Cari Artikel Disini

October 19, 2009

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah. Manusia tidak akan bisa melakukan pembangunan sebagai tuntutan di era kemajuan ini bila tanpa dibekali dengan pendidikan yang memadai sebab pendidikan merupakan kunci utama untuk mencerdaskan masyarakat di bangsa ini. Karena fungsi pendidikan adalah menghilangkan segala sumber penderitaan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang berpendidikan akan terhindar dari kebodohan dan juga kemiskinan, karena dengan modal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya melalui proses pendidikan ia mampu mengatasi berbagai problema kehidupan yang dihadapinya.

Sebagai suatu sistem, pendidikan nasional haruslah dikelola dengan tepat agar sebagai subsistem dari pembangunan nasional tujuan SISDIKNAS seperti yang diminta dalam pasal 4 UU no. 2 th 1989 dapat tercapai secara efektif dan efisien. Karena dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang amat penting dalam menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Untuk itulah manajemen yang bagus sangat dibutuhkan untuk membentuk suatu lembaga pendidikan yang bermutu.

PEMBAHASAN

A. Manajemen

1. Pengertian Manajemen

Secara umum manajemen didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan tertentu melalui atau dengan cara menggerakkan orang lain. Manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi mengatur atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan sub-sub sistem dan menghubungkannya dengan lingkungan. Manajemen merupakan suatu proses dimana sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan yang lainnya lalu diintegerasikan menjadi suatu sistem menyeluruh untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

2. Prinsip-Prinsip Manajemen

Secara umum, ada 6 prinsip manajemen yaitu Planning [perencanaan], Organizing [pengorganisasian], Coordinating [peng-koordinasian], Communicating [pengomunikasian], Supervising [pengawasan] dan Evaluating [penelitian].

a) Planning (Perencanaan)

Saat kita memasuki abad ke-21, para pembuat kebijakan pada umumnya dan para perencana serta administrator pendidikan pada khususnya terus dituntut untuk mengenali pelbagai faktor yang membentuk masyarakat secara keseluruhan dan berdampak panjang dan konsisten. karena dalam membuat suatu kebijakan perlu adanya perencanaan yang matang, ditakutkan bila suatu kegiatan yang dilakukan tanpa adanya perencanaan yang matang akan mengalami kendala yang berat atau mungkin gagal ditengah jalan.

Perencanaan pendidikan dalam arti yang dinamis merupakan proses kegiatan di dalam manajemen pendidikan yang menyangkut berbagai kegiatan antara lain :

1) Penentuan sasaran yang hendak dicapai

2) Pengalokasian dana

3) Penggunaan tenaga (daya)

4) Pengorganisasian (pewadahan)

5) Metode dan sistem

6) Efisiensi dan efektivitas untuk mencapai sasaran

7) Pengetahuan ruang dan waktu

8) Penilaian terhadap hasil usaha

9) Penentuan langkah / aktivitas selanjutnya.

Hakikat perencanaan pendidikan adalah suatu proses penyiapan informasi dalam bentuk seperangkat alternatif (kemungkinan-kemungkinan) untuk membantu pembuatan keputusan bagi pembentukan kebijaksanaan manajemen dan tindakan administratif. Sedangkan arti perencanaan pendidikan dalam rumusan tradisional adalah merupakan suatu metode untuk melaksanakan desain atas kisi-kisi pokok (master blueprint) yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan definisi perencanaan pendidikan secara komprehensif adalah suatu proses untuk menghasilkan informasi yang handal dalam bentuk alternatif urutan tindakan, bersamaan dengan konsekuensi-konsekuensi daripada alternatif-alternatif tersebut, untuk membantu pembuatan keputusan oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan perumusan kebijaksanaan pendidikan dan administrasi.

Syarat-syarat yang harus diperhatikan adalah :

1) Perencanaan tugas harus didasarkan atas tujuan yang jelas

2) Bersifat sederhana, realistis dan praktis

3) Terperinci, memuat segala uraian dan klasifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan sehingga dipedomani dan dijalankan.

4) Memiliki fleksibilitas sehingga mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

5) Terdapat pertimbangan antara bermacam-macam bidang yang akan digarap dalam perencanaan itu menurut urgensinya masing-masing.

6) Diusahakan adanya penghematan tenaga, waktu dan biaya serta penggunaan sumber daya dan dana yang sebaik-baiknya.

7) Diusahakan agar tidak terjadi duplikasi/ulangan pelaksanaan.

b) Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian merupakan aktifitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam pengorganisasian terdapat adanya tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab secara terperinci menurut bidang-bidang dan bagian-bagian sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan.

Yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain bahwa, pembagian tugas, wewenang dan tanggung-jawab hendaknya disesuaikan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan dan kepribadian masing-masing orang yang di perlukan dalam menjalankan tugas. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengorganisasian ialah aktivitas menyusun dan membentuk hubungan kerja sehingga terwujud kesatuan usaha dalam mencapai maksud dan tujuan pendidikan.

Suatu sistem organisasi pendidikan yang lengkap dan menyeluruh memiliki sub sistem, yakni strategi, operasi dan koordinasi. Komponen-komponen ini terdapat pada tiap jenjang pendidikan, baik pada tingkat program maupun pada tingkat kelembagaan pendidikan.

Pengorganisasian program pendidikan nasional terdiri dari tiga jenjang, yakni tingkat pusat, tingkat propinsi dan tingkat kotamadya/kabupaten. Masing-masing jenjang organisasi program pendidikan tersebut mengandung ketiga komponen [strategi, operasi dan koordinasi].

c) Coordinating (Pengkoordinasian)

Adanya bermacam-macam tugas dan pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang yang memerlukan adanya koordinasi dari seorang pimpinan. Koordinasi yang baik menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat ataupun kesimpang-siuran dalam menjalankan tugas dan kewajiban dan sebagainya.

d) Communicating (Pengomunikasian)

Dalam melaksanakan suatu program pendidikan, aktifitas menyebarkan dan menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud keseluruhan organisasi sangat penting. Bentuk komunikasi yang berbeda akan mendatangkan hasil yang berbeda. Misalnya, komunikasi lisan pada umumnya lebih mendatangkan hasil dan pengertian yang jelas daripada secara tertulis.

Menurut sifatnya, komunikasi ada 2 macam yaitu komunikasi bebas dan terbatas. Dalam komunikasi bebas setiap anggota dapat berkomunikasi secara bebas dengan anggota yang lain. Sedangkan dalam komunikasi terbatas setiap anggota hanya dapat berhubungan dengan beberapa anggota tertentu saja. Untuk melaksanakan program atau rencana dalam batas batas-batas tertentu komunikasi bebas lebih baik daripada komunikasi terbatas. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses yang mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam struktur organisasi.

Dewasa ini di Indonesia terdapat sejumlah media komunikasi massa yang perkembangannya sudah cukup maju dan dapat menjangkau hampir seluruh pelosok tanah air, media komunikasi massa tersebut adalah surat kabar, majalah, radio dan televisi. Melalui media tersebut, budaya, tradisi, kegiatan, kemajuan dan sebagainya yang telah dicapai oleh suatu golongan masyarakat atau daerah tertentu dapat diketahui oleh masyarakat atau daerah lain. Dengan demikian komunikasi massa dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, bahkan sampai batas tertentu dapat mengubah sikap masyarakat, sudah tentu disamping nilai-nilai yang positif, media massa dapat pula menimbulkan efek negatif. Tentang efek negatif acara TV beberapa ahli dan hasil penelitian masyarakat; banyak orang yang membuang waktunya antara 4-6 jam tiap hari untuk mengikuti semua acara TV; film-film banyak yang mempertunjukkan kejahatan, pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Iklan TV dapat menimbulkan penyakit the gimniees terutama pada anak [penyakit merengek ingin dibelikan].

e) Supervising (Pengawasan)

Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervision. Pengawas bertanggung-jawab terhadap efektivitas program yang dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam pengawasan haruslah diteliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.

Fungsi supervisi yang terpenting adalah :

1) Menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang diperlukan.

2) Memenuhi/mengusahakan syarat-syarat yang diperlukan.

Jadi supervisi sebagai fungsi manajemen pendidikan berarti aktivitas untuk menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang esensial yang dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan.

Tegasnya fungsi supervisi adalah untuk memelihara program pengajaran dengan sebaik-baiknya. Jadi melaksanakan supervisi dalam membantu meningkatkan situasi belajar pada umumnya dan membantu guru, agar ia mengajar lebih baik, sehingga dengan demikian murid dapat mengajar dengan lebih baik lagi.

f) Evaluating (Penelitian)

Untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program diperlukan adanya penilaian atau evaluasi. Sedang alasan/dasar evaluasi dalam pendidikan sebenarnya banyak sekali, namun menurut Sumadi Suryabrata bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok yakni dasar psikologis, didaktis dan administratif.

1. Dasar Psikologis

a. Ditinjau dari anak didik

Anak manusia yang belum dewasa pada umumnya belum mampu memilih ide dan melaksanakannya secara lepas dari pendukung ide tersebut.

b. Ditinjau dari pendidik

Orang tua atau wali murid adalah orang pertama yang mempunyai kepentingan mengenai pendidikan anak-anaknya.

2. Dasar Didaktis

a. Ditinjau dari anak didik

Keberhasilan anak didik dalam mencapai status yang terhormat akan menimbulkan kepuasan sehingga akan berusaha untuk lebih giat belajar lagi.

b. Ditinjau dari segi pendidik

Hasil yang telah dicapai siswa akan segera memberi petunjuk terhadap guru, dalam hal-hal apa ia berhasil dan dalam hal-hal apa ia gagal.

3. Dasar Administratif

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan administrasi, maka penilaian mutlak harus dilakukan.

Setiap penilaian berpegang pada rencana tujuan yang hendak dicapai atau dengan kata lain setiap tujuan merupakan kriteria penilaian terhadap pekerjaan seorang guru dalam usaha mendidik dan mengajar muridnya tidak dapat disamakan dengan penilaian tukang jahit dalam menjahit pakaian langganannya atau pekerjaan seorang anemer/ahli bangunan sebuah gedung. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan didirikan untuk memelihara dan memajukan kebudayaan. Dengan demikian, penelitian tentang efisiensi pendidikan bukan untuk menentukan untung rugi secara finansial, tetapi berhasil atau gagalnya pendidikan harus di ukur dari sudut keuntungan atau kerugian masyarakat.

B. Kepentingan Pendidikan

1. Pengertian Dan Pentingnya Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sutisna merumuskan kepemimpinan sebagai “Proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi mendefinisikan kepemimpinan sebagai “Kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien”. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang paling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya; adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.

Dengan pengertian ini dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Dalam proses pengelolaan kegiatan kerjasama, diperlukan kecakapan khusus untuk menggerakkan orang lain, diperlukan cara yang disebut Human Relation disinilah terletak pentingnya kepemimpinan.

Di dalam Islam, arti pentingnya kepemimpinan antara lain ditandaskan dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Umar.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَاْلأِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ أَهْلِِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَاوَمَسْئُولَةٌ, وَالْخَادِمُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ,وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى مَالٍ أَبِيْهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya :

Dari Ibnu Umar r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinanmu. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang ayah adalah pemimpin dan ia diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang Ibu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dan ia dimintai pertanggung-jawabannya dalam mengurus harta dan kekayaan tuannya. Seorang anak adalah pemimpin dan ia dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya dalam menjaga harta benda ayahnya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya”. (H.R Ahmadi).

Dari hadits tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa selama manusia masih merupakan makhluk sosial, mereka selalu ingin hidup bersama dalam masyarakat, baik dalam masyarakat yang primitif maupun modern. Masing-masing individu harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya, baik sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh kelompoknya maupun pemimpin alami, seperti dalam keluarga.

2. Fungsi Kepemimpinan Dalam Pendidikan

Menurut Hadari Nawawi, terdapat asumsi kepemimpinan pendidikan.

a) Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perseorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahkan dari anggota dalam menetapkan keputusan (decision making) yang mampu memenuhi aspirasi di dalam kelompoknya.

b) Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpin sehingga timbul rasa atau sikap percaya diri dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.

c) Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat/buah pikiran dengan sikap harga menghargai sehingga timbul ikut terlibat di kegiatan kelompok/organisasi dan tumbuhnya perasaan bertanggung jawab atas terwujudnya pekerjaan masing-masing sebagai bagian dari pencapaian tujuan.

d) Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok dengan memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengatasinya dengan kemampuan sendiri.

3. Syarat dan Ketrampilan Dalam Pendidikan

a) Syarat dan ketrampilan kepemimpinan umum

Terdapat tiga syarat yang setidaknya dimiliki oleh para pemimpin yang diungkapkan oleh Dr. W.A Gerungan :

1) Social Perception (penglihatan atau wawasan sosial)

Yang dimaksud dengan wawasan sosial disini adalah suatu kemampuan untuk melihat dan mengerti gejala-gejala yang timbul di dalam masyarakat atau kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai perasaan-perasaan, tingkah laku, keinginan dan kebutuhan sesama anggota kelompok.

2) Ability in Abstrack Thinking (kemampuan berfikir abstrak)

Yang dimaksud disini adalah memiliki otak yang cerdas atau memiliki inteligensi yang tinggi, karena berfikir secara abstrak itu dibutuhkan seorang pemimpin untuk melihat, menafsirkan dan menilai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kelompok dan keadaan umum diluar kelompok dalam hubungannya dengan apa yang menjadi tujuan.

3) Emotional Stability (keseimbangan emosi)

Orang yang mudah sekali marah menandakan emosinya tidak mantap dan tidak memiliki keseimbangan emosi. Jangankan menjadi pemimpin orang lain, menenangkan diri sendiri saja tidak mampu. Padahal, seorang pemimpin seyogyanya mampu menciptakan suasana tenang dan aman kepada mereka yang dipimpin. Hal ini hanya mungkin dilakukan apabila sang pemimpin sendiri memiliki sikap tenang dan aman karena memiliki keseimbangan emosional.

Jadi, jelaslah bahwa dalam diri pemimpin harus ada kepribadian yang harmonis, jiwa yang mantap, emosi yang stabil dan keinsyafan yang mendalam akan aspirasi, perasaan. Kebutuhan dan cita-cita para anggota kelompoknya.

b) Syarat dan ketrampilan kepemimpinan pendidikan

Menurut Dr. Hadari Nawawi, untuk menjadi seorang pemimpin dalam lingkungan pendidikan disamping diperlukan persyaratan formal seperti pendidikan atau ijazah juga diperlukan syarat yang lebih bersifat praktis. Syarat-syarat tersebut antara lain :

1. Memiliki kecerdasan atau inteligensi yang cukup baik.

2. Percaya diri dan bersifat membership (ikut memiliki).

3. Cakap bergaul dan ramah tamah

4. Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat/kemampuan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.

5. Organisasi yang berpengaruh dan berwibawa.

6. Memiliki keahlian atau ketrampilan dalam bidangnya.

7. Suka menolong, memberi petunjuk dan dapat menghukum secara konsekuen dan bijaksana.

8. Memiliki keseimbangan atau kestabilan emosional dan bersifat sadar.

9. Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi.

10. Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.

11. Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya.

12. Bijaksana dan selalu berlaku adil.

13. Disiplin

14. Berpengalaman dan berpandangan luas.

15. Sehat jasmani dan rohani

Dengan terpenuhinya persyaratan dan ketrampilan tersebut, seorang pemimpin diharapkan mampu menjalankan peranan kepemimpinan pendidikan sebagaimana yang di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu :

Ing Ngarso Asung Tulodo

Ing Madya Mangun Karsa

Ing (tut) Wuri Handayani.

KESIMPULAN

Begitu pentingnya manajemen dan kepemimpinan dalam setiap aktivitas, termasuk didalamnya aktivitas kependidikan karena sistem manajemen merupakan kunci utama penggerak suatu aktivitas, tanpa adanya manajemen yang bagus, maka suatu organisasi tersebut dikhawatirkan akan mengalami kegagalan, demikian juga bila manajemennya kurang handal dalam melaksanakan sistem manajerialnya, maka sistem manajemen yang baik pun kurang begitu sempurna, atau mungkin timbul kegagalan dalam kepemimpinannya.

Untuk itu antara pembentukan sistem manajemen yang tepat dan kepemimpinan yang bertanggung-jawab terhadap kependidikan diharapkan akan dapat membentuk suatu lembaga pendidikan yang handal dan bermutu.

REFERENSI :

Abu Dohou, Ibtisam dan Fadjar, Malik, H. A. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah), tanpa penerbit dan t.th.

Daryanto, H.M, Administrasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2001.

Hamalik, Oemar, Manajemen Belajar di Perguruan Tinggi, Sinar Baru, Bandung, t.th.

__________________, Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Mandar Maju, Bandung, 1991.

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetisi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

____________________, Manajemen Berbasis Sekolah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.

Sagala, Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Alfabeta, Bandung, 2003.

Sukmadinata, Nana Syaudih, Pengembangan Kurikulum (Teori dan Praktek), Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.

Thoha, Chabib, dan Mu’thi, Abdul, PBM-PAI di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Tilaar, H.A.R., Manajemen Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.