan dengan sifat riya’, kemudian lafadz وانحر (berkurbanlah) sebagai imbangan sifat ingin memberi zakat dan yang dimaksud dengan وانحر ialah bersedekah dengan daging kurban.
Pencarian-pencarian ini yang dilakukan oleh ulama tafsir tidak sia-sia, sebab tidak sedikit manfaatnya bagi umat Islam yang bermaksud mendalami al-Qur’an. Berkah ketekunan ulama tafsir yang luar biasa itu mereka sendiri puas dan juga memberi kepuasan umat Islam. al-Qur’an mengandung macam hukum dan peraturan dan karena sebab-sebab yang berbeda-beda maka tersusunlah ayat-ayat al-Qur’an dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya dalam tiap-tiap surat. Sehingga apabila kita bisa mengetahui adanya munasabah/relevansi, maka kita tidak perlu mencari sebab turunnya ayat-ayat al-Qur’an satu persatu.

Macam-macam Munasabah

Munasabah / persesuaian / persambungan / kaitan bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lain itu bisa bermacam-macam, jika dilihat dari berbagai seginya.

1. Macam-macam sifat munasabah

Jika ditinjau dari segi sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu ada dua macam, yaitu :
a. Persesuaian yang nyata (dzahirul irtibath) / persesuaian yang tampak jelas yaitu yang bersambungan atau persesuaian antara bagian yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat. Karena kaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali. Sehingga yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain, maka deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu kadang-kadang ayat yang satu itu sebagai penguat, penafsir, penyambung, penjelasan, pengecualian / pembatasan dari ayat yang lain. Sehingga ayat-ayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang sama. Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surat al-Isra’
“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha”.
Ayat tersebut menerangkan Isra Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ayat 2 surat al-Isra yang berbunyi :
“Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil”.
Ayat tersebut menjelaskan diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa as. Persesuaian antara kedua ayat tersebut ialah tampak jelas mengenai diutusnya kedua Nabi/Rasul tersebut.
b. Persambungan tidak jelas (khafiyyul istibadh) samarnya persesuaian antara pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat atau surat itu sendiri-sendiri baik karena ayat-ayat yang satu itu diathofkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surat al-Baqarah dengan ayat 190 surat al-Baqarah. Ayat 189 surat al-Baqarah tersebut berbunyi :
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”.
Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit/tanggal untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji.
Sedangkan ayat 190 surat al-Baqarah berbunyi :
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas”.
Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya / hubungan yang satu dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut yaitu, ayat 189 surat al-Baqarah mengenai soal waktu untuk haji, sedang ayat 190 surat al-Baqarah menerangkan: sebenarnya, waktu itu haji umat Islam dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji.

2. Macam-macam materi munasabah

Ditinjau dari segi materinya, maka munasabah itu ada 2 macam sebagai berikut :

Munasabah antar ayat yaitu munasabah / persambungan antara ayat yang satu dengan yang lainnya. Munasabah itu bisa berbentuk persambungan-persambungan sebagai berikut :

1) Diathofkan ayat yang satu kepada ayat yang lain, seperti munasabah antara ayat 103 surat Ali Imran :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”.
Dengan surat Ali Imran ayat 102 :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
Faedah dari munasabah dengan athaf ini ialah untuk menjadikan 2 ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (an-Nadzraini). Ayat 102 surat Ali Imran menyuruh bertaqwa dan ayat 103 surat Ali Imran menyuruh berpegang teguh pada agama Allah, dua hal yang sama.
2) Tidak diathofkan ayat yang satu kepada yang lain, seperti munasabah antara ayat 11 surat Ali Imran.
“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami”.
Dengan ayat 10 surat Ali Imran
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka”
Dalam munasabah ini, tampak hubungan yang kuat antara ayat yang kedua (ayat 11) dengan ayat yang sebelumnya (ayat 10), sehingga ayat 11 surat Ali Imran itu dianggap sebagai bagian kelanjutan dari ayat 10 surat Ali Imran.
3) Digabungkannya dua hal yang sama, seperti persambungan antara ayat 5 surat al-Anfal
“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya”.
Dengan ayat 4 surat al-Anfal
“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”.
Kedua ayat itu sama-sama menerangkan tentang kebenaran, ayat 5 surat al-Anfal itu menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum mukminin.
4) Dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi (al-mutashadattu)
Seperti yang dikumpulkan ayat 95 surat al-A’raf
“Kemudian kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun Telah merasai penderitaan dan kesenangan"
Dengan ayat 94 surat al-A’raf
“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri”.
Ayat 94 surat al-A’raf tersebut menerangkan ditimpakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 surat al-A’raf menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan.
5) Dipindahkannya satu pembicaraan, ayat 55 surat Shaad :
“Beginilah (keadaan mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk”
Dialihkan pembicaraan kepada nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk sekali, dan pembicaraan ayat 54 surat Shaad yang membicarakan rezeki dari ahli surga.
¨“Sesungguhnya Ini adalah benar-benar rezki dari kami yang tiada habis-habisnya”.

Munasabah antar surat yaitu munasabah / persambungan antara surat yang satu dengan surat yang lainnya.

Munasabah ini ada beberapa bentuk sebagai berikut :

1) Munasabah antara dua surat dalam soal materinya, yaitu materi surat yang satu sama dengan materi surat yang lain.

Contohnya : seperti surat kedua al-Baqarah sama dengan isi surat yang pertama al-Fatihah, keduanya sama-sama menerangkan 3 hal kandungan al-Qur’an, yaitu masalah aqidah, ibadah, muamalah, kisah dan janji serta ancaman. Dalam surat al-Fatihah semua itu diterangkan secara ringkas, sedang dalam surat al-Baqarah dijelaskan dan dirinci secara panjang dan bebas.

2) Persesuaian antara permulaan surat dengan penutupan surat sebelumnya. Sebab semua pembukaan surat itu erat sekali kaitannya dengan akhiran dari surat sebelumnya, sekalipun sudah dipisah dengan basmalah.

Contohnya: seperti awalan dari surat al-An’am yang berbunyi sebagai berikut :
“Segala puji bagi Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”.
Awalan surat al-An’am tersebut sesuai dengan akhiran surat al-Maidah yang berbunyi :
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dan seperti antara awalan surat al-Hadid yang berbunyi sebagai berikut :
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Awalan surat al-Hadid tersebut sesuai dengan akhiran surat al-Waqi’ah:
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar”.
Dan seperti awalan surat al-Quraisy
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy”,
Dengan awalan surat al-Quraisy tersebut sesuai dengan surat al-Fiil:
“Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

3) Persesuaian antara pembukaan dan akhiran sesuatu surat sebab, semua ayat dari sesuatu surat dari awal sampai akhir itu selalu bersambungan dan bersesuaian.

Contoh : seperti persesuaian antara awal surat al-Baqarah
“Alif laam miin. Kitab (Al Qur’an) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”
Awal surat al-Baqarah tersebut sesuai dengan akhirnya yang memerintahkan supaya berdo’a agar tidak disiksa Allah, bila lupa atau bersalah.
“Beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Dan seperti persesuaian antara awal surat al-Mukminun
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”
Dengan akhiran surat tersebut yang berbunyi :
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”.

Faedah Ilmu Munasabah

Faedah mempelajari ilmu munasabah ini banyak, antara lain sebagai berikut :
  1. Mengetahui persambungan hubungan antara bagian al-Qur’an, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu dengan yang lainnya. Sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab al-Qur’an dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatan. Karena itu, Izzudin Abdul Salam mengatakan, bahwa ilmu munasabah itu adalah ilmu yang baik sekali. Ketika menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Beliau mensyaratkan harus jatuh pada hal-hal yang berkaitan betul-betul, baik di awal atau diakhirnya.
  2. Dengan ilmu munasabah itu dapat diketahui mutu dan tingkat kebahagiaan bahasa al-Qur’an dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lain. Serta persesuaian ayat atau suratnya yang satu dengan yang lain, sehingga lebih meyakinkan kemukjizatannya, bahwa al-Qur’an itu betul-betul wahyu dari Allah SWT, dan bukan buatan Nabi Muhammad Saw. Karena itu imam Arrazi mengatakan, bahwa kebanyakan keindahan-keindahan al-Qur’an itu terletak pada susunan dan persesuaiannya, sedangkan susunan kalimat yang paling baligh (bersastra) adalah yang sering berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.
  3. Dengan ilmu munasabah akan sangat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Setelah diketahui hubungan sesuatu kalimat / sesuatu ayat dengan kalimat / ayat yang lain, sehingga sangat mempermudah pengistimbatan hukum-hukum atau isi kandungannya.
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.