3 November 2009

AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT

Islam adalah agama samawi terakhir yang dirisalahkan melalui Rasulullah SAW. Karena Islam sebagai agama terakhir dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.

Surat al-Ra’du ayat 11

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْ نَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ إِنَّ اللهََ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَا بِأَنْفُسِهِمْ وَاِذَا أَرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّالَهُ وَمَالَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَّالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah, sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Allah.
Ayat ini menerangkan tentang kedhaliman manusia. Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tingkah laku mereka sendiri. Kedzaliman dalam ayat ini sebagai tanda rusaknya kemakmuran suatu bangsa.
لَهُ مُعَقِبَاتِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْقِهِ يَحْفَظُوْ نَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ
Pada tiap manusia baik yang bersembunyi ataupun yang nampak ada malaikat yang terus menerus bergantian memelihara dari kemudharatan dan memperhatikan gerak gerik setiap manusia, sebagaimana berganti-ganti pula malaikat yang lain yang mencatat segala amalannya, baik maupun buruk. Ada malaikat malam dan ada malaikat siang, satu berada disebelah kiri yang mencatat segala amal kejahatan dan satu disebelah kanan yang mencatat segala amal kebajikan, dan dua malaikat bertugas memelihara dan mengawasi manusia. Adapun malaikat yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat Hafadzah.[1]
Adapun keempat malaikat itu tidak akan terlepas dari kita, melainkan kita sedang dalam keadaan mempunyai hadats besar. Sebagaimana dalam sabda Rasul :
اِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لاَيُقَارِقُكُمْ عِنْدَالْخَلاَءِ وَعِنْدَالْجِمَاعِ فَاسْتَحْيُوْهُمْ وَاَكْرَمَهُمْ.
“Sesungguhnya ada malaikat-malaikat yang mengikuti kamu dan tidak terpisah dari kamu melainkan disaat-saat kamu membuang hajat besar atau bersetubuh, maka di segani dan hormatilah mereka.”[2]
إِنَّ اللهََ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى لاَيُغَيِّرُمَا بِأَنْفُسِهِمْ
Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum berupa nikmat dan kesehatan, lalu mencabutnya dari mereka sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Allah juga menyuruh kita (umat-Nya) untuk mengubah suatu kedzaliman karena jika kita tidak merubahnya, maka Allah akan memperluas siksaannya, sedangkan Allah menciptakan manusia di bumi ini untuk menjadi penguasa (khalifah) yang bertugas memakmurkan dan memanfaatkan segala isinya dengan baik bukan untuk merusaknya.[3]
وَاِذَا أَرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مُرَدَّالَهُ
Kita tidak patut dan tidak boleh meminta kepada Allah agar keburukan segera didatangkan sebelum kebaikan atau siksaan sebelum pahala, karena jika Allah telah menghendaki dan menimpakannya kepada mereka, maka tidak ada seorangpun yang dapat menolak takdir-Nya.
وَمَالَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَّلٍ
Tidak ada penolong bagi manusia seorangpun yang dapat mengendalikan urusan mereka, dan tidak ada seorangpun pula yang mampu mendatangkan kemanfataan atau menolak madharat selain Allah SWT. Sebagaimana dalam Firman-Nya Surat al-Hajj ayat 73:
يَاَيُّهَاالنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْالَهُ اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لَنْ يَخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِاجْتَمَعُوْلَهُ وَاِنْ يَسْلُبْهُمُ الدُّبَابُ شَيْئًا لاَيَسْتَنْقِذُهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ
“Hai manusia, telah di buat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu, sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu, amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pulalah yang disembah.”[4]

Surat al-Hujurat ayat 11-13

يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ وَلاَنِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَاْلإِيْمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ () يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَلاَتَجَسَّسُوْاوَلاَيَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ () يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَاُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنْ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ()
(11). Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olok lebih baik dari wanita yang mengolok-olok dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (12). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (13) Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu:
a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ
Kita tidak boleh saling menghina diantara sesamanya. Ayat ini akan dijadikan oleh Allah sebagai peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman diantara kita.
عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ
Allah melarang kita menghina sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik dan lebih mulia disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
وَلاَنِسَاءُ مِنْ نِسَاءِ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ
Orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kekhilafan yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi:
الكِبْرُ بَطْرُالْحَقِّ وَغَمْصُ النَاسِ
“Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”.
وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ
Dalam penggalan ayat ini Allah melarang kita mencela orang lain karena mencela orang lain sama saja mencela diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman Allah SWT yang menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain yaitu:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Neraka wailun hanya buat orang yang suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-Humazah: 1)
Adapun dari arti هُمَزَةٍ yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan لُمَزَةٍ yaitu mencela dengan mulut.[5]
وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ
Allah melarang kita memanggil orang lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan-ejekan, karena hal ini termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah diperbuatnya. Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan) itu mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci sebagaimana gelar yang diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقَ بَعْدَاْلإِيْمَانِ
Allah melarang kita memanggil orang dengan kata “fasik” setelah ia sebulan masuk Islam atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak di sukai.
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Ayat ini di turunkan mengenai “Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang mengadu kepada Rasul bahwa isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai anak dari orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: ayahku Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak bertaubat, maka mereka termasuk orang dholim.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ
Dalam ayat ini Allah melarang bahkan mengharamkan kita berprasangka buruk atau berfikiran negatif terhadap orang yang secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau kita tidak boleh menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.
اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمُ
Allah melarang kita berburuk sangka terhadap orang lain karena sebagian dari buruk sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang baik.
Dalam hal ini prasangka yang di larang adalah prasangka buruk yang dapat menimbulkan tuduhan kepada orang lain, sedangkan prasangka tentang perkiraan itu tidak di larang.
Sebagaimana terdapat dalam suatu hadits :
ثَلاَثٌ لَأَزِمَّاتٌ ِلأُمَتِّى : الطِبْرَةُ وَالْحَسَدُ وَسُوْءُالظَّنِّ
“Tiga macam membawa krisis bagi umatku, yaitu memandang kesialan, dengki, dan buruk sangka”.[6]
وَلاَتَجَسَّسُوْ
Allah melarang kita mencari-cari keaiban dan menyelidiki rahasia seseorang, tapi jika kita memata-matai seseorang atau musuh agar tidak terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
وَلاَيُغَيِّبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Allah melarang mencela orang di belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang dibenarkan adalah jika bertujuan untuk :
a. Untuk mencari keadilan,
b. Untuk menghilangkan kemungkaran,
c. Untuk meminta fatwa atau mencari kebenaran,
d. Untuk mencegah manusia berbuat salah,
e. Untuk membeberkan orang yang tidak malu-malu melakukan kemaksiatan.
اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ
Allah melarang kita membicarakan keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya dengan makan bangkai saudaranya yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini merupakan penghancuran pribadi terhadap saudara yang di cela itu.
وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat dengan di sertai penyesalan dan bertaubat (taubat an-nasukha). Dalam ayat ini Allah juga memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya, membuka pintu selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin bertaubat supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَاُنْثَى
Dalam ayat ini mengandung dua penafsiran, yaitu :
  1. Seluruh manusia diciptakan pada mulanya dari seorang laki-laki, yaitu Adam dan dari seorang perempuan, yaitu Hawa.
  2. Segala manusia sejak dulu sampai sekarang terjadi dari seorang laki-laki dan perempuan.
وَجَعَلْنَكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
Allah menjadikan manusia dari berbagai macam suku dan bangsa agar kita saling mengenal. Ayat ini merupakan dasar demokrasi yang benar di dalam Islam, dengan menghilangkan kasta dan perbedaan.
اِنْ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ
Semua manusia di sisi Allah SWT itu sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.
Taqwa adalah suatu prinsip umum yang mencakup takut kepada Allah dan mengerjakan apa yang diridhoinya yang melengkapi kebaikan dunia dan akhirat. Kemuliaan hati yang di anggap bernilai adalah kemuliaan hati, budi, perangai, dan ketaatan pada Allah.
اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu baik yang tampak ataupun tersembunyi. Dan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya Sang Pencipta.

KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Setiap manusia itu di jaga oleh 4 malaikat hafadhah dan bahwasanya Allah adalah sebaik-baik penolong bagi kita.
  2. Dalam hidup bermasyarakat tidak boleh saling membedakan karena semua sama, tak ada yang beda disisi Allah melainkan ketaqwaannya.
  3. Setiap manusia itu pasti punya kesalahan dan Allah maha penerima taubat hambanya sebelum sakaratul maut.
  4. Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali dia merubahnya dan Allah menyuruh kita untuk memberantas kedzaliman.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mustofa al Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, CV Toha Putra, Semarang, 1988.
H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1988.
H. Mukti Ali, Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT Bumi Restu, Jakarta, 1974.
Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Yayasan Nurul islam, Surabaya, 1982
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000.
__________________
[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur 5 (surat 42-114), PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000, hlm 2074.
[2] H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1988, hlm 431.
[3] Ahmad Mustofa al Maraghi, Terjemah tafsir al-Maraghi, juz XIII, CV Toha Putra, Semarang, 1988, hlm 135.
[4] Mukti Ali, Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT Bumi Restu, Jakarta, 1974, hlm 470.
[5] Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Yayasan Nurul Islam, Surabaya, 1982, hlm 236.
[6] Ibid, hlm 239.
Share:

2 November 2009

AYAT-AYAT TENTANG RISALAH DAN KENABIAN


Menurut bahasa, nabi berarti orang yang memberi kabar, orang yang mengkhabarkan hal-hal ghaib, orang yang meramalkan sesuatu. Adapun yang dimaksud dalam terminologi agama ialah, Nabi adalah seorang manusia yang memperoleh wahyu dari Allah yang berisi syariat, sekalipun tidak diperintahkan untuk disampaikan kepada manusia lainnya. Jika dia mendapat perintah Allah untuk disampaikan kepada orang lain, dinamailah dia Rasul. Setiap Rasul itu Nabi, tetapi tidak setiap nabi itu Rasul. (Kitab al-Jawahirul Kalamiyah)[1]
Dalam hubungan itu perlu dibedakan Rasul berupa malaikat dengan Rasul berupa Nabi, selain Rasul dalam bentuk malaikat, di dalam al-Qur’an juga tidak dapat dibedakan antara Nabi dan Rasul, justru nabi-nabi yang tercantum namanya itu sekaligus sebagai Rasul pula. Firman Allah dalam QS. Al-Hajj : 75/
“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat”.
Dalam ayat tersebut menyatakan bahwa Allah berkehendak dan menetapkan memilih dari jenis malaikat dan juga dari jenis manusia untuk menjadi utusan-utusan-Nya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa risalah illahiyah kerasulan atau kenabian adalah wewenang Allah semata-mata.
Dari uraian ayat di atas bahwa Allah memilih dan menetapkan para utusan-utusan-Nya. Maka tujuan diutusnya Rasul, serta fungsi wahyu akan kita bahas dalam makalah ini. Selain dari kedua hal tersebut, dalam makalah ini juga akan dibahas mengenai misi ajaran seluruh Rasul.
A. Tujuan Diutusnya Para Rasul
1. QS. Al-Baqarah 119
“Sesungguhnya kami Telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka”.[2]
2. QS. Al-Anbiya’ 45
“Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya Aku Hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan"
3. QS. Yasin 11
“Sesungguhnya kamu Hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”.
Kata (اتبع) ittaba’ terambil dari kata (تبع) tabi’a yang berarti mengikuti. Penambahan huruf (ت) ta’ pada kata tersebut mengandung makna kesungguhan. Siapa yang bersungguh-sungguh mengikuti adz-dzikr yakni al-Qur’an, maka dia akan memperhatikan dengan seksama dan meneladani Nabi Muhammad saw, akan lahir keimanan yang kukuh dan mantap.
Penggunaan kata (الرحمن) ar-rahman pada ayat ini dan bukan lafadz “Allah” bertujuan menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad saw, bukan Tuhan yang mereka persekutukan dengan berhala-berhala. Adapaun ar-rahman yang diperkenalkan Rasulullah saw sebagai salah satu nama Tuhan semesta alam. Kaum beriman yakin bahwa Dia Maha Pengasih, namun demikian, keyakinan tersebut tidak menjadikan mereka lengah dari sifat-Nya yang lain, seperti Jabbar/Maha Perkasa lagi Muntaqim/Maha Pembalas kesalahan pendurhaka. [3]
4. QS. An-Nahl 36
“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
Kata (طاغوت) thaghut terambil dari kata (طغى) thagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karena penyembahan berhala adalah sesuatu yang sangat buruk dan melampaui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran, dan kesewenang-wenangan terhadap manusia.
Hidayah (petunjuk) yang dimaksud ayat di atas adalah hidayah khusus dalam bidang agama yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang hatinya cenderung untuk beriman dan berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Secara panjang lebar macam-macam hidayah Allah telah penulis kemukakan ketika menafsirkan surah al-fatihah. Di sana antara lain penulis kemukakan bahwa dalam bidang petunjuk keagamaan, Allah menganugerahkan dua macam hidayah. Pertama, hidayah menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cukup banyak ayat-ayat yang menggunakan akar kata hidayah yang mengandung makna ini, misalnya:
“Dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS. Asy-Syura [42]: 52)
Kedua, hidayah (petunjuk) serta kemampuan untuk melaksanakan isi hidayah itu sendiri. Ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah SWT, karena itu ditegaskannya bahwa :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Qashash [28]: 56).
Allah menganugerahkan hidayah kedua ini kepada mereka yang benar-benar ingin memperolehnya dan melangkahkan kaki guna mendapatkannya.
Ketika berbicara tentang hidayah, secara tegas ayat di atas menyatakan bahwa Allah yang menganugerahkannya, berbeda ketika menguraikan tentang kesesatan. Redaksi yang digunakan ayat ini adalah telah pasti atasnya sanksi kesesatan, tanpa menyebut siapa yang menyesatkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesesatan tersebut pada dasarnya bukan bersumber pertama kali dari Allah SWT, tetapi dari mereka sendiri. Memang ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa : “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki”, tetapi kehendak-Nya itu terlaksana setelah yang bersangkutan sendiri sesat.
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”. (QS. Ash-Shaf [61]: 5)[4]
B. Fungsi Wahyu dalam Kehidupan
Menurut bahasa, wahyu adalah pemberian isyarat, pembicaraan dengan rahasia, menggerakkan hati, penulisan segerakan. Adapun yang dimaksudkan dalam terminologi ialah pemberitahuan Allah kepada Nabi-Nya yang berisi penjelasan dan petunjuk kepada jalan-Nya yang lurus dan benar.
1. QS. Al-Baqarah 213

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.[5]
2. QS. Al-Anbiya’ 25

“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
Kami telah mewahyukan kepadamu bahwa tiada Tuhan penguasa dan pengatur langit dan bumi yang wajar disembah kecuali Aku dan Kami tidak mengutusmu wahai Nabi Muhammad, kecuali untuk mewahyukan kepadamu prinsip pokok itu dan demikian juga, Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya masing-masing prinsip dasar yang sama, yakni: “Bahwa tidak ada Tuhan pencipta dan pengatur alam raya, lagi berhak disembah melainkan Aku, maka karena itu sembahlah Aku sendiri oleh kamu semua dan janganlah kamu mempersekutukan-Ku dengan apa dan siapa pun”.
Ayat di atas menggunakan bentuk jamak ketika berbicara tentang pewahyuan kepada para Rasul, yakni dengan menyatakan (نوحي إليه) nuhi ilaihi/kami wahyukan kepadanya, tetapi menggunakan bentuk tunggal ketika menunjuk Allah SWT (Aku). Hal tersebut agaknya disebabkan karena ada keterlibatan selain Allah dalam penyampaian wahyu yakni malaikat, sedang dalam hal Ketuhanan dan kewajiban beribadah, maka ia adalah hak khusus Allah yang tidak disentuh oleh siapapun dan tidak boleh melibatkan apa dan siapa pun.[6]
C. Misi Ajaran Seluruh Rasul
1. QS. Ibrahim 4
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Di atas penulis jelaskan makna (إلا بلسان قومه) illa bi lisani qaumihi dengan “kecuali dengan bahasa lisan dan pikiran sehat kaumnya”. Ini, karena bahasa di samping merupakan alat komunikasi, juga sebagai cerminan dari pikiran dan pandangan pengguna bahasa itu. Bahasa dapat menggambarkan watak dan pandangan masyarakat pengguna bahasa itu.
Ini merupakan bagian dari kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya bahwa Dia mengutus Rasul-Rasul dari kalangan mereka sendiri dan dengan menggunakan bahasa mereka supaya mereka dapat memahami risalah yang dibawa oleh para Rasul. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Dzar, dia berkata bahwa, rasulullah saw bersabda:
لَمْ يَبْعَثِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيًّا إِلاَّ بِلُغَةِ قَومِهِ (رواه احمد)
“Tidaklah Allah azza wa jalla mengutus seorang Nabi kecuali dengan bahasa kaumnya”. (HR. Ahmad).[7]
2. QS. Fathir 24
“Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan Telah ada padanya seorang pemberi peringatan.
Karena tugas Nabi Muhammad saw selain memberi peringatan juga membawa berita gembira, maka ayat ini melanjutkan dengan menyatakan bahwa : sesungguhnya Kami mengutusmu kepada seluruh umat manusia dengan haq yakni perutusan yang haq lagi membawa kebenaran serta dari sumber Yang Haq yakni Allah SWT, engkau adalah pembawa berita gembira bagi yang taat dan pemberi peringatan bagi yang durhaka. Dan tidak ada satu umat pun dari umat yang terdahulu melainkan telah berlalu yakni telah datang padanya seorang pemberi peringatan – baik sebagai nabi atau Rasul yang ditugaskan langsung oleh Allah, maupun sebagai penerus ajaran Nabi dan Rasul.
Thabathaba’i menjadikan firman-Nya: (وإن من امة إلا خلا فيها نذير) wa in min ummatin illa khala fiha nadzir/ dan tidak ada satu umat pun melainkan telah berlalu padanya seorang pemberi peringatan, menjadikannya sebagai bukti bahwa setiap generasi masa lalu telah didatangi oleh seorang Rasul. Ini karena ulama itu memahami kata nadzir dalam arti “Rasul” yang menyampaikan berita gembira dan peringatan. Memang –tulisnya– tidak harus nabi itu berasal dari anggota masyarakat yang ada, karena ayat ini tidak menggunakan kata minba/ dari mereka tetapi fiha yakni di dalam masyarakat mereka.[8]
3. QS. Al-Mu’min 78

“Dan Sesungguhnya Telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila Telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu Rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil”.
Persoalan ini memiliki banyak latar belakang. Allah mengisahkan sebagiannya di dalam kitab ini, dan sebagiannya tidak dikisahkan. Di antara masalah yang dikisahkan ialah isyarat tentang jalan panjang, yang mengantarkan, yang jelas dan yang memiliki rambu-rambu. Juga dikisahkan apa yang ditegaskan oleh sunnah terdahulu yang berlaku dan tidak dapat diingkari; serta penjelasan tentang hakikat risalah, fungsi Rasul, dan batasan-batasannya dengan sangat jelas.
Allah juga hendak memberikan pengertian kepada manusia ihwal hakikat ketuhanan dan kenabian. Mereka mengetahui bahwa para rasul itu manusia seperti mereka, yang dipilih Allah, dan ditentukan tugasnya. Mereka tidak mampu dan tidak pernah berusaha untuk melampaui batas-batas tugas ini. Juga supaya manusia mengetahui bahwa penangguhan suatu kejadian luar biasa merupakan rahmat bagi mereka.[9]
ANALISIS
Nabi adalah manusia pilihan Allah di antara sekian banyak manusia. Manusia memiliki tingkat kecerdasan, sehingga Nabi itulah yang memiliki tingkat kecerdasan yang paling tinggi. Sebagai insan pilihan Tuhan yang dapat menerima pancaran sinar wahyu, dan dengan akal Nabi yang bening sehingga mudah menangkap wahyu.
Nabi adalah penuntun umatnya dan sebagai suri tauladan. Tujuan diutusnya para Rasul yakni sebagai pembawa kabar gembira, peringatan, dan sebagai suri tauladan yang baik bagi umatnya. Wahyu yang dibawa oleh para Rasul itu secara garis besar berisi:
1. Aqidah
2. Hukum-hukum
3. Akhlak
4. Ilmu Pengetahuan
5. Tarikh
6. Informasi
Misi ajaran seluruh Rasul itu menyampaikan risalah-risalah Tuhan kepada umatnya. Allah mengutus para Rasul dengan membawa risalah sesuai dengan bahasa kaumnya.

KESIMPULAN
Nabi mempunyai prinsip yang sama dan tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Nabi adalah manusia pilihan Allah di antara sekian banyak manusia. Misi ajaran Rasul itu menyampaikan risalah-risalah Tuhan kepada umatnya. Allah mengutus para Rasul dengan membawa risalah sesuai dengan bahasa kaum-Nya.

DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin, Imam, Terjemah Tafsir Jalalain, Bandung: Sinar Baru, 1990.
Quthb, Sayyid, Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2004.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera, 2004.
Ya’qub, Hamzah, Filsafat Agama, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992.



[1] Dr. H. Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992, hlm. 137
[2] Imam Jalaluddin, Terjemah Tafsir Jalalain, Bandung: Sinar Baru, 1990, hlm. 62.
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol 11, Jakarta: Lentera, 2004, hlm. 129.
[4] Ibid., vol 7, hlm. 230.
[5] Imam Jalaluddin, op.cit., hlm. 116.
[6] M. Quraish Shihab, op.cit., vol. 8, hlm. 437.
[7] Ibid., vol. 7, hlm. 12.
[8] Ibid., vol. 11, hlm. 203.
[9] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2004, hlm. 139.

Share:

1 November 2009

AYAT-AYAT TENTANG MANUSIA


Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik dan karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam arti tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai, selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia.[1]
"Apakah dan siapakah manusia?". Pertanyaan klasik ini selalu menarik untuk dijawab oleh umat manusia sepanjang zaman. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berbagai filosof dan ilmuwan mencoba membangun konsep apakah dan siapakah manusia. Dalam kenyataannya, jawaban atas pertanyaan ini selalu mengandung kelemahan karena keterbatasan manusia dalam memahami siapa dirinya dan sesamanya. Karenanya, sejumlah gugatan terhadap konsep manusia hadir dan "berloncatan" dihadapan kita. Permasalahannya adalah mungkinkah kita akan berhasil membangun konsep manusia yang dapat memahami dan memperlakukan manusia secara benar? Bagaimana pandangan al-Qur'an tentang manusia?
A. Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini.[2] Oleh karenanya manusia dijadikan khalifah Tuhan di bumi[3] karena manusia mempunyai kecenderungan dengan Tuhan.
Berbicara tentang eksistensi manusia beserta nafsil insaninya berarti kita mengangkat suatu obyek studi yang tidak pernah bisa tuntas dipersoalkan (Sukanto MM, 1989). Manusia sebagai obyek ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam berbagai aspek dan seginya. Seorang biolog akan melihat manusia dari aspek biologi, sosiolog melihat manusia dari segi sosiologi, psikolog melihat manusia dari segi aspek kejiwaannya, dan begitu seharusnya ahli-ahli yang lain melihat manusia menurut disiplin ilmu masing-masing. Dorongan-dorongan kejiwaan merupakan unsur yang memberi warna pada manusianya. Dia akan menjadi manusia dengan kategori baik atau sebaliknya sesuai dengan arah yang disukainya. (Bahrun, 1973).[4]
Menurut Posmodernisme, dalam upaya memahami manusia ilmu-ilmu sosial kemanusiaan memandang manusia sedemikian rupa, sehingga manusia layaknya alat yang bisa di otak-atik seenaknya. Dimata ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, manusia adalah makhluk yang berada dalam keadaan sekarat dan tinggal menuju ajal tiba (man is dead or dying!!). [5]
B. Ayat-ayat Tentang Manusia
1. QS. al-Isra’: 70
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Keterangan :
Dengan bersumpah sambil mengukuhkan pernyataan-Nya dengan kata قد, ayat ini menyatakan bahwa dan Kami yakni Allah bersumpah bahwa sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, dengan bentuk tubuh yang bagus, kemampuan berbicara dan berpikir, serta berpengetahuan dan Kami beri juga mereka kebebasan memilah dan memilih. Dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan dengan aneka alat transportasi yang Kami ciptakan dan tundukkan bagi mereka, atau yang Kami ilhami mereka pembuatannya, agar mereka dapat menjelajahi bumi dan angkasa yang kesemuanya Kami ciptakan untuk mereka. Dan Kami juga beri mereka rezeki dari yang baik-baik sesuai kebutuhan mereka, lagi lezat dan bermanfaat untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa mereka. Dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk dari siapa yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.
Kata كرّمنا (karramna) terambil dari kata yang terdiri dari huruf-huruf kaf, ra’ dan mim, yang mengandung makna kemuliaan, serta keistimewaan sesuai objeknya. Karramna adalah anugerah berupa keistimewaan yang sifatnya internal, dalam konteks ayat ini manusia dianugerahi Allah keistimewaan yang tidak dianugerahkan-Nya kepada selainnya dan itulah yang menjadikan manusia mulia serta harus dihormati dalam kedudukannya sebagai manusia.[6]
ولقد كرّمنا (dan sesungguhnya telah Kami muliakan) kami utamakan بنى آدم (anak-anak Adam) dengan pengetahuan, akal, bentuk yang paling baik, setelah wafat jenazahnya dianggap suci dan lain sebagainya, وحملنهم فى البرّ (dan Kami angkut mereka di daratan) dengan menaiki kendaraan. والبحر (dan di lautan) dengan menaiki perahu-perahu. ورزقنهم من الطّيبت على كثيرممن خلقنا (dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan) seperti hewan-hewan ternak dan hewan-hewan liar. تفضيلا (dengan kelebihan yang sempurna).
Lafadz man di sini bermakna ma’ atau makna yang dimaksudnya menurut bab yang berlaku padanya. Maknanya menyangkut juga para malaikat, sedangkan makna yang dimaksud adalah keutamaan jenisnya, hal ini pengertiannya tidak memastikan bagi adanya keutamaan untuk semua individu atas para malaikat. Para malaikat lebih utama daripada manusia selain dari para Nabi.[7]
Manusia yang disebut dengan kalimat “al-Insan” itu memberikan arti bahwa manusia patut ditingkatkan martabatnya sampai pada tingkatan untuk memiliki keahliannya untuk menduduki jabatan khalifah (penguasa/pengatur) di atas bumi ini dan kemungkinannya untuk dibebani kewajiban-kewajiban dan kepercayaan atau amanat. Sebab hanya manusialah yang secara khusus dilengkapi dengan akal pikiran, kecakapan, dan kecerdasan serta hal-hal yang berkaitan dengan itu semua.[8]
Ayat ini merupakan anjuran agar manusia bersyukur dan jangan menyekutukan Tuhannya dengan seseorang pun, karena Allah telah menundukkan baginya apa yang ada di darat dan di laut, bahkan memeliharanya dengan perhatiannya yang baik serta diberinya petunjuk kepada pembuatan bahtera hingga tempat berlayar di laut dan memberinya rezeki dengan yang baik-baik, serta melebihkannya atas sebagian besar makhluk-Nya.[9]
Munasabah:
Ayat yang lalu menggambarkan anugerah-Nya ketika berada di laut dan di darat, baik terhadap yang taat maupun yang durhaka, ayat ini menjelaskan sebab anugerah itu yakni karena manusia adalah makhluk unik yang memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia, baik ia taat beragama ataupun tidak.[10]
Asbabun Nuzul
Tidak ada
2. QS. Shad: 71-72
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.
Keterangan :
Uraian tentang kisah Adam as dapat ditemukan dalam beberapa surat, antara lain pada surat al-Baqarah, al-A’raf, al-Hijr, dan al-Isra’. Sementara ulama berpendapat bahwa ayat-ayat surat ini merupakan ayat-ayat pertama yang turun menyangkut kisah Adam as itu. Ini setelah memperhatikan perurutan turunnya surah-surah al-Qur’an, di mana tidak ditemukan uraian kisah tersebut sebelum turunnya surah ini.[11]
فإذاستويته (maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya) telah sempurna kejadiannya ونفخت (dan Kutiupkan) kualirkan فيه من رّوحى (kepadanya ruh ciptaan-Ku) sehingga ia menjadi hidup. Dimudhafkannya lafaz ruh kepada Allah dimaksudkan untuk memuliakan nabi Adam. Roh adalah tubuh yang lembut dan tidak kelihatan oleh mata, yang membuat manusia dapat hidup karena memasuki tubuhnya. فقعواله سجدين (maka hendaklah kalian tersungkur dengan sujud kepada-Nya) sujud penghormatan dengan cara membungkukkan badan.[12]
Munasabah:
Ayat yang lalu menafikan Rasul saw menyangkut al-mala’ al-a’la kecuali apa yang diwahyukan Allah kepada beliau. Ayat-ayat di atas dan ayat-ayat berikut menguraikan sekelumit dari berita tentang al-mala’ al-a’la itu, yakni tentang peristiwa Adam as bersama para malaikat dan iblis. Ayat-ayat di atas menyatakan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadian fisiknya dan Kutiupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Ku, maka tunduklah kamu semua serta bersungkurlah secara spontan dan dengan mudah sebagai penghormatan kepada-Nya dalam keadaan bersujud.[13]
Asbabun Nuzul:
Tidak ada
3. QS. at-Tiin: 4-5
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”
Keterangan:
Kata خلقنا (Kami telah menciptakan terdiri dari kata خلق dan نا yang berfungsi sebagai kata ganti nama. Kata نا (Kami) yang menjadi kata ganti nama itu menunjukkan kepada jamak, tetapi bisa juga digunakan untuk menunjukkan satu pelaku saja dengan maksud mengagungkan pelaku tersebut. Dari sisi lain, penggunaan kata ganti bentuk jamak itu (Kami) yang menunjuk kepada Allah mengisyaratkan adanya keterlibatan selain-Nya dalam perbuatan yang ditunjuk oleh kata yang dirangkaikan dengan kata ganti tersebut. Jadi, kata خلقنا mengisyaratkan keterlibatan selain Allah dalam penciptaan manusia. Dalam hal ini adalah Bapak Ibu manusia. Kata الإنسان (manusia) yang dimaksud oleh ayat ini. Menurut al-Qurthubi adalah manusia-manusia yang durhaka kepada Allah. Pendapat ini ditolak oleh banyak pakar tafsir dengan alasan antara lain adanya pengecualian yang ditegaskan oleh ayat berikut, yaitu : Kecuali orang-orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa “manusia” yang dimaksud oleh ayat ini adalah jenis manusia secara umum mencakup yang mukmin maupun yang kafir. Kata تقويم (taqwim) berakar dari kata (قوم) yang darinya terbentuk kata اقيموا، استقامة، قائمة dan sebagainya. تقويم diartikan sebagai menjadikan sesuatu memiliki قِوَام (qiwam) yakni bentuk fisik yang pas dengan fungsinya, sehingga isyarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang yaitu akal, pemahaman dan bentuk fisiknya yang tegak dan lurus. Ayat ini dikemukakan dalam konteks penggambaran anugerah Allah kepada manusia, dan tentu tidak mungkin anugerah tersebut terbatas pada bentuk fisik.[14]
Manusia telah diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya karena satu dan lain hal, sehingga kemudian Kami Allah bersama dengan manusia itu sendiri mengembalikannya ke tingkat yang serendah-rendahnya.
Kata رددناه terdiri atas kata ردد yang dirangkaikan dengan kata ganti dalam bentuk jamak (نا) serta kata ganti yang berkedudukan sebagai obyek (ه) hu-nya. ردد antara lain berarti mengalihkan, memalingkan atau mengembalikan.[15]
Munasabah
Ayat-ayat yang lalu Allah bersumpah dengan menyebut empat hal. Ayat-ayat ini menjelaskan untuk sumpah itu. Di sini Allah berfirman bahwa : “Demi keempat hal di atas, sungguh Kami Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.[16]
Asbabun Nuzul
Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melalyi Jabir al-‘Aufi bersumber dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya: “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS. at-Tiin: 5). Ibnu Abbas r.a telah menceritakan bahwa mereka yang diisyaratkan oleh ayat ini adalah segolongan orang-orang yang dituakan umurnya hingga tua sekali pada zaman Rasulullah saw, karena itu ditanyatakanlah perihal mereka, sewaktu mereka sudah pikun, maka Allah menurunkan firman-Nya yang menjelaskan tentang pemaafan bagi mereka. Lalu dinyatakan-Nya bahwa bagi mereka pahala dari amal baik yang dahulu mereka lakukan sebelum pikun.[17]
4. QS. al-Baqarah: 30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Keterangan:
و (dan) ingatlah hai Muhammad! واذقال ربك للملائكة انى جاعل فى الارض خليفة (ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.") yang akan mewakili Aku dalam melaksanakan hukum-hukum atau peraturan-peraturan-Ku padanya, yaitu :
(Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya) yakni dengan berbuat maksiat.
(dan menumpahkan darah) artinya mengalirkan darah dengan jalan pembunuhan sebagaimana dilakukan oleh bangsa itu yang juga mendiami bumi? Tatkala mereka berbuat kerusakan, Allah mengirim malaikat kepada mereka maka dibuanglah mereka ke pulau-pulau dan ke gunung-gunung.
(padahal kami selalu bertasbih) maksudnya selalu mengucapkan tasbih.
(dengan memuji-Mu) yakni dengan membaca “Subhanallahi wabihamdihi” artinya Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya.
(dan mensucikan-Mu) membersihkan-Mu dari hal-hal yang tidak layak bagi-Mu.
قال (Allah berfirman) انى اعلم ما لاتعلمون (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui) tentang maslahat atau kepentingan mengenai pengangkatan Adam, dan bahwa diantara anak cucunya ada yang taat dan ada pula yang durhaka hingga terbukti dan tampaklah keadilan di antara mereka.[18]
Dalam surat tersebut diungkapkan dalam bentuk tamsil dengan maksud agar lebih mudah dipahami oleh manusia, khususnya mengenai proses kejadian Adam dan keistimewaannya. Untuk maksud tersebut Allah memberitahukan kepada para malaikat tentang akan diciptakan-Nya seorang khalifah di bumi. Mendengar keputusan ini, para malaikat merasa terkejut, karenanya, mereka bertanya kepada Allah dengan cara dialog. Untuk menjawab pertanyaan para malaikat, Allah memberi pengertian kepada mereka dengan cara ilham agar mereka tunduk dan taat kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.[19]
Munasabah
Kandungan ayat ini sama dengan ayat-ayat sebelumnya, yakni menjelaskan nikmat-nikmat Allah, yang dengan nikmat itu dapat menjauhkan dari maksiat dan kufur dan dapat memotivasi seseorang untuk beriman kepada Allah. Diciptakannya Nabi Adam dalam bentuk yang sedemikian rupa di samping kenikmatan memiliki ilmu dan berkuasa penuh untuk mengatur alam semesta serta berfungsi sebagai khalifah Allah di bumi. Hal tersebut merupakan nikmat yang paling agung dan harus disyukuri oleh keturunannya dengan cara taat kepada Allah dan tidak ingkar kepada-Nya.
Pada ayat ini dan sebelumnya juga menceritakan kisah-kisah tentang kejadian umat manusia. Dalam penciptaan manusia itu mengandung hikmah dan rahasia yang diungkap dalam bentuk dialog dan musyawarah sebelum melakukan penciptaan.[20]
Asbabun Nuzul:
Tidak ada

ANALISIS
Sesuai firman Allah dalam surat at-Tiin ayat 4 bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Disini bisa diartikan bahwa makhluk Allah yang mulia dan sempurna adalah manusia. “Dia” (manusia) ciptaan Allah yang paling unggul dari yang lain, diberi akal yang bisa digunakan untuk berfikir dan memikirkan sesuatu, khususnya ke-Maha Esa-an Allah. Dari keunggulan itulah Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, bukan hewan. Maka, kita sebagai manusia harus bersyukur atas segala karunia Allah kepada kita, berupa akal dan bentuk yang sempurna.

KESIMPULAN
Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi dalam arti kita sebagai manusia harus bisa menjaga, melindungi, dan melestarikan bumi. Bukan untuk merusak ataupun menghancurkan apa yang Allah ciptakan di bumi ini. Karena kesempurnaan manusia dalam berfikir dengan akal nilah manusia melaksanakan fungsinya dengan sebaik mungkin. Atas dasar itu penciptaan manusia dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dalam arti yang sebaik-baiknya dalam fungsi sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Mahalliy, Imam Jalaluddin, dan Imam Jalaluddin as-Sayuthi, Tafsir Jalalain, Asbabun Nuzul Ayat, Bandung: Sinar Baru, 1990.
Al-Maraghy, Musthafa, Tafsir al-Maraghiy, Juz XV, Semarang: Toha Putra, 1988.
Ancok, Djamaludin, dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islam, Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994.
Nawawi, Rifaat Syauqi, dkk., Metodologi Psikologi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah, Vol. V, Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Syathi’, ‘Aisyah Abdurrahman Bintusy, Manusia Siapa, Darimana dan Kemana?, Semarang: Toha Putra, 1982.
M. Thoyibi, dan M. Ngemron, Psikologi Islam, Surakarta : Muhammadiyah University Press, 2000.

[1] Rifaat Syauqi Nawawi, dkk., Metodologi Psikologi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hal. 3
[2] Q.S. 95 : 4
[3] Q.S. 2 : 30
[4] M. Thoyibi dan M. Ngemron, Psikologi Islam, Surakarta : Muhammadiyah University Press, 2000, hlm. 51
[5] Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islam, Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994, hlm. 152.
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. V, Jakarta: Lentera Hati, 2002, hlm. 514.
[7] Imam Jalaluddin al-Mahalliy dan Imam Jalaluddin as-Sayuthi, Tafsir Jalalain, Asbabun Nuzul Ayat, Bandung: Sinar Baru, 1990, hlm. 1154-155.
[8] ‘Aisyah Abdurrahman Bintusy Syathi’, Manusia Siapa, Darimana dan Kemana?, Semarang: Toha Putra, 1982, hlm. 20.
[9] Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghiy, Juz XV, Semarang: Toha Putra, 1988, hlm. 142-143.
[10] M. Quraish Shihab, op.cit., hlm. 513.
[11] Ibid., hlm. 168-169.
[12] Imam Jalaluddin al-Mahally, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, op.cit., hlm. 1979.
[13] M. Quraish Shihab, op.cit., vol. 12, hlm. 168.
[14] M. Quraish Shihab, op.cit., vol. 15, hlm. 378.
[15] Ibid., hlm. 380.
[16] Ibid., hlm. 377.
[17] Imam Jalaluddin al-Mahally dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, op.cit., vol. 4, hlm. 2752.
[18] Imam Jalaluddin al-Mahally, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, op.cit., hlm. 17-18.
[19] Ahmad Musthofa al-Maraghiy, op.cit., juz 1, hlm. 133-134.
[20] Ibid., hlm. 131.
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.