20 November 2014

Pembelajaran Tutor Sebaya Dalam Pembelajaran Matematika menurut MC. Keachie

Kenyataannya banyak peserta didik yang sulit untuk mengerti pelajaran matematika, selain itu mereka juga takut bertanya pada guru. Oleh karena itu, model pembelajaran tutor sebaya perlu digunakan dalam pembelajaran matematika. Dengan penggunaan model pembelajaran tutor sebaya ini, diharapkan peserta didik mampu mengerti materi matematika yang diajarkan.
Kegiatan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran tutor sebaya akan menimbulkan perilaku peserta didik yang aktif dan kritis serta dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. MC. Keachie mengemukakan 6 aspek terjadinya keaktifan peserta didik.
  1. Partisipasi peserta didik dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran.
  2. Tekanan pada aspek afektif dalam belajar.
  3. Partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar peserta didik.
  4. Kekompakan kelas sebagai kelompok belajar.
  5. Kebebasan belajar yang diberikan pada peserta didik, kesempatan untuk berbuat serta mengambil keputusan penting dalam proses pembelajaran.
  6. Pemberian waktu untuk menanggulangi masalah pribadi peserta didik, baik berhubungan maupun tidak berhubungan dengan pembelajaran.
Share:

Motivasi Belajar dalam Pendidikan

Sejak awal dikembangkannya ilmu pengetahuan, banyak dibahas mengenai bagaimana mencapai hasil belajar yang efektif. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar. Motivasi belajar adalah sebuah ciri pribadi, orangtua dan guru bisa membantu mengembangkan sebagaimana mereka juga mungkin memelihara keteguhan hati atau kepercayaan diri dalam diri seorang anak. Terkadang pertumbuhan motivasi belajar tidak terlihat atau tampak terhenti dalam jangka waktu yang lama.[1]
Smith (dalam Good, 1980) yang menulis khusus analisis kegiatan belajar telah mengemukakan definisi tentang belajar sebagai berikut:[2] 
Learning refers to changes in behavior, changes which are attributable to aset of antecedent conditions categorized as growth, physiology, perception, orang motivation. In addition, the changes in performance, which we define as learning, are relatively speaking, permanent rather than transitory; they persist for some time, if only for a few minutes. 
Dalam definisi yang dikemukakan oleh Smith tersebut dapat dijumpai dua istilah penting sebagai hasil belajar yaitu behavior (tingkah laku) dan performance (penampilan) yaitu dua istilah yang menunjukkan sesuatu yang dapat diamati oleh orang lain.
Proses pembelajaran yang dilakukan dalam kelas, merupakan aktifitas mentransformasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pengajar diharapkan mampu mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik secara penuh. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dapat mengembangkan cara-cara belajar mandiri, berperan dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses pembelajaran itu sendiri. Disini pengalaman peserta didik lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.[3]
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik.[4]

[1] Nur Setiyo Budi Widarto, Hasrat untuk Belajar (Membantu Anak-anak Termotivasi dan Mencintai Belajar), Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2004, hal. 41
[2] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran secara Manusiawi, Rineka Cipta, Jakarta: 1993, hal. 22-23
[3] Martinis Yamin, Pengembangan Kompetensi Pembelajaran, Universitas Indonesia Press, Jakarta: 2004. hal. 60.
[4] Amin Suyitno, Pemilihan Model-model Pembelajaran dan Penerapannya di Sekolah, hal. 1
Share:

19 November 2014

KEAJAIBAN AIR SUSU IBU (ASI)

Air susu ibu atau ASI adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat serta mengandung nutrisi-nutrisi dasar dan elemen, dengan jumlah yang sesuai untuk pertumbuhan bayi yang sehat.
ASI pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong dan mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Kolostrum yaitu cairan bening berwarna kekuning-kuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran sampai kira-kira seminggu sesudahnya. Bila ibu tidak dapat menyusui anaknya, harus digantikan oleh air susu dari orang lain atau susu formula khusus. Susu sapi tidak cocok untuk bayi sampai berusia 1 tahun.
ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan-makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan teknologi masa kini tidak mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman, 31: 14)
ASI mempunyai fungsi yang sangat penting untuk bayi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan penyakit serta menyediakan lingkungan yang ramah bagi bakteri menguntungkan yang disebut flora normal, yang keberadaannya menghambat perkembangan bakteri, virus, dan parasit berbahaya. 

ASI Berkaitan dengan al-Qur’an 

Al-Qur’an lebih dari empat belas abad menganjurkan ASI. Seperti telah dikemukakan yaitu pada QS. Al-Baqarah, 2: 233 “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan susunannya...”, QS, ath-Thalaq, 65: 6 “…kemudian jika ia menyusukan anak-anakmu…. Dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan anak itu”, QS. Al-Qashash, 28: 7 “…susuilah dia…”, dan an-Nisaa’, 4: 23 “lebih menekankan pria yang haram dinikahi, salah satunya ibu dan saudara sepersusuan”.
Dari ketiga ayat al-Qur’an di atas, maka di dalam al-Qur’an telah dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi-bayi / anak-anak mereka selama kurang lebih dua tahun untuk menyempurnakan susunannya dan baru disapih setelah dua tahun.
Dalam beberapa buku tentang sejarah Islam, disana diceritakan bahwa Rasulullah mempunyai ibu susu yang bernama Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad kabilah Hawazin. Beliau diasuh dan dibesarkan sampai usia lima tahun. Hal tersebut sesuai dengan ayat al-Qur’an surat ath-Thalaq, 65: 6 yang telah dijelaskan di atas.
Allah menganjurkan seorang ibu memberikan ASI kepada anaknya karena di dalam ASI terdapat zat-zat gizi dan sari-sari makanan yang sangat dibutuhkan oleh bayi untuk perkembangannya. Selain itu komposisi ASI yang sangat unik dan spesifik yang tidak bisa tertandingi oleh makanan bayi lainnya.
Sebelum orang-orang melakukan penelitian tentang ASI, Allah telah menganjurkan pemberian ASI. Penelitian-penelitian oleh para ilmuwan adalah pembuktian dari apa yang terkandung di dalam al-Qur’an. Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya, biarpun itu sekecil biji dzarrah.
Ciri menakjubkan lain dari Asi adalah fakta bahwa ASI sangat bermanfaat bagi bayi apabila disusui selama dua tahun. Pengetahuan penting ini, hanya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan, telah diwahyukan Allah 14 abad silam yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah, (2): 233. 

ASI Berkaitan dengan Psikologis 

Bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orangtua. Selain itu bayi juga akan merasa aman dan nyaman serta kepercayaan diri juga mengandung arti kasih sayang implisit antara ibu dan anak.
Montgomery dan timnya meneliti bagaimana bayi berusia 10 tahun yang diberi ASI dan yang diberi susu formula menghadapi stres akibat masalah perkawinan orang tuanya.
Sekitar 9000 bayi menjadi responden penelitian ini. Mereka dimonitor sejak lahir sampai masuk sekolah. Guru-guru di sekolah juga ditanyai tentang tingkat kegelisahan anak-anak tersebut dalam skala 0-50. Ternyata anak yang dulunya mendapat ASI bisa menghadapi masalah dan stres lebih baik dibandingkan yang tidak mendapat ASI. Tetapi para peneliti belum mengetahui berkaitan antara ASI dengan tingkat kegelisahan. Menurut dugaan sementara, anak-anak yang disusui tidak mudah gelisah karena saat disusui mereka merasa mendapat kasih sayang orangtuanya, pelukan dan dekapan ibu saat menyusui juga menenangkan bayi. Selain itu menyusui juga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dalam merespon stres.
Faktor emosi juga sangat berpengaruh pada produksi / keluarnya ASI. Apabila seorang ibu dalam keadaan stres maka ASI akan sulit keluar dan hal tersebut akan mengganggu bayi dalam mengkonsumsi ASI.
Dalam pemberian ASI, hendaknya sang ayah ikut berperan bukan hanya ibu dan bayi saja. Di sini peran ayah misalnya ketika ibu akan menyusui bayinya, ayah membantu dengan menggendong dan meletakkan dalam pangkuan sang ibu. Selain itu, jika ibu dalam keadaan stres atau tegang atau dalam keadaan emosi yang tidak stabil, maka ayah membantu menenangkan ibu, agar ASI dapat keluar dengan lancar. 

ASI Berkaitan dengan Hormon 

Hormon-hormon yang mempengaruhi ASI dihasilkan oleh kelenjar pituitari anterior kecuali pada oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari posterior. Kelenjar pituitari (hipofisis) adalah suatu struktur berbentuk dan seukuran dengan biji buncis (ercis) kira-kira bergaris tengah 1,3 cm dan terikat pada hipotalamus mill infundibulum.
Meskipun ukurannya kecil, tetapi kelenjar pituitari memegang peranan penting dalam koordinasi kimia tubuh dan sering disebut “master of gland”, karena banyak sekresinya mengontrol kegiatan endokrin lainnya.
Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin dan menjalankan fungsinya di tempat lain. Kelenjar endokrin bermuara langsung ke dalam pembuluh darah, sehingga disebut kelenjar buntu. Hormon berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal reproduksi dan tingkah laku dibawah satu koordinasi dengan sistem saraf.
Hormon mempunyai beberapa sifat, yaitu:
  • Beberapa hormon bereaksi segera, lainnya bereaksi secara lambat.
  • Hormon berikatan dengan reseptor spesifik pada atau di dalam sel target.
  • Hormon mungkin memiliki “pembantu pesan kedua” intraseluler.
Hormon yang paling berperan dalam proses laktasi (sekresi susu( adalah oksitosin. Selama pelahiran, oksitosin, mempertinggi kontraksi otot polos dalam dinding uterus. Setelah bayi lahir, oksitosin akan merangsang pengeluaran susu dari kelenjar susu dalam menjawab rangsang mekanik yang diberikan oleh hisapan bayi. Selain hisapan, bisa berupa mendengar tangisan bayi atau sentuhan genital.
Oksitosin mempengaruhi pengeluaran susu dengan refleks neurodokrin lain. Susu dibentuk oleh sel-sel kelenjar buah dada, disimpan sampai bayi giat menghisap. Rangsangan menyentuh reseptor dalam putting mengawali impuls sensori pada hipotalamus. Jawabannya, sekresi oksitosin dari pituitari sangat cepat. Selanjutnya diangkut darah kelenjar susu, merangsang sel-sel otot polos sekeliling sel-sel kelenjar dan saluran untuk sekresi dan ejeksi air susu. Urutan ini disebut refleks ejeksi air susu. Ejeksi susu mulai dengan pelan, kira-kira 30 detik sampai 1 menit setelah penyusuan mulai. Rangsang isapan yang menghasilkan lepasnya oksitosin juga menghambat lepasnya prolaktin. Ini menyebabkan naiknya sekresi prolaktin, sehingga bisa tetap mempertahankan laktasi.  

ASI berkaitan dengan Pencernaan 

Pencernaan berkaitannya dengan zat makanan, zat makanan yang diperlukan tubuh ada 6 macam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Berdasarkan keperluan tubuh dibedakan menjadi 2 kelompok, zat makanan makro (zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah besar, berupa air, karbohidrat, lemak dan protein) dan zat makanan mikro (zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, berupa vitamin dan mineral).
Kolostrum mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI mature (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum akan membantu sistem pencernaan bayi yang baru lahir karena belum berfungsi secara optimal. ASI juga mengandung mineral yang dapat mencegah karies.
Kandungan karbohidrat pada ASI yang relatif tinggi terutama laktosa diperlukan untuk pertumbuhan sistem syaraf, selain itu juga diperlukan untuk absorbsi protein dan pertumbuhan bakteri usus. Laktosa melalui proses fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Suasana asam dalam usus bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang menyebabkan diare dan memacu pertumbuhan mikroorganisme yang berperan dalam sintesis vitamin B kompleks. Kondisi inilah yang menyebabkan Allah menitipkan ASI kepada setiap ibu hamil.
Meskipun disebut sebagai susu, ASI sebenarnya bagian terbesarnya tersusun atas air. Ini adalah ciri terpenting. Sebab selain makanan, bayi juga membutuhkan cairan dalam bentuk air. Keadaan yang benar-benar bersih dan sehat mungkin tidak bisa dimunculkan pada air atau bahan makanan, selain pada ASI.
Karena ASI berupa cairan dan bayi belum mempunyai gigi maka untuk proses pencernaannya tanpa pencernaan secara mekanik tetapi langsung secara kimiawi dengan bantuan enzim.
Jadi, pada ASI terdapat makanan makro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar, sehingga dapat dikatakan bahwa ASI adalah makanan yang sangat cocok dan tepat untuk bayi karena komposisinya yang lengkap dan telah memenuhi kebutuhan gizi bayi.
Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembangan organ.
Sang ibu bukanlah yang memutuskan untuk membuat ASI, sumber zat makanan terbaik bagi bayi yang memerlukan makanan di dalam tubuhnya. Sang ibu bukan pula yang menentukan beragam kadar gizi yang dikandung ASI. Allah maha Kuasalah yang mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup dan memperlibatkan kasih sayang kepadanya, yang menciptakan ASI untuk bayi di dalam tubuh ibu.  

ASI Berkaitan dengan Enzim

Enzim merupakan suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator yang sangat penting bagi reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh. Dengan adanya enzim, suatu reaksi kimia menjadi hemat energi dan berlangsung cepat. Katalisator adalah suatu zat yang mempengaruhi kecepatan reaksi tanpa mempengaruhi hasil akhirnya.
Pembentukan enzim pencernaan bayi baru sempurna pada usia kurang lebih 5 bulan. ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan, yaitu :
  • Lipase : untuk menguraikan lemak
  • Amylase : untuk menguraikan karbohidrat
  • Protease : untuk menguraikan protein
Dengan adanya enzim, maka pencernaan makanan ASI dapat berjalan dengan sempurna. Sehingga ASI dapat dengan mudah dicerna oleh bayi. 

ASI Berkaitan dengan Ekskresi 

Ekskresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme sel yang sudah tidak digunakan oleh tubuh dan dikeluarkan bersama urine, keringat atau udara pernafasan.
Zat makanan yang banyak dikonsumsi manusia adalah karbohidrat, protein dan lemak. Setelah mengalami metabolisme dalam tubuh, zat-zat tersebut akan menghasilkan energi dan zat sisa.
Alat eskresi pada manusia berupa ginjal, kulit, paru-paru dan hati. Organ-organ tersebut mengeluarkan sisa metabolisme dari dalam tubuh. Ginjal mengeluarkan air, NH3. urea dan asam urat. Kulit mengeluarkan air, urea dan garam tertentu dalam keringat. Paru-paru mengeluarkan gas CO2 dan H2O. Hati mengeluarkan zat warna empedu.
ASI dapat dengan mudah dicerna oleh ginjal bayi yang belum sempurna, karena mengandung enzim pencernaan, sehingga sisa metabolisme yang dieksresikan (dikeluarkan) melalui ginjal hanya sedikit dan kerja ginjal pun akan semakin ringan. Lain halnya jika bayi diberi susu formula atau susu sapi maka yang terjadi adalah ginjal akan bekerja keras untuk membuang kelebihan zat gizi yang tidak bisa diserap. Hal ini nampak dari pipis dan berak pada bayi masih berbau dengan frekuensi yang lebih sering. 

ASI berkaitan dengan Perkembangan Otak 

ASI mengandung DHA/AA dalam kadar tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi, terutama sebagai pembentuk sel-sel otak. Selain DHA/AA, Omega-3 sangat penting untuk perkembangan. Jadi, kandungan dalam ASI sangat berperan dalam perkembangan otak dan kecerdasan bayi.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan otak bayi yang diberi ASI lebih baik daripada yang tidak diberi ASI (susu buatan pabrik). Seorang ahli dari universitas Kentucky, James W. Anderson, membuktikan bahwa IQ (tingkat kecerdasan) bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini ditetapkan bahwa ASI yang diberikan hingga 6 bulan bagi kecerdasan bayi, dan bayi yang disusui kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat pada IQ.
IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9,5 tahun mencapai 12,9 point lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.
Dari penelitian di Denmark menemukan bahwa bayi yang diberikan ASI sampai lebih dari 9 bulan akan dewasa yang lebih cerdas. 

ASI berkaitan dengan Antibodi 

Antibodi atau Immunoglobin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel B) akibat kontak dengan antigen. Antigen atau imunogen adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan imun spesifik pada manusia dan hewan. Antibodi mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik.
Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi dari ASI sebenarnya, khususnya immunoglobulin A (IgA), karena memang IgA banyak ditemukan dalam cairan / sekret daripada dalam serum. IgA membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan.
Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi daripada penyakit. Hal ini dikarenakan ASI mengandung banyak nutrisi, hormon, dan enzim untuk pertumbuhan dan kekebalan tubuh yang diturunkan dari ibu ke bayi. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI akan terlindung dari serangan penyakit sistem pernafasan dan pencernaan (diare) dan ASI mampu mengurangi infeksi pada bayi. Hal itu disebabkan zat-zat kekebalan tubuh di dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan serangan penyakit.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Universitas Bristol mengungkap bahwa diantara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya.
-dari berbagai sumber-
Share:

ASURANSI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Hukum Islam telah lama dikenal dalam tataran kehidupan manusia, yaitu kurang lebih 15 abad lalu hukum Islam telah ada bersanding dengan manusia. Pada awal masa Islam di mana kekuatan hukum Islam masih ada di tangan Nabi Muhammad saw, corak dan karakteristik hukum Islam masih diwarnai oleh pembentukan dan kelahirannya. Pada era modern ini perkembangan dan pertumbuhan masyarakat sangat cepat sekali. Masalah yang timbul, juga banyak dan tak terduga, masalah kontemporer bermunculan banyak sekali di antara isu-isu yang muncul ada yang berkaitan dengan isu seputar lembaga-lembaga ekonomi baru yang sebelumnya secara formal dalam dunia Timur belum terlambangkan dalam sebuah institusi seperti lembaga perbankan dan asuransi kedua lembaga ini di dunia Barat merupakan barang lama yang telah ada dan telah menjadi salah satu instrumen sekaligus mesin ekonomi pada era modern. Asuransi sebagai lembaga keuangan non bank, terorganisir secara rapi dalam bentuk sebuah perusahaan yang berorientasi pada aspek bisnis pada era modern. Revolusi industri di kalangan masyarakat Barat mempunyai banyak tuntutan untuk mengadakan sebuah langkah proteksi terhadap aktivitas ekonomi.[1] 
Dalam hal ini, hukum Islam mengemban misi untuk melakukan sebuah proyek Islamisasi ataupun menggali nilai-nilai yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah Rasul dalam membentuk sebuah perangkat asuransi modern yang selaras dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran Islam. Dengan didasarkan pada asumsi awal yang dijelaskan bahwa dalam ajaran Islam telah sempurna dan mempunyai nilai yang universal serta mencakup seluruh aspek hidup manusia yang telah dijamin dengan adanya norma yang mengatur kehidupan tersebut selaras dengan firman Allah SWT,[2] dalam QS. Al-Maidah ayat 3
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Imam Syafi’i sebagai seorang pakar dalam hukum Islam menyatakan bahwa kaidah-kaidah itu untuk menjaga semangat hukum Islam yang fungsi utamanya adalah mengontrol masyarakat dan bukan untuk dikontrol oleh masyarakat. Menurutnya wahyu Allah seperti dikemukakan dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi saw, ditujukan untuk menghadapi setiap kejadian yang mungkin terjadi. Secara implisit Imam Syafi’i berpendapat bahwa segala sesuatu masalah itu sudah disiapkan pemecahannya dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi saw.[3] 
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan keabsahan praktik hukum asuransi. Secara garis besar, kontroversial terhadap masalah ini dapat dipilah menjadi dua kelompok yaitu pertama ulama yang mengharamkan asuransi dan kedua ulama yang membolehkan asuransi. Kedua kelompok ini mempunyai dasar-dasar hukum dan memberikan alasan-alasan hukum sebagai penguat terhadap pendapat yang disampaikannya. Di antara pendapat para ulama dalam masalah asuransi ini ada yang mengharamkan asuransi dalam bentuk apapun dan ada yang membolehkan dalam semua bentuk, ada juga yang berpendapat membolehkan asuransi yang bersifat sosial (ijtima’i) dan mengharamkan asuransi yang bersifat komersial (tijary) serta adapula yang meragukan (subhat).[4] 
Asuransi dilihat dari segi teori dan sistem, tanpa melihat sarana atau cara-cara kerja dalam merealisasikan sistem dan mempraktekkan teorinya sangat relevan dengan tujuan umum syari’ah dan diserukan oleh dalil-dalil juz’inya. Dikatakan demikian karena asuransi dalam arti tersebut adalah sebuah gabungan kesepakatan untuk saling menolong yang telah diatur dengan sistem yang sangat rapi, antara sejumlah besar manusia. Tujuannya adalah menghilangkan atau meringankan kerugian dari peristiwa-peristiwa yang terkadang menimpa sebagian mereka dan jalan yang mereka tempuh adalah dengan memberikan sedikit pemberian dari masing-masing individu. Asuransi dalam pengertian ini dibolehkan tanpa ada perbedaan pendapat, tetapi perbedaan pendapat timbul dalam sebagian sarana-sarana kerja yang berusaha merealisasikan dan mengaplikasikan teori dan sistem tersebut yaitu akad-akad asuransi yang dilangsungkan oleh para tertanggung bersama perseroan-perseroan asuransi.
Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syari’ah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabbaru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syari’ah. Dari definisi di atas tampak bahwa asuransi syari’ah bersifat saling melindungi dan tolong menolong, yang disebut ta’awun yaitu prinsip dalam hidup yang saling melindungi dan saling menolong atas dasar ukhuwah Islamiyah antara sesama anggota peserta asuransi syari’ah dalam menghadapi malapetaka (risiko).[5]

[1] AM. Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam, Jakarta: Prenada Media, 2004, hlm. 6.
[2] Muhammad Syafi’i Antonio, Prinsip Dasar Asuransi Takaful, Jakarta: BAMI, 1994, hlm. 147-149
[3] Ibid., hlm. 97-98.
[4] Nandi Rahman, Asuransi Tafakul Keluarga Menurut Ekonomi Islam, Jakarta, 2002, hlm. 4.
[5] Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS, Asuransi Syari’ah, Jakarta: Gema Insani Press, hlm. 29-30.
Share:

17 November 2014

KONSEP PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Pengertian Sumber Daya Manusia

Dengan ditetapkannya sasaran utama dalam pembangunan yaitu terciptanya kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia yang maju  dalam suasana yang tentram dan sejahtera lahir dan batin, dalam tata kehidupan masyarakat bangsa dan Negara yang berlandaskan pada pancasila, maka sasaran itu sekaligus mencerminkan bahwa kondisi sumber daya manusia masih memerlukan peningkatan dalam berbagai aspek.
Sebagaimana telah difirmankan Allah SWT, dalam surat Al- Baqarah ayat 30, 31, 33, yang artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi "… Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,…. Allah berfirman : "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini."
Dari ayat di atas secara kontekstual memberi dasar kajian tentang sumber daya manusia, yakni Adam yang notabene-nya mempunyai inteligensia yang berkembang (fitrah). Kondisi potensi inilah, yang kita analisis dalam upaya mengembangkan sumber daya manusia . Realitas ini akan semakin terasa dalam globalisasi, yang ditandai dengan pergeseran  yang cepat dalam segala kehidupan.       
Faktor pertama yang harus diperhatikan dalam sebuah organisasi adalah manusia. Ia merupakan aset termahal dan terpenting. ibarat manusia merupakan urat nadi kehidupan dari sebuah organisasi. Karena eksistensi sebuah organisasi ditentukan oleh faktor manusia yang mendukungnya.
Walaupun dalam perkembangannya, manusia pernah diperlukan hanya sebagai alat semata yang nilainya sama dengan alat produksi untuk mencapai hasil yang maksimal. Namun demikian tidak dinafikan, bahwa kunci keberhasilan sebuah organisasi bukan terletak pada alat-alat mutakhir yang digunakan, akan tetapi terletak pada manusia yang berada dibalik alat atau sumber daya tersebut. Tepat kiranya adagium "the man behind the gun" menjadi jargon sepanjang zaman dengan instrument alat yang serba otomatis dan berteknologi tinggi. Jadi, tidak heran jika sumber daya manusia akan terus relevan di tempatkan pada sentral organisasi. (Iilahi, dkk., 2006:187)
Kesadaran manusia akan pentingnya sumber daya manusia bukan hal yang baru. Manusia hidup selalu memikirkan cara memperoleh bahan pangan, sandang, dan papan. Peradaban manusia berpangkal pada usaha mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidupnya.
Sumber daya pernah diidentifikan sebagai alat untuk mencapai tujuan dan kemampuan memperoleh keuntungan dari kesempatan-kesempatan yang ada. Perkataan sumber daya (resources) merefleksikan benda atau substansi, melainkan pada suatu fungsi operasional untuk mencapai suatu tujuan tertentu, seperti memenuhi kebutuhan dan kepuasan. Dengan kata lain sumber daya merupakan suatu abstraksi yang mencerminkan appraisal manusia dan berhubungan dengan suatu fungsi atau operasi.
Siapapun yang mengelola organisasi akan mengolah berbagai sumber daya untuk meraih tujuan organisasi tersebut. Sumber daya yang dimiliki harus dapat dikategorikan atas enam tipe sumber daya (6M) yaitu sebagai berikut:
a.       Man (manusia)
b.      Money (financial)
c.       Material (fisik)
d.      Machine (teknologi)
e.       Method (metode)
f.       Market  (pasar)
Asset yang paling penting harus dimiliki oleh organisasi atau perusahaan dan harus diperhatikan dalam manajemen adalah tenaga kerja atau manusia  (sumber daya manusia).Terminologi sumber daya manusia (human resources) merujuk kepada orang-orang yang bekerja di dalam organisasi. Tatkala para manajer terlibat dalam  aktivitas sumber daya manusia sebagai bagian dari pekerjaannya, mereka berupaya memfasilitasi kontribusi yang disodorkan oleh orang-orang untuk mencapai rencana dan strategi organisasi. Signifikansi upaya sumber daya manusia bermuara pada kenyataan bahwa manusia merupakan elemen yang senantiasa ada di dalam setiap organisasi. Mereka inilah yang bekerja membuat tujuan, mengadakan inovasi, dan mencapai tujuan organisasi. (Samsudin, 2006: 21-23).
Berbicara mengenai masalah sumber daya manusia, sebenarnya dapat kita lihat dari dua aspek, yakni kuantitas dan kualitas. Kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia (penduduk) yang kurang penting kontribusinya dalam pembangunan, dibandingkan dengan aspek kualitas. Bahkan kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan kualitas yang baik akan menjadi beban pembangunan suatu bangsa sedangkan kualitas menyangkut mutu sumber daya manusia tersebut meliputi kemampuan fisik maupun non fisik (kecerdasan dan mental). Oleh sebab itu untuk kepentingan akselerasi suatu pembangunan dibidang apapun, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasarat utama. (Notoatmodjo, 2003: 2-3).
Karena kualitas sumber daya manusia menyangkut dua aspek, aspek kualitas fisik dan aspek kualitas non-fisik, yang meliputi kemampuan bekerja, berfikir, dan berbagai macam ketrampilan, maka upaya peningkatan sumber daya manusia juga dapat diarahkan pada dua aspek penting tersebut. Untuk peningkatan kualitas fisik dapat diupayakan lewat program kesehatan dan gizi. Sedangkan untuk peningkatan kualitas atau kemampuan non-fisik, maka upaya yang diperlukan adalah pendidikan dan pelatihan. Upaya inilah yang dimaksud dengan pengembangan sumber daya manusia. (Halim, dkk., 2005:4).

Pengertian Pengembangan Sumber Daya Manusia

Membicarakan mengenai pengembangan sumber daya manusia erat kaitannya dengan proses pembangunan. Karena, pembangunan manusia mencakup segenap upaya (termasuk investasi) pemerintah, swasta, dan masyarakat umumnya dibidang pendidikan, kesehatan, gizi, serta aspek-aspek kehidupan sosial (kemiskinan, pengangguran, keterbatasan, peluang kerja dan keterbelakangan). Dalam arti luas dan menyeluruh. Dari sinilah diharapkan bahwa setiap dan seluruh manusia dapat mengoptimalkan peran-peran fungsional maupun sosial, ekonomi, politik dan hankam.
Bagi masyarakat Indonesia, termasuk pondok pesantren (ponpes) pengembangan di dalam sumber daya manusia merupakan suatu keharusan. Karena untuk mencapai kemajuan masyarakat harus dipenuhi prasyarat yang diperlukan. Dengan adanya pengembangan sumber daya manusia ini maka akan memberikan kontribusi signifikan bagi upaya peningkatan kehidupan masyarakat.
Dalam hal ini pondok pesantren sebagai agen pengembangan masyarakat, sangat diharapkan mempersiapkan sejumlah konsep pengembangan sumber daya manusia baik untuk peningkatan kualitas pondok pesantren maupun peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Untuk itu sebenarnya sering diselenggarakan seminar tentang pengembangan sumber daya manusia. Namun untuk kalangan pondok pesantren agaknya wacana pengembangan sumber daya manusia perlu dikembangkan lagi. (Halim, dkk., 2005: 2-3).
Organisasi pondok pesantren terdiri dari berbagai individu yang berupaya untuk memenuhi kebutuhannya, dengan menunjukkan peran dan fungsinya masing-masing. Pengembangan sumber daya manusia di pondok pesantren juga diharapkan bisa memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kemampuan kader-kader pondok pesantren yang meningkat akan pemenuhan kebutuhan fisik maupun non fisik mereka.
Pengembangan sumber daya manusia adalah penyiapan manusia  untuk memikul tanggung jawab lebih tinggi dalam organisasi. Pengembangan sumber daya manusia berhubungan erat dengan peningkatan kemampuan intelektual yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan yang lebih baik. Pengembangan sumber daya manusia berpijak pada fakta bahwa setiap tenaga kerja membutuhkan pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan yang lebih baik. Pengembangan lebih focus pada kebutuhan jangka panjang dan hasilnya hanya dapat diukur dalam waktu jangka panjang. Pengembangan juga membantu mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan pekerjaan atau jabatan yang diakibatkan oleh adanya  teknologi baru atau pasar produk baru.
Menurut Maslow, dalam bukunya manajemen dakwah mengatakan bahwa pada hakikatnya pengembangan sumber daya manusia baik secara makro maupun mikro merupakan upaya untuk merealisasikan semua kebutuhan manusia. Hal ini didasari pada pemikiran bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang secara naluri ingin hidup berkelompok. Manifestasi dari kehidupan kelompok ini antara lain munculnya organisasi-organisasi atau lembaga dalam masyarakat. (Illahi, dkk., 2006: 198).
Dalam perfektif Islam, pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu keharusan. Artinya, Islam sangat peduli terhadap peningkatan harkat dan martabat manusia, karena dalam Islam manusia berada pada posisi yang terhormat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 70: 
"Sesungguhnya Kami telah memuliakan manusia (anak-anak adam), Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki berupa hal-hal yang baik dan Kami kembalikan (beri keunggulan) mereka dengan keunggulan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra: 70).
Menurut Islam, pengembangan sumber daya manusia adalah dimaksudkan untuk membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu untuk menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifahnya untuk membangun dan memakmurkan dunia sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah SWT. Konsep tersebut didasarkan pada pandangan, bahwa manusia dalam Islam adalah sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Disinilah para kiai dan banyak pihak mempunyai peran tanggung jawab agar outputs dari pesantren mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk memberi bekal kepada santrinya. Jika bekal ini diberikan kepada santri, insyaallah terpenuhi tuntutan dunia kerja agar mereka mempunyai hal :kualitas kehidupan kerja (Quality of work life); produktifitas kerja (productivity); kepuasan pekerja (Human resource satisfaction); pengembangan pekerja (Human resource development); dan kesiapan untuk mengadakan perubahan. (Halim, dkk., 2005: 93).

Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pengembangan sumber daya manusia untuk jangka panjang adalah aspek yang semakin penting dalam organisasi atau perusahaan. pengembangan sumber daya manusia dalam organisasi dapat mengurangi ketergantungan organisasi untuk menarik anggota baru atau karyawan baru. Pengembangan karyawan secara internal maka lowongan pekerjaan dapat diisi secara internal pula. Pengembangan sumber daya manusia juga merupakan suatu cara yang efektif  guna menghadapi tantangan dan peluang yang dihadapi.
Tujuan pokok pengembangan sumber daya manusia adalah meningkatkan kemampuan, ketrampilan, sikap dan tanggung jawab karyawan sehingga lebih efektif dan efisien dalam mencapai sasaran program dan tujuan organisasi.
Menurut Adrew E. Sikula menyebutkan dalam bukunya manajemen sumber daya manusia bahwa ada delapan jenis tujuan pengembangan sumber daya manusia yaitu sebagai berikut:
  1. Produktifitas (dicapainya produktifitas personel dan organisasi), Quality (meningkatnya kualitas produk)
  2. Human resources planning (melaksanakan perencanaan sumber daya manusia).
  3. Moral (meningkatnya semangat dan tanggung jawab personel atau organisasi)
  4. Indirect compensation (meningkatkan kompensasi secara tidak langsung)
  5. Healthy and safety (memelihara kesehatan mental dan fisik)
  6. Obsolescence prevention (mencegah menurunnya kemampuan personel)
  7. Personal growth (meningkatnya kemampuan individual personel).
Sedangkan tujuan pengembangan sumber daya manusia menurut Islam adalah membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Kata 'takwa' dalam Al-Qur'an mencakup segala sesuatu dan tingkatan kebajikan. Ia merupakan wasiat tuhan kepada seluruh makhluk dengan berbagai tingkatan sejak nabi hingga orang awam. (Shihab, 1992: 34)   

Ciri-Ciri Pengembangan  Sumber Daya Manusia Yang Efektif

Program pengembangan sumber daya manusia yang berhasil adalah yang bersifat sistematik; yakni memiliki tujuan yang spesifik dan berkelanjutan dalam memberikan program pelatihan yang kongkrit dan mudah bagi para partisipan. Disamping itu, ciri yang lain adalah nilai sebuah kebutuhan dan rencana yang terpadu. Program ini juga harus melibatkan semua unsure-unsur dakwah yang terkait.
Menurut Fred Wood, seorang ahli dalam pengembangan sumber daya manusia menyarankan, bahwa program pengembangan itu meliputi lima fase, yaitu readiness (kesiapan), planning (perencanaan), training (pelatihan), implementasi (pelaksanaan), dan maintenance (pemeliharaan).
Pengembangan sumber daya manusia yang diawali dan diakhiri dengan pelatihan, namun yang mengabaikan kesiapan individu untuk melaksanakannya dan mengabaikan pentingnya aktifitas follow-up, cenderung untuk tidak berdampak dalam praktik-praktik dakwah.
Share:

15 November 2014

KONSEP STRATEGI

Pengertian Strategi

Pemahaman antara strategi dengan metode identik dan memiliki pengertian yang tidak sama. Hal inilah yang harus dipahami bahwa persepsi tersebut tidaklah sama. Akan tetapi antara strategi dengan metode keduanya istilah yang sangat berkaitan tetapi berbeda dalam pengertian. Bahwa antara strategi dengan metode saling memiliki korelasi yang sinergis dan berkaitan secara substansial terdapat perbedaan yang asasi.
Metode secara bahasa berasal dari bahasa Yunani "metodos" yang merupakan kata bentukan dari "meta” dan “hodos". Meta mempunyai arti menuju, melalui, sesudah dan mengikuti sedangkan "hodos" bermakna jalan, atau arah. Jadi yang dinamakan metode adalah "jalan untuk menuju." Secara istilah metode lebih dipahami sebagai cara bertindak menurut aturan atau sistem tertentu, kadang juga dipahami secara spesifik sebagai cara berfikir menurut aturan atau sistem tertentu (Sudarto, 1997: 41). Sedangkan strategi berasal dari bahasa inggris strategy, oleh As Hornby disebutkan sebagai the art of planning in war, especially of the movements of armies and navies into favorable positions for fighting. Yang artinya "seni dalam merencanakan operasi-operasi perang, terutama gerakan- gerakan pasukan darat dan laut untuk menempatkan posisi-posisi yang menguntungkan dalam pertempuran". Disamping itu, strategi juga berasal dari bahasa yunani strategi yang artinya the art of general, "seninya seorang jendral atau panglima”. (Sulton, 2005: 234).
Strategi sebenarnya adalah istilah yang berasal dari dunia militer, yaitu usaha untuk mendapatkan posisi yang menguntungkan dengan tujuan mencapai kemenangan atau kesuksesan. Istilah strategi kemudian berkembang dalam bidang termasuk ekonomi, manajemen, dakwah maupun organisasi. Dengan perluasan penggunaan tersebut pengertian strategi mengalami perkembangan, menjadi skill in managing any affairs, yang artinya "ketrampilan-ketrampilan mengelola atau menangani suatu masalah". Bahkan menurut Dr. Jamaludin Darwis M.A, seperti yang dikutip dari H. Mansur, strategi telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. (Darwis, 1998:196).
Dalam konteks organisasi secara keseluruhan, strategi dideskripsikan sebagai suatu cara dimana organisasi akan mencapai tujuan-tujuannya. Sesuai dengan peluang-peluang dan ancaman-ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi serta sumber daya dan kemampuan internal organisasi. Berdasarkan pada definisi tersebut, terdapat tiga factor yang mempunyai pengaruh penting pada strategi, yaitu lingkungan eksternal, sumber daya dan kemampuan internal. Serta tujuan yang dicapai. Intinya, suatu strategi organisasi memberikan dasar-dasar pemahaman tentang bagaimana organisasi itu akan bersaing dan survive.
Strategi ini dalam segala hal digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan tidak mudah dicapai tanpa strategi, karena pada dasarnya segala tindakan atau perbuatan itu terlepas dari strategi. Adapaun mengenai taktik, sebenarnya merupakan cara yang digunakan dan merupakan bagian dari strategi.
Strategi yang disusun, dikonsentrasikan dan dikonsepsikan dengan baik akan dapat membuahkan pelaksanaan yang disebut strategis. Menurut Drs. H. Hisyam Alie, untuk mencapai strategi yang baik harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Kekuatan, yakni memperhitungkan kekuatan yang dimiliki biasanya menyangkut manusia, dana dan beberapa piranti yang dimiliki. 
  2. Weakness, yakni memperhitungkan kelemahan yang dimiliki yang mana memiliki sebagai kekuatan misalnya kualitas manusia, dana dan sebagainya 
  3. Opportunity, yakni seberapa besar peluang yang mungkin tersedia di luar sehingga peluang sangat kecil sekalipun dapat diterobos 
  4. Threats, yakni memperhitungkan kemungkinan adanya ancaman dari luar. 

Mensukseskan Strategi 

Agar strategi yang mereka susun dapat berhasil dengan meyakinkan sehingga menemui kesuksesan. Untuk itu Hatten berpendapat ada  beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam suksesnya strategi antara lain: 
  1. Strategi haruslah konsisten dengan lingkungan dengan jangan melawan arus, tetapi harus dengan mengikuti arus perkembangan dalam masyarakat. 
  2. Setiap organisasi tidak hanya berbuat satu strategi tergantung pada ruang lingkup kegiatannya. 
  3. Strategi yang efektif hendaknya memfokuskan dan menyatukan semua sumber daya dan tidak menceraiberaikan satu dengan yang lain. 
  4. Strategi hendaknya memutuskan perhatian pada apa yang merupakan kekuatannya dan tidak pada titik-titik yang justru pada kelemahannya. 
  5. Sumber daya adalah sesuatu yang kritis, mengingat strategi adalah suatu yang mungkin dibuat memang layak dan dapat dilaksanakan. 
  6. Strategi hendaknya memperhitungkan resiko yang tidak terlalu besar
  7. Strategi hendaknya disusun atas landasan keberhasilan yang dicapai. 
  8. Tanda-tanda dari suksesnya strategi ditampakkan dukungan dari pihak-pihak yang terkait. (Salusu, 1996 : 108)

Implementasi Strategi 

Tahap Implementasi strategi mencakup pelaksanaan tindakan atau aktivitas dari strategi yang dikembangkan dalam proses formulasi strategi. Tanpa implementasi strategi yang efektif, organisasi perusahaan tidak akan mampu memperoleh manfaat dari formulasi strategi (analisis lingkungan, dan penentuan arah organisasi).
Untuk dapat mengimplementasikan strategi, para manajer harus mempunyai gagasan yang nyata dari berbagai isu yang berbeda, misalnya seberapa banyak perubahan yang diperlukan di dalam organisasi apabila mengimplementasikan strategi baru, bagaimana cara yang terbaik membangun budaya organisasi untuk menjamin implementasi strategi berjalan dengan baik, bagaimana membentuk dan mengkaitkan struktur organisasi, pendekatan-pendekatan Implementasi strategi yang dapat diikuti oleh manajer, dan apa keahlian yang diperlukan para manajer dalam mengimplementasikan strategi. (Jatmiko, 2003: 25-26).
Agar supaya organisasi mencapai sasaran jangka panjang yang telah ditetapkan, maka organisasi tersebut tidaklah cukup memformulasi strateginya secara efektif, tetapi juga harus mengimplementasikan strateginya dengan efisien. Jika formulasi strategi dan implementasi strategi tersebut dilaksanakan secara buruk akan berakibat pada kegagalan bagi keseluruhan strategi. Tabel di bawah menggambarkan bagaimana kemungkinan strategi diformulasikan dan diimplementasikan, serta menggambarkan kemungkinan hasil-hasil dari kedua aktivitas dalam empat kemungkinan kombinasi, yaitu sukses, gambling, trouble, dan gagal. (Jatmiko, 2003: 194-195).
Implementasi strategi bertalian dengan pembicaraan tentang struktur organisasi serta sumber daya manusia (staf) dan pengembangannya. (memperoleh kecakapan dan kemampuan).
Implementasi strategi ini didorong oleh keharusan adanya kegiatan mengelola sumber daya manusia. Melalui kerja sama dengan orang lain, alokasi sumber daya diupayakan menciptakan dan memperkuat kemampuan bersaing serta menyepadankan organisasi dengan persyaratan yang diperlukan.
Implementasi strategi merupakan ''action oriented" yang menciptakan sesuatu agar terjadi. Implementasi strategi merupakan tugas mengubah kondisi sekarang, memotivasi sumber daya manusia, mengembangkan kompetisi ini, mencapai target berdasarkan potensi yang ada, serta berupaya untuk menghadapi perlawanan atas perubahan. (Reksohadiprojo, 2003: 69).
Share:

13 November 2014

Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dan pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan utang pada hasil operasi.[1] Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan efektifitas menciptakan laba. Laba pada dasarnya menunjukkan seberapa baik perusahaan dalam membuat keputusan investasi dan pembiayaan.[2] Tujuan utama dari operasi perusahaan jasa adalah untuk menghasikan laba.
Profitabilitas adalah kemampuan bank untuk memperoleh keuntungan. Hal ini terlihat pada perhitungan tingkat produktifitasnya, yang ditunjukan dalam rumus ROA (Return On Assets). Jika kredit tidak lancar, maka profitabilitasnya menjadi kecil. ROA mengandung dua elemen yaitu elemen yang dapat dikontrol dan elemen yang tidak dapat dikontrol.
Elemen ROA yang dapat dikontrol meliputi : bauran bisnis, penciptaan laba, kualitas kredit dan pengeluran biaya. Sedangkan elemen yang tidak dapat dikontrol merupakan elemen di luar lingkungan perusahaan, seperti gejala perekonomian, perubahaan peraturan pemerintah, berubahnya selera konsumen, perubahan teknologi, dan sebagainya.[3] 
Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan bank dalam meningkatkan labanya melalui semua kemampuan dan sumber yang ada sehingga diketahui untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan keuntungan yang dicapai oleh bank tersebut.[4] Tingkat kesehatan bank yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan adalah profitabilitas bank. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan suatu pendapatan atau laba.
Untuk mengukur kemampuan bank memperoleh keuntungan dapat mengunakan rasio profitabilitas tergantung pada informasi yang diambil dari laporan keuangan.[5] Rasio profitabilitas merupakan gambaran kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba. Rasio profitabilitas terdiri dari :
a.      Margin laba (Profit Margin)
Menunjukkan berapa besar persenatase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
b.      Return On Investment (ROI)
Menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Dalam rasio ini jika semakin besar semakin bagus.
c.       Return On Asset (ROA)
Rasio ini menggambarkan keberhasilan manajemen dalam menghasilkan laba secara keseluruhan dengan cara membandingkan antara laba sebelum pajak dengan total aset. ROA juga mengambarkan perputaran aktiva yang diukur dari volume penjualan. Semakin besar ROA suatu bank, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari penggunaan aset. Semakin kecil rasio ini mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen bank dalam hal mengelola aktiva untuk meningkatkan pendapatan dan atau menekan biaya.
ROA merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen dalam meningkatkan keuntungan perusahaan sekaligus untuk menilai kemampuan manajemennya dalam mengendalikan biaya-biaya, maka dengan kata lain dapat menggambarkan produktivitas bank tersebut. ROA digunakan untuk menganalisis tingkat profitabilitas. ROA dihitung dengan cara membandingkan laba bersih dengan total aset atau aktivanya[6].
d.      Return on Equity (ROE)
Return on Equity adalah perbandingan antara labah bersih setelah pajak dengan modal sendiri (equity) merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran deviden.
Kenaikan rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari laba yang bersangkutan yang selanjutnya dikaitkan dengan peluang kemungkinan pembiayaan deviden (terutama bagi bank yang telah go public). Semakin besar rasio ini menunjukkan kemampuan modal disetor bank dalam menghasilkan laba pemegang saham semakin besar. Seberapa besar kemampuan bank memperoleh keuntungan terhadap modal yang ia tanamkan. Untuk mengukur kemampuan bank memperoleh keuntungan terhadap kepentingan pemilik.

[1] Eugene F.Brigham dan Joel F. Houston. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan ; Essentials of Financial Management.(Jakarta: Salemba Empat, 2010), hal. 146
[2] Martono dan D. Agus Harjito. Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi Pertama, Cetakan Kelima. (Yogyakarta: Ekonisia, 2005), hal. 60
[3] Herman Darmawi, Manajemen Perbankan. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hal. 200
[4] Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin. Islamic Banking Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010) hal. 865
[5] Manahan  P. Tampubolon. Manajemen Keuangan (Finance Management). (Bogor : Ghalia Indonesia, 2005), hal. 39
[6] Muhammad. Manajemen Dana Bank Syariah. (Yogyakarta: Ekonisia, 2004), .hal.146
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.