6 Januari 2010

KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN

Konsep Manajemen

Manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi mengatur atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan sub-sub sistem dan menghubungkannya dengan lingkungan. Manajemen merupakan suatu proses di mana sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan lainnya lalu diintegrasikan menjadi suatu sistem menyeluruh untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Manajer bertanggung jawab mengintegrasikan unsur-unsur manusia, mesin dan uang dan lain-lain menjadi produktif. Manajer berupaya mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan kearah pencapaian tujuan-tujuan sistem organisasi.

Ada dua jenis pendekatan yang dapat digunakan untuk mempelajari manajemen, yakni :

1) Memperlihatkan proses-proses administratif, yang terdiri dari; perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

2) Mempelajari sub sistem organisasi, yang meliputi tugas-tugas;

a. Strategi: menghubungkan organisasi dengan lingkungan, dan mendesain secara komprehensif sistem dan rencana.

b. Koordinasi: mengintegrasikan kegiatan-kegiatan di dalam organisasi

c. Operasi: melaksanakan pencapaian tujuan-tujuan secara efektif dan efisien.

Dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut dibutuhkan sistem lingkungan, perspektif waktu, pendapat, proses umum, dan teknik membuat keputusan.

Manajemen dalam organisasi merupakan koordinasi usaha kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Koordinasi itu terutama dipengaruhi oleh : (1) melalui orang-orang, (2) lewat teknik-teknik, (3) di dalam suatu organisasi, dan (4) ke arah tujuan-tujuan. Pada pokoknya manajemen adalah proses pengintegrasian sumber-sumber manusiawi dan material ke dalam suatu sistem keseluruhan untuk mencapai tujuan.

Sistem manajerial, adalah alat yang mempertalikan subsistem-subsistem primer dalam organisasi, yang terdiri dari lingkungan supra sistem, teknologi, dan sistem psikososial. Lingkungan supra sistem menyediakan keadaan atau suasana di mana organisasi berfungsi. Teknologi secara langsung dihubungkan dengan struktur organisasi. Psikososial menyediakan internal atmosphere bagi operasi-operasi harian. Jadi peranan utama sistem manajerial adalah mengintegrasikan kegiatan-kegiatan ke arah pencapaian tujuan-tujuan organisasi.

Pendekatan Untuk Mempelajari Sistem Manajerial

Kegiatan untuk mempelajari sistem manajerial dapat dilakukan dengan cara : (1) menganalisis peranan manajer dalam bermacam-macam keadaan institusional; (2) melakukan analisis secara rinci terhadap proses manajemen.

Cara pertama, ialah melakukan analisis perbandingan dan mempertentangkan peranan manajerial sesuai dengan fungsi-fungsi dalam berbagai organisasi, seperti organisasi Perusahaan, Pemerintahan, Lembaga Pendidikan, dan sebagainya. Dengan cara ini akan diperoleh informasi yang berharga tentang penyebaran dan universalitas tentang sistem manajerial. Cara kedua, mempelajari proses manajemen sesuai dengan tahap-tahap pada fungsi-fungsi manajemen, yakni: perencanaan, assembling resources, pengorganisasian, motivasi dan kontrol; atau dapat disederhanakan menjadi perencanaan, pengorganisasian, dan kontrol; atau lebih disederhanakan lagi, yakni perencanaan dan pelaksanaan (implementasi).

Pembuatan keputusan adalah proses yang fundamental dalam sistem manajerial, karena merupakan tingkah laku manusia yang mendasar, yang senantiasa terarah ke tujuan tertentu. Tingkah laku manusia itu merupakan urutan daripada langkah-langkah pembuatan keputusan berdasarkan pilihan dari berbagai alternatif. Pembuatan keputusan dalam organisasi dilakukan pada tahap-tahap perencanaan, pengorganisasian, dan kontrol (pengawasan).

Konsep Sistem Perencanaan

Perencanaan adalah proses manajerial dalam menentukan apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Dalam perencanaan digariskan tujuan-tujuan yang akan dicapai dan dikembangkan pula program kerja untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Perencanaan diperlukan oleh suatu organisasi, karena:

a. Berguna dalam rangka menghadapi masa depan yang dapat dikatakan belum tentu kepastiannya,

b. Organisasi senantiasa beroperasi dalam lingkungan yang selalu berubah,

c. Yang membutuhkan penyesuaian dan inovasi secara berkesinambungan, yang berbarengan dengan,

d. Kemajuan teknologi terhadap organisasi, sehingga,

e. Perencanaan itu sangat berguna bagi sang manajer dalam mengendalikan organisasi yang dipimpinnya.

Ini berarti, bahwa perencanaan pada hakikatnya merupakan integrasi kegiatan secara komprehensif dengan memaksimalkan seluruh efektifitas suatu organisasi sebagai suatu sistem menyeluruh untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Perencanaan sebagai kerangka bagi suatu sistem integrasi keputusan, melalui langkah-langkah sebagai berikut :

(1) Menilai keadaan politik, ekonomi, persaingan dan teknologi yang akan datang.

(2) Menjejaki nilai-nilai, minat, aspirasi, baik dari manajer maupun dari para anggota.

(3) Menggambarkan peranan sosio-ekonomi yang diinginkan dalam lingkungan untuk masa depan.

(4) Menganalisis sumber-sumber dan kemampuan-kemampuan organisasi untuk melaksanakan peranan-peranan yang diinginkan itu.

(5) Menggariskan strategi masa depan.

(6) Mengembangkan tujuan-tujuan khusus sesuai dengan rencana strategi.

(7) Menjabarkan perencanaan secara rinci dan kontrol penggunaan sumber-sumber.

(8) Menyediakan sumber komunikasi dan informasi.

(9) Menggariskan sistem informasi umpan balik dan kontrol untuk menentukan kemajuan yang telah dicapai dan masalah-masalah yang timbul dan perlu diperhatikan.

Perencanaan disusun dalam tahapan-tahapan sebagai berikut :

(1) Penyusunan keseluruhan tujuan, terus

(2) Mengembangkan rencana strategis, kemudian

(3) Mengembangkan rencana tingkat menengah, dan akhirnya

(4) Mengembangkan rencana operasional.

Tujuan organisasi yang dirumuskan secara jelas dan rencana strategi yang tepat akan membantu penyusunan rencana yang sistematik pada tingkat terendah (operasional). Perumusan tujuan secara operasional sangat berguna atau bermanfaat dalam hal :

a. Sebagai dasar untuk mengintegrasikan perencanaan dan bermacam-macam kegiatan unit operasional.

b. Sebagai dasar perencanaan yang lebih khusus dalam rangka pendelegasian tugas-tugas dan desentralisasi pelaksanaan rencana kerja.

c. Sebagai standard tingkah laku yang mesti dilaksanakan oleh semua tenaga yang terlibat dalam organisasi.

d. Sebagai fungsi kontrol untuk mengetahui hingga mana rencana telah dilaksanakan, hambatan-hambatan apa yang dihadapi, dan sebagainya.

e. Sebagai dasar motivasi bagi personal dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai prestasi kerja optimal.

Perencanaan memiliki sifat multidimensional, yakni:

1) Repetiveness (yang disebut standing plans) dan non repetiveness (single use plans)

2) Time span : perencanaan jangka panjang, menengah dan jangka pendek.

3) Scope: rencana komprehensif dan rencana strategis

4) Steiner: perencanaan strategis, program jangka menengah dan jangka pendek yang disertai dengan rencana biaya yang rinci.

5) Subsistem: subsistem strategis, subsistem koordinatif, dan subsistem operasional.

6) Flexibility: ada rencana yang kaku (misal: Cook’s planning approach), dan ada rencana yang memiliki banyak alternatif (seperti: Lewis and Clark planning approach).

Suatu model perencanaan terdiri dari :

1) Perencanaan Strategis: yang dikembangkan oleh manajemen yang lebih tinggi, yang berjangka panjang.

2) Perencanaan Medium: yang dikembangkan oleh koordinasi subsistem, berjangka sedang, ruang lingkupnya fungsional dan relatif lebih menetap.

3) Perencanaan Jangka Pendek: yang dikembangkan dalam subsistem operasional, berjangka pendek, ruang lingkup dan kegiatannya terbatas, lebih pasti (fixed) dan terinci.

Pendekatan sistem menitikberatkan pada integrasi kegiatan-kegiatan pada fungsi manajerial: perencanaan, pelaksanaan (action) dan kontrol, yang satu dengan lainnya tak dapat dipisah-pisahkan.

Konsep Sistem Organisasi

Ada beberapa tafsiran tentang organisasi sesuai dengan sudut mana dan penekanan apa yang diberikan. Ada yang menekankan pada interpelasi sistematis antara orang-orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan; ada yang menekankan pada segi sosial atau human; dan ada pula yang mencari analoginya dengan Biologi. Pada pokoknya dalam setiap organisasi terdapat unsur-unsur: orientasi pada tujuan, sistem psikososial, sistem teknis, integrasi kegiatan-kegiatan. Teori tentang organisasi harus dipelajari secara interdisipliner, menggunakan berbagai cabang disiplin ilmu pengetahuan.

Bentuk organisasi yang utama dan yang paling sederhana adalah keluarga, yang kemudian berkembang menjadi suku, desa, bangsa, negara. Selain dari itu, juga terjadi evolusi organisasi-organisasi yang tadinya bersifat informal kemudian menjadi organisasi-organisasi yang bersifat formal. Pada abad terakhir ini telah berkembang organisasi-organisasi yang lebih luas dan lebih kompleks. Dewasa ini organisasi yang besar dan kompleks itulah yang lebih menonjol sesuai dengan kebutuhan, baik secara profesional maupun secara praktis. Perubahan evolutionistic ini terjadi pula pada standard, norma, di samping penyesuaian-penyesuaian juga terjadi konflik antar nilai-nilai tersebut.

Organisasi bisnis, tujuan utamanya adalah produksi dan distribusi material serta jasa. Ciri-cirinya adalah:

a. Terjadi pertumbuhan dalam luasnya organisasi, yakni pertumbuhan menjadi kompleks melalui interaksi vertikal dan interaksi horizontal

b. Beroperasi secara multi nasional, dalam arti melakukan ekspansi internasional dalam sistem sosio kultural yang baru

c. Struktur organisasi lebih cenderung ke arah spesialisasi bagi para karyawannya sebagai akibat mekanisasi dan perkembangan manajemen

d. Terdapat diversitas tujuan-tujuan individual dalam unit-unit organisasi, dan kemudian diperlakukan pula bermacam-macam subsistem.

e. Organisasi menjadi lebih dinamis ke arah tuntutan-tuntutan lingkungan beroperasinya organisasi tersebut.

f. Tuntutan lingkungan menyebabkan perubahan dalam organisasi, organisasi menjadi bagian integral dari masyarakat, dan terdapat kekuatan yang dapat menghambat dan merubah peranan organisasi.

Organisasi tradisional, menekankan pada struktur organisasi, hubungan hirarkis, otoritas, spesialisasi dan span of control, serta garis hubungan staf. Konsep tradisional ini dirubah secara substansi oleh pandangan Behavioristik, yang lebih mengutamakan kebutuhan pribadi dan sosial para anggota organisasi. Model behavioral adalah permulaan dari konsep organisasi sebagai sistem keseluruhan yang mengarahkan dan menuntun individu-individu, kelompok-kelompok informal, hubungan-hubungan intergroup dan struktur formal.

Menurut pandangan modern, organisasi adalah suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau variabel yang saling bergantungan secara timbal balik suatu regu sosial dalam sistem masyarakat yang lebih luas. Organisasi adalah suatu sistem sosio-teknik yang berstruktur dalam hubungan interaksi dengan lingkungan. ‘Ia’ menerima input dalam bentuk tenaga, informasi materi dari lingkungannya dan mengembalikannya dalam bentuk output kepada lingkungan. Dalam organisasi terdapat banyak subsistem sebagai komponen-komponen utama, seperti: tujuan-tujuan dan nilai-nilai, subsistem teknik, subsistem psikososial, subsistem struktural dan subsistem manajerial. Fungsi manajerial dalam keseluruhan organisasi dalam hubungan dengan lingkungannya adalah: menentukan tujuan, perencanaan, pengorganisasian, dan kontrol atas kegiatan-kegiatan tertentu organisasi tersebut. Jadi organisasi modern menganut pendekatan sistem. Karena itu perlu dicari pola hubungan dan sistem desain organisasi yang dapat memenuhi tuntutan-tuntutan variabel, baik dalam internal subsistem maupun dalam lingkungan eksternal.

Komponen-Komponen Organisasi

Suatu organisasi meliputi tiga komponen (subsistem), yakni: operasi, koordinasi, dan strategi. Komponen operasi bertalian dengan kegiatan-kegiatan substantif yang terdiri dari input-proses-output. Manajemen terhadap kegiatan ini memerlukan banyak keputusan dan dalam waktu yang relatif pendek. Komponen strategi bertalian dengan batas antara organisasi dan lingkungannya, dalam waktu yang panjang dan memerlukan pembuatan keputusan yang bermutu dan penuh pertimbangan. Komponen koordinasi merupakan integrasi antara kedua komponen/subsistem sebelumnya dalam waktu jangka pendek dan jangka panjang.

Konsep Sistem Kontrol

Kontrol adalah fungsi dari sistem yang mengadakan penyesuaian dalam hubungan konfirmasi terhadap rencana, sejalan dengan sistem tujuan-tujuan. Kontrol dijalankan melalui jalinan jalannya informasi yang relevan.

Sistem kontrol memiliki unsur-unsur: kondisi atau controlled characteristic yakni suatu ciri atau kondisi yang dikontrol, sensor yakni suatu ciri atau kondisi, comparator yakni individu atau unit alat yang membandingkan pengukuran dengan rencana atau ukuran, activator yakni individu atau unit atau mekanisme yang mengarahkan tindakan terhadap perubahan dalam sistem pelaksanaan.

Informasi adalah medium daripada kontrol, sebab memberikan data sensoris dan informasi korektif terhadap sifat atau kondisi dari sistem yang akan dikontrol. Kontrol dilakukan terhadap hal-hal tertentu saja (selected item) yang berhubungan dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam sistem operasi. Informasi yang diperbandingkan dengan sistem standard perlu dinyatakan dalam satu bahasa. Sebaiknya dilakukan dengan prosedur sampling. Antara rencana dan output information diukur dengan norma-norma tertentu untuk menentukan tingkah laku yang diharapkan, sehingga dapat dilihat apakah rencana itu fleksibel atau tidak. Unit reactor merespon terhadap informasi yang diterima dari comparator dan kemudian melakukan pekerjaan korektif. Apakah dipergunakan “machine to machine system” maka output korektif itu disusun dalam network, atau kalau menggunakan man to man system, maka individu harus menilai ketepatan dari feedback information, signifikansi variasi, maknanya bagi stabilitas.

Kontrol diklasifikasikan menjadi tiga kategori: (1) Kontrol terbuka atau tertutup, (2) Kontrol manusia atau mesin, (3) Kontrol organisasi atau operasional.

Dalam sistem tertutup semua unsur menjadi bagian integral dari sistem. Sistem kontrol sudah diidentifikasikan dari pada kontrol dengan manusia, dan biasanya memang sistem kombinasi manusia-mesin. Dalam kontrol organisasi, diperhatikan apakah sistem disain telah aktif dan efisien. Sedangkan kontrol operasional, ialah untuk mengukur output harian.

Masalah yang dihadapi dalam kontrol, ialah: (a) sulitnya mengukur output yang bersifat subjektif dan pengaruh faktor-faktor psikologis dan sosiologis yang bersifat kualitas, (b) terjadi kekeliruan data sehingga mempersulit pertimbangan, (c) masalah salahnya ukuran yang dipergunakan terhadap apa yang diharapkan.

Konsep Sistem Informasi

Informasi adalah merupakan fakta, data dan pengetahuan. Fakta adalah sesuatu yang terjadi di dalam dunia nyata. Data adalah fakta-fakta yang diperoleh dari penelitian empiris. Sedangkan pengetahuan adalah fakta-fakta atau data yang dikumpulkan dengan cara tertentu. Informasi berguna dalam menjelaskan sesuatu keadaan yang tidak pasti dan berguna dalam rangka membuat keputusan.

Teori informasi atau teori matematis dari komunikasi merupakan alat yang sangat penting untuk mempelajari bermacam-macam sistem. Teori informasi terbagi menjadi tiga daerah yang penting: sistem komunikasi, teori matematik dan bermacam-macam pertimbangan yang digunakan dalam ilmu alam dan biologi. Teknologi informasi adalah penggunaan pengetahuan terhadap pelaksanaan tugas-tugas organisasi, misalnya dalam rangka mentransformasikan input menjadi output.

Informasi ditransmisikan melalui proses komunikasi, komunikasi dapat diartikan dengan pengiriman dan penerimaan, idea, dan sikap. Bentuknya secara langsung (interpersonal relationship atau dengan cara tidak langsung dengan surat, telepon, radio, televisi dan sebagainya), dalam organisasi dan masyarakat, dalam konsep sistem komunikasi. Proses komunikasi berlangsung sebagai berikut: sumber-informasi memberikan informasi mentah-ditransmisikan dalam bentuk signal. Dipihak lain menerima, menerima received signal dan kemudian didestinasikan. Bentuk komunikasi terdiri dari: (1) interpersonal, (2) intrapersonal dan (3) komunikasi masa. Di samping itu ada juga yang disebut man-machine system dan machine-machine communication system. Komunikasi sering menghadapi masalah-masalah, yang disebut masalah teknis (tentang ketepatan simbol-simbol), masalah semantic (tentang kebenaran simbol-simbol) dan masalah efektivitas (tentang pengaruhnya terhadap kelakuan).

Sistem informasi keputusan dalam organisasi dapat dikembangkan, baik dalam pola sistem yang natural atau informal. Organisasi disusun di sekitar sistem information flow. Di dalam sistem information keputusan yang menyeluruh yang telah disusun, maka fungsi-fungsi perencanaan dan kontrol memegang peranan yang penting.

Sistem konsep sangat penting di dalam penyusunan jalannya informasi. Keseluruhan sistem terdiri dari subsistem-subsistem daripada proses komunikasi yang disajikan sebagai aliran informasi melalui proses-proses keputusan. Proses-proses tersebut disusun dalam kerangka yang integral, yakni dalam sistem manajemen sistem informasi-informasi.

Manajemen sistem informasi (MIS), adalah manajemen yang mengatur hubungan antara sistem informasi dengan tugas-tugas managerial, yakni dengan : subsistem strategi yakni yang terutama berkenaan dengan perencanaan dan kontrol yang komprehensip; subsistem operasi, yang terutama berkenaan dengan perencanaan dan kontrol secara taktis; dan subsistem koordinasi, yang berkenaan dengan sistem pengintegrasian unit-unit fungsional yang berbeda-beda menjadi kegiatan-kegiatan yang menghubungkan subsistem operasi dan strategi. Data processing berhubungan dengan MIS. Data yang diolah ini bersumber dari luar, (seperti: sumber manusia, sumber dokumenter dan sumber fisik) dan dari dalam (bersumber dari personal, pemasaran, produksi, penemuan keuangan, dan lain-lain, yakni data yang berasal dari fungsi-fungsi organisasi).

Implikasi Konsep-Konsep Manajemen dalam Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan sebagai suatu sistem seyogyanya mengandung dua dimensi yang konsisten dan saling terkait, yakni dimensi yang berdasarkan konsep-konsep manajemen dan dimensi yang berdasarkan pada konsep-konsep pendidikan. Dengan kata lain, pengembangan suatu sistem manajemen pendidikan hendaknya berupaya memadukan kedua dimensi itu. Dalam hal ini dimensi penerapan konsep-konsep manajemen dalam manajemen pendidikan lebih mendapat perhatian kita sesuai dengan pokok bahasan yang disoroti dalam bab ini.

Perencanaan Pendidikan

Perencanaan pendidikan disusun secara bertahap, yang meliputi:

1) Perencanaan pendidikan yang menyeluruh yang berskala nasional untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan dalam sistem pendidikan nasional. Perencanaan pada tahap ini menjadi dasar dalam rangka penyusunan perencanaan pendidikan jangka panjang.

2) Perencanaan pendidikan jangka panjang, misalnya untuk jangka selama satu pelita. Perencanaan ini tergolong sebagai perencanaan pendidikan bertingkat strategis.

3) Perencanaan pendidikan tingkat medium yang berjangka sedang dalam jangka waktu yang relatif pendek misalnya untuk jangka satu tahun atau dua tahun pertama dari pelita.

4) Perencanaan pendidikan bertingkat operasional, yang berjangka pendek, misalnya dalam jangka satu tahun/2 tahun semester. Perencanaan pendidikan ini umumnya dilaksanakan pada tingkat wilayah dan kelembagaan pendidikan.

Organisasi Pendidikan

Implikasi konsep sistem organisasi sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian di atas, mengandung implikasi tertentu dalam rangka pengembangan pendidikan. Suatu sistem organisasi pendidikan yang lengkap dan menyeluruh memiliki tiga sub sistem, yakni strategi, operasi dan koordinasi. Komponen-komponen ini terdapat pada tiap jenjang pendidikan, baik pada tingkat program maupun pada tingkat kelembagaan pendidikan.

Pengorganisasian program pendidikan nasional terdiri dari tiga jenjang, yakni tingkat pusat, tingkat propinsi, dan tingkat Kotamadya/Kabupaten. Masing-masing jenjang organisasi program pendidikan tersebut ketiga komponen (strategi, operasi dan koordinasi).

Ketiga jenjang organisasi program harus mengandung komponen strategi yakni berdasarkan dan berinteraksi dengan lingkungan di mana program itu berada, yang meliputi kebudayaan, sistem nilai, kependudukan, ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan derajat lingkungan menentukan kadar interaksinya dengan tiap jenjang organisasi program bersangkutan.

Ketiga jenjang organisasi program juga memiliki komponen operasi, yakni kegiatan-kegiatan substantif pada kategori input (misalnya: target populasi, ketegasan, siswa, sumber biaya, peralatan, dan sebagainya), proses (misalnya: kurikulum, sistem instruksional, media, evaluasi), output (yakni para lulusan baik kualitas maupun kuantitas). Kegiatan-kegiatan tersebut sudah tentu berbeda pada tiap jenjang organisasi.

Komponen koordinasi juga terdapat pada tiap jenjang organisasi program, yang memadukan antara komponen strategi dan komponen operasi, dalam jangka panjang dan jangka pendek. Dengan koordinasi ini akan tercipta keseimbangan dan kesamaan tindakan dan arah kegiatan organisasi program dalam upaya mencapai tujuan program pendidikan pada masing-masing jenjang keorganisasiannya. Dengan demikian, kegiatan organisasi jangka pendek senantiasa berada dalam kerangka organisasi program jangka panjang.

Kontrol (Pengawasan) Pendidikan

Fungsi kontrol (pengawasan pendidikan) sangat pending, karena erat kaitannya dengan pelaksanaan dan hasil yang diharapkan oleh sistem pendidikan. Peranan dan kategori kontrol yang telah dikemukakan secara singkat dalam uraian di muka, kiranya mengandung implikasi tertentu terhadap sistem kontrol/pengawasan pendidikan.

1) Fungsi kontrol pendidikan tetap mengacu dalam tiga hal, yakni berfungsi sebagai sensor, komparator, dan activator. Pada fungsi sensor, kontrol pendidikan itu mendayagunakan rencana pendidikan sebagai ukuran yang dimaksudkan untuk mengukur pelaksanaan dan keberhasilan suatu rencana pendidikan.

Pada fungsi komparator bermaksud membandingkan antara hasil pengukuran dan perencanaan pendidikan yang telah dikembangkan sebelumnya. Fungsi activator dimaksudkan untuk mengarahkan tindakan manajerial bilamana terjadi suatu perubahan dalam pelaksanaan sistem pendidikan. Dengan demikian fungsi-fungsi tersebut erat kaitannya dengan kelancaran jalannya roda organisasi pendidikan, dan ketercapaian hasil pelaksanaan sistem pendidikan sesuai dengan jenjangnya.

2) Sistem kontrol pendidikan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Apakah kontrol itu dilakukan secara terbuka atau secara tertutup? Kontrol yang dilakukan secara terbuka berarti dapat melibatkan semua orang di lingkungan organisasi dan konsekuensinya semua informasi perlu ditampung dan diperhatikan. Kontrol secara tertutup keterlibatan hanya dibatasi pada pihak-pihak terkait saja dan umumnya tidak menyelusuri semua dimensi organisasi pendidikan. Kedua cara ini sesungguhnya dapat dilakukan secara berbarengan.

b. Apakah kontrol pendidikan dilakukan oleh manusia atau oleh mesin (alat elektronik misalnya). Sistem manajemen pendidikan yang telah berkembang dewasa ini memungkinkan penggunaan kedua sistem tersebut, yakni dilakukan oleh manusia dan menggunakan alat yang canggih.

c. Apakah kontrol dilaksanakan terhadap efektivitas dan efisiensi organisasi atau terhadap hasil operasionalisasi sistem pendidikan. Kedua bentuk kontrol tersebut seyogyanya dilaksanakan dalam sistem manajemen pendidikan, karena pada dasarnya antara kegiatan organisasi pendidikan dan keberhasilan yang dicapai dalam pelaksanaan harian bersifat saling terkait dan oleh karenanya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.

Sistem Informasi Pendidikan

Sistem manajemen pendidikan membutuhkan sistem informasi yang harus dikelola secara baik. Kebutuhan informasi ini terasa setiap saat di mana terjadi proses pendidikan, sebab dalam proses pengelolaan itu senantiasa diperlukan data yang akurat, yang dikumpulkan dan disimpan secara akurat pula. Itu sebabnya perlu diatur sistem manajemen informasi yang khusus relevan dengan tuntutan dan permintaan sistem pendidikan.

Kebutuhan informasi tersebut telah mulai terasa sejak adanya studi kelayakan, selanjutnya pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan tahap pengujian keberhasilan pendidikan. Jadi pada hakikatnya setiap fungsi manajemen pendidikan dibutuhkan informasi untuk pembuatan keputusan. Dalam hubungan inilah konsep-konsep sistem informasi yang telah dikemukakan secara ringkas dalam uraian di muka memiliki implikasi tertentu terhadap manajemen sistem informasi pendidikan.



Share:

4 Januari 2010

KEDUDUKAN ORANG TUA

Keluarga sebagai orang tua merupakan akibat wajar dari perkawinan dan merupakan akibat logis dari lahirnya anak. Kondisi-kondisi akibat lahirnya anak pertama menimbulkan situasi baru, kondisi dan situasi baru tadi menuntut tanggung jawab baru dan kematangan dewasa awal untuk menghadapinya, yang mana diwujudkan oleh dewasa awal tadi dalam kedewasaannya mengadakan penyesuaian.

Penyesuaian terhadap kedudukan atau status ke-orangtua-an dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya : sikap terhadap kehamilan, sikap terhadap peranan sebagai ayah/ibu, jenis kelamin anak, jumlah anak, harapan-harapan sebagai ayah/ibu, perasaan-perasaan yang layak menjadi ayah/ibu.

1. Sikap terhadap kehamilan tentu saja dialami oleh wanita, yang dipengaruhi pula oleh sikap-sikap calon ayah seperti penerimaan dan pemahaman suami terhadap perubahan-perubahan biologis dan psikologis istri. Bagi wanita, kehamilan merupakan pelaksanaan fungsi biologis secara normal. Meskipun kehamilan adalah suatu kenormalan fungsi fisiologis, tetapi terjadi pula ketidakseimbangan fisiologis wanita hamil adalah sebagai sebagian hal yang menimbulkan ketidakseimbangan psikologis, khususnya emosional.

Ketidakseimbangan psikologis dan emosional belum berakhir meskipun bayi telah lahir, mungkin hal itu disebabkan oleh adanya tugas-tugas baru merawat bayi, mungkin juga disebabkan oleh perubahan fisiologis dari masa mengandung ke masa setelah melahirkan.

2. Sikap terhadap peranan sebagai ayah ibu sangat beragam, di antara orang tua ayah dan ibu muda yang umumnya cenderung untuk mengambil tanggungjawab ke-orangtua-an mereka secara mudah. Sebaliknya, ayah dan ibu yang agak lanjut usia pada umumnya cenderung untuk menempatkan tanggungjawabnya sebagai orang tua. Mereka sangat ingin mengarahkan anak-anak mereka demi masa depan sang anak.

Disepakati oleh banyak pria yang menganut konsep peranan ayah secara tradisional akan merasakan bahwa sokongan utama mereka terhadap anak adalah ekonomi/keluarga. Karena itu mereka sangat termotivasi untuk mencapai prestasi kerja yang tinggi.

Sedangkan pria yang menganut konsep ayah secara modern, kebanyakan menyempatkan diri untuk memelihara anak bersama istrinya. Pemeliharaan itu bukan saja dalam hal mengasuhnya, melainkan juga dalam hal mengajari, membimbing anak-anak mereka dalam belajar dan bermain bersama.

3. Jenis Kelamin anak

Jenis kelamin anak sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian dalam kedudukan sebagai orang tua berhubungan dengan harapan-harapan orang tua terhadap jenis kelamin anak yang akan dilahirkan serta memelihara anak jenis tertentu.

Apabila orang tua berhasil melahirkan anak-anak yang disukai, maka orang tua akan merasa senang akan kedudukannya sebagai ayah atau ibu. Kesenangan-kesenangan dalam kedudukannya sebagai ayah atau ibu tadi membawa mereka ke pencapaian penyesuaian yang lebih baik, dibanding jika mereka mendapat anak yang kurang disenangi jenis kelaminnya.

4. Jumlah anak

Jumlah anak, juga mempunyai pengaruh terhadap penyesuaian yang dapat dilakukan dalam status ke-orang tua-an seorang ayah atau ibu. Dalam keluarga kecil, akan cenderung lebih mudah bagi ayah atau ibu dalam menciptakan penyesuaian terhadap statusnya sebagai orang tua.

5. Harapan-harapan sebagai ayah dan ibu

Harapan-harapan sebagai ayah atau ibu bersangkutan dengan konsep mereka menangani anak “ideal” memiliki penampilan fisik, sikap-sikap atau buah pekerti, kecakapan, bakat dan minat konsep-konsep ideal pada anak maka akan sehatlah hubungan pergaulan antara orang tua dan anak.

6. Perasaan-perasaan sebagai layak menjadi ayah atau ibu

Perasaan-perasan yang layak menjadi ayah atau ibu seringkali menghantui orang tua, penyebab-penyebab orang tua merasa tidak layak atau kurang memadai menjadi ayah atau ibu timbul dari beraneka ragam kondisi.

Banyak ayah-ibu yang merasa kurang layak menjadi orang tua yang disebabkan oleh kurangnya latihan dan pengalaman dalam mengatasi persoalan-persoalan yang muncul pada anak dalam usia-usia tertentu.


wallahu a'lam bishawab....

Share:

3 Januari 2010

KECERDASAN SPIRITUAL

1. Kecerdasan

Ada 3 ragam kecerdasan yang selama ini diperkenalkan, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

IQ atau kecerdasan intelektual adalah suatu kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah strategi maupun masalah logika, dan pengukuran IQ ini diawali oleh Sir Francis Galton yang merupakan sepupu dari Charles Darwin. Menurut Galton, kecerdasan itu merupakan hasil evolusi. Menurut Galton, kecerdasan seseorang itu dipengaruhi oleh status sosial orang-orang yang mempunyai status sosial yang lebih tinggi dianggap memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang berasal dari status sosial yang lebih rendah, tetapi usaha yang dilakukan Galton ternyata gagal.

Pada tahun 1904, seorang ilmuwan Perancis Alfred Binet juga meneliti tentang taraf kecerdasan manusia. Binet bersama Theodore Simon beranggapan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan memecahkan persoalan yang dipengaruhi oleh usia seseorang dan usia mental.[1]

Kemudian pada tahun 199, Daniel Goleman menemukan istilah kecerdasan emosional, yaitu suatu kecerdasan yang digunakan untuk menghadapi kesedihan dan kegembiraan secara tepat yang memberi kita rasa empati, cinta dan motivasi. Dan bukunya Daniel Goleman “Emotional Intelligence” diungkapkan ciri-ciri orang yang mempunyai sifat atau kualitas pribadi, diantaranya:

a. Dapat memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi

b. Dapat mengendalikan impuls diri dan menunda pemuasan

c. Dapat mengatur dan memantau suasana hati serta menjaga agar kesulitan tidak melemahkan kemampuan berfikir.

d. Memiliki ketrampilan empati dan mengharapkan kemampuan hal-hal yang lebih baik.[2]

Menurut Goleman, kecerdasan emosional (EQ) merupakan prasyarat dasar untuk menggunakan kecerdasan intelektual (IQ) secara efektif.

Akhir abad ke-20, serangkaian data ilmiah terbaru, menunjukkan adanya kecerdasan jenis ketiga, yaitu kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan spiritual ini dipopulerkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku, dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual adalah landasan untuk mengaktifkan IQ dan EQ secara efektif.

2. Ciri-Ciri Orang yang Memiliki Kecerdasan Spiritual yang Berkembang

Seperti yang dikemukakan di atas, bahwa kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna dan nilai dan ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang telah berkembang adalah sebagai berikut:[3]

a. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)

b. Tingkat kesadaran yang tinggi

c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan

d. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit

e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai

f. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu

g. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal

h. Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa?” atau “bagaimana jika?” untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.[4]

i. Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai “bidang mandiri” yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Seseorang yang mempunyai tingkat kecerdasan spiritual (SQ) tinggi cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seseorang yang bertanggungjawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih kepada orang lain dan memberikan petunjuk penggunaannya. Dengan kata lain seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain.

Tindakan atau langkah seseorang yang memiliki SQ yang tinggi adalah langkah atau tindakan yang mereka ambil menyiratkan seperti apa dunia yang mereka inginkan ini adalah perjalanan dari pengertian (awareness) menuju kesadaran (consciousness).

Sogyal Rinpoche mengatakan dalam The Tibet an Book of Living and Dying, “Spiritualitas sejati adalah menjadi sadar bahwa bila kita saling tergantung dengan segala sesuatu dan semua orang lain, bahkan pikiran, kata dan tindakan yang paling kecil dan tak penting memiliki konsekuensi nyata di seluruh alam semesta”.

Semua individu SQ yang tahu mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan, selalu bertindak dari misi yang sama, untuk membawa tingkat-tingkat baru kecerdasan dalam dunia.[5]

3. Manfaat dari Kecerdasan Spiritual

Dari penelitian Deacon, menunjukkan bahwa kita membutuhkan perkembangan otak di bagian frontal lobe supaya kita bisa menggunakan bahasa. Perkembangan pada bagian ini memungkinkan kita menjadi kreatif, visioner dan fleksibel. Kecerdasan spiritual ini digunakan pada saat:

a. Kita berhadapan dengan masalah eksistensi seperti pada saat kita merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu kita sebagai akibat penyakit dan kesedihan.

b. Kita sadar bahwa kita mempunyai masalah eksistensi dan membuat kita mampu menanganinya atau sekurang-kurangnya kita berdamai dengan masalah tersebut. Kecerdasan spiritual memberi kita suatu rasa yang menyangkut perjuangan hidup.

SQ adalah inti dari kesadaran kita. Kecerdasan spiritual ini membuat orang mampu menyadari siapa dirinya dan bagaimana orang memberi makna terhadap kehidupan kita dan seluruh dunia kita.

Orang membutuhkan perkembangan “kecerdasan spiritual (SQ)” untuk mencapai perkembangan diri yang lebih utuh.[6]



[1] Monty P. Satiadarma, Fidelis E. Waruwu, Mendidik Kecerdasan, Pustaka Populer Obor, Jakarta, 2003, hlm. 3.

[2] Richard A. Bowell, The 7 Steps of Spiritual Quotient, PT. Buana Ilmu Populer, Jakarta, 2006, hlm. 8.

[3] Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan, Mizan, Bandung, 2002, hlm. 3.

[4] Ibid., hlm. 14.

[5] Richard A. Bowell, op.cit., hlm. 207-209.

[6] Monty P. Satiadarma, Fidelis E. Waruwu, op.cit., hlm. 44-45.



Share:

2 Januari 2010

PERAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK KECERDASAN ANAK

1. Mendidik Kecerdasan Anak dalam Kandungan Hingga Besar

Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan tambahan pengetahuan bagi manusia tentang eksistensi anak dalam kandungan. Kemajuan ini juga memungkinkan manusia mengetahui dan menyimpulkan bahwa anak yang berada dalam kandungan bisa dididik dan dibelajarkan. Sedangkan yang dimaksud dengan mendidik dan pembelajaran anak dalam kandungan adalah usaha-usaha untuk menstimulasi yang dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah bayi dilahirkan, dan meningkatnya aktivasi kemampuan mental dan intelektual setelah bayi dilahirkan.

Persoalan hakikat mendidik anak dalam kandungan sesungguhnya tidaklah sederhana, terlebih hakikat Islam tentang mendidik anak dalam kandungan. Mendidik anak dalam kandungan adalah bagian dari proses menuju kesejatian manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi, dan proses yang demikian itu tidak bisa dicapai dengan tujuan agar anak yang lahir nanti bisa lebih cerdas daripada anak-anak yang semasa masih berada dalam kandungan tidak dididik.

Dan inilah sesungguhnya yang membedakan antara hakikat mendidik anak dalam kandungan, menurut falsafah Islam dengan hakikat mendidik anak dalam kandungan menurut yang lain. Oleh karena itu, mendidik anak dalam kandungan memiliki dua pengertian, yaitu :

a. Merupakan serangkaian dan kewajiban serta tanggungjawab orang tua terhadap anaknya.

b. Lebih bervisi mendidik dan membelajarkan orang tua sendiri ketimbang anak, yang lebih berakses pada pendidikan dan pembelajaran kepada anak yang berada dalam kandungan.[1]

Dari berbagai penelitian yang baru dan sangat didukung oleh teks-teks agama. Mendidik dan membelajarkan nama atau kata atau bahasa pada bayi ketika berusia kurang lebih 4 sampai 5 bulan setelah terjadinya pembuahan. Metode mendidik dan membelajarkan anak yang diperkenalkan oleh Rene van de Carr dan March Lehrer terbagi menjadi 3 metode, yaitu:

a. Metode irama kendang. Metode ini bertujuan mengajarkan suatu pengertian primitif tentang pola kepada bayu yang sedang berkembang. Kendang ini ditaruh di atas perut ibu, dan ibu menabuh kendang dengan batang pemukul atau palu kecil sehingga ibu dapat merasakan getaran di perut ibu.

b. Metode permainan bayi menendang

Metode ini bertujuan agar bayi belajar dasar-dasar menanggapi orang lain. Bayi menendang dan ibu dengan lembut menepuk atau menekan tepat pada bagian perut yang ditendangnya, setelah ia terbiasa dengan tepukan ibu sebagai tanggapan.

c. Metode memperkenalkan kata dan nama

Metode ini merupakan metode latihan berkomunikasi atau berbicara dengan bayi. Orang tua mengharapkan tanggapan dari bayi. Maka diperlukan beragam “kata utama”, ialah kata-kata yang nantinya akan sering orang tua dan bayi yang diucapkan seperti: mamah, ayah, papa, maem dan lain-lain. Prinsipnya, orang tua harus konsisten menyebut nama-nama atau kata-kata tertentu, dan menghindari ketidakkonsistenan.[2]

2. Hal-hal Yang Dihindari Saat Kehamilan

a. Jangan mengkonsumsi alkohol saat hamil

Mengkonsumsi alkohol saat hamil memiliki dampak yang luar biasa bagi anak dalam kandungan. Liver bayi tidak akan mampu menyaring alkohol seefektif ibunya. Penggunaan alkohol yang berlebih selama masa kehamilan dapat menyebabkan sebuah kondisi yang dikenal dengan sindrom alkohol yang berbahaya.

Bayi-bayi yang lahir dengan kondisi ini cenderung memiliki kepala kecil, dan jantung yang cacat, dan anak-anak itu mungkin akan bersifat sensitif, hiperaktif dan rentan terhadap serangan jantung, memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, lagi pula. Ibu yang meminum alkohol berlebihan, akan memiliki resiko keguguran, melahirkan secara prematur, dan mengalami komplikasi selama kehamilan dan persalinan.

Dalam kasus alkohol ini bayi mungkin akan mengalami penundaan pertumbuhan keahlian motorik yang lemah, sulit memperhatikan sesuatu dan kemampuan-kemampuan intelektual yang dibawah rata-rata.

b. Jangan merokok selama kehamilan

Merokok dapat menyebabkan cacat lahir, ada beberapa kajian yang menunjukkan bahwa merokok akan menurunkan tingkat pertumbuhan janin dan meningkatkan resiko keguguran selama masa kehamilan. Merokok juga dapat menyebabkan implantasi plasenta abnormal, pecahnya membran secara premature dan kelahiran dini.

Merokok akan mengakibatkan pertukaran oksigen dan nutrisi antara ibu dengan bayi yang dikandung. Suplai oksigen yang hancur atau tidak bersih ini akan menghambat perkembangan otak bayi. Ketika seorang ibu merokok, jantung anak berdetak kencana dan tubuhnya menerima suplai oksigen yang sudah berkurang.[3]

c. Hindari stress harian

Jika seorang wanita yang sedang hamil merasa stress atau emosional, maka kelenjar-kelenjar endokrin akan mengeluarkan adrenalin dan juga hormon-hormon lainnya. Hormon-hormon ini akan masuk ke dalam tubuh janin melalui aliran darah, sehingga hormon-hormon itu akan meningkatkan aktivitas gerak si bayi.

Stress yang berlangsung terus menerus dapat mengakibatkan stress yang akut dan keguguran. Persalinan yang lama dan lahir prematur, serta rendahnya berat bayi. Bayi-bayi yang ibunya mengalami stress pada masa kehamilan akan cenderung hiperaktif, tidak teratur dalam makan dan tidur dan juga kebiasaannya buang air besar.

d. Jangan mengkonsumsi makanan setengah matang atau memegang kunci

Orang dewasa yang sehat dapat bertahan dari serangan organisme toxoplasma dengan lebih mudah daripada mengalami batuk-batuk, jika seorang perempuan yang hamil terinfeksi oleh toxoplasma, perempuan tersebut bisa sembuh, namun anak yang dikandungnya mungkin akan tetap terinfeksi sampai setelah lahir, dan bayi yang terkena toxoplasma akan mengalami cacat mental, epilepsi, kerusakan pada mata, dan hydrochephalus.[4]

Kebanyakan kasus toxoplasma dapat dilacak karena makanan mentah, atau daging berwarna merah yang belum matang. Toxoplasma juga bisa disebabkan oleh organisme yang hidup dalam alat pencernaan kucing. Kucing-kucing mungkin terinfeksi kuman itu dengan memakan daging mentah, makanan busuk, atau melakukan kontak langsung dengan kucing lain yang terinfeksi oleh virus torch.[5]

3. Merangsang Anak dalam Kandungan

a. Berbicara kepada bayi

Mengajak berbicara kepada bayi selama dalam kandungan akan cenderung mengangkat kepala bayi untuk menyaksikan siapa yang berbicara. Semasa kehamilan seorang ibu mungkin ingin membantu anak menjadi terbiasa dengan suara ibu, dengan berbicara kepada bayi selama 10 menit. Orang tua harus menggunakan lagu kasih sayang atau suara anak kecil jika ingin memperdengarkan suara kepada bayi tersebut.

b. Mengelus bayi

Bersentuhan dengan bayi sebelum bayi lahir dengan cara mengelus dan menepuknya pada bagian rahim dengan lembut dan perut bagian bawah sampai pada pusar akan mampu meningkatkan jalur neomaskular-nya.

c. Goyangkan bayi anda

Rangsangan yang lembut yang dilakukan dengan cara menggoyang-goyangkan badan ke depan dan ke belakang pada kursi goyang akan mampu membantu mengembangkan bagian otak bayi yang berkaitan dengan mekanisme keseimbangan telinga bagian dalam. Bagian otak ini juga akan menyediakan landasan bagi kemampuan berbahasa dan juga tugas-tugas berpikir lainnya yang lebih tinggi yang akan berkembang di kemudian hari.

Pada saat seorang anak lahir ke dunia, anak tersebut telah mewarisi sifat-sifat kedua orang tua dan famili-familinya. Pertama yang harus diingat dalam mendidik anak adalah bahwa hanya orang yang harus mendidiknya, bukan setiap orang dikeduanya.

Ayah dan ibu mempunyai peranan dalam mendidik anak. Anak adalah bagian dari ibunya, ritme jiwa sang ibu sama dengan anak, seorang ibu juga bisa menyenangkan anak di hari pertama hidupnya. Oleh sebab itu, ibu merupakan teman terbaik bagi si anak, dan peran ayah adalah membantu itu atau wali dalam mendidik. Jika seorang anak di usia 2 tahun pertamanya diserahkan sepenuhnya kepada ayah, kecil harapan hasilnya akan memuaskan, karena seorang laki-laki sepanjang hidupnya hanyalah seorang anak, dan setiap anak selalu membutuhkan bantuan ibu, sebagaimana kata orang bijak, guru pertama adalah ibu, guru kedua adalah ayah, dan guru ketiga adalah guru.[6]

Syarat utama dalam melatih atau mendidik anak, adalah :

1) Harus bisa bersahabat dengannya

2) Membuatnya menjadi raja.

Dalam melatih anak, kita harus ingat bahwa kekuatan pikirannya, yang berarti kekuatan keinginannya, tidak boleh dikurangi, meskipun anak itu harus tetap dikontrol. Ada lima subyek berbeda yang harus diajarkan pada anak di tahun pertama, yaitu:

1) Disiplin

2) Keseimbangan

3) Konsentrasi

4) Etika

5) Relaksasi.

Persahabatan antara anak dan pengasuh harus sudah terjalin sehingga pengasuh dapat menarik perhatian dan respon dari anak. Disiplin baru diajarkan ketika anak mulai merespon pengasuh sepenuhnya. Disiplin tidak diajarkan dengan kemarahan atau bentakan. Bentakan bukanlah cara terbaik untuk mengajarkan disiplin pada anak. Ajarkan disiplin tanpa menunjukkan kemaraan atau ketergantungan, ajarkanlah dengan mengulangi tindakan yang dimaksud, hal ini bertujuan mengarahkan anak untuk merespon dan mematuhi orang tua sebagai pengasuh.[7]

Keseimbangan pada anak dapat diajarkan dengan mengatur ritme. Ada 3 jenis ritme:

1) Ritme pasif, dimana anak tidak aktif sama sekali. Artinya, mungkin anak dalam kondisi tidak sehat atau terjadi sesuatu yang tidak seharusnya.

2) Ritme kedua, anak aktif tetapi tidak excited (gembira atau asyik yang meledak-ledak) ini masuk kondisi normal.

3) Ritme ketiga, adalah ketika excited, kegembiraan atau keasyikan yang meledak itu harus dibawa ke ritme yang kedua, di mana anak aktif tidak excited, metode ini bisa didapat dengan memberi apa yang anak sukai.

Adanya perubahan ritme merupakan pertanda bahwa anak sedang tergugah, anak tidak bisa mengontrol ritmenya sendiri, hal-hal yang berkaitan dengan konsentrasi anak, sebaiknya orang tua meletakkan benda-benda yang menarik di hadapan anak. Dengan cara ini orang tua dapat membangun konsentrasi di diri anak, yang akan sangat diperlukan ketika anak beranjak dewasa. Sesungguhnya jika anak tertarik dengan sebuah benda, maka secara alami anak akan tertarik dengan sebuah benda, maka secara alami anak akan berkonsentrasi pada benda tersebut. Konsentrasi ini baik untuk anak, untuk jiwa dan raga anak.

Etika atau moral terbesar yang dapat dipelajari seseorang dalam hidup adalah keramah-tamahan yang berujung pada kedermawanan. Memberi sesuatu yang disukai anak dan meminta kembali sesuatu yang disukai tersebut dengan keramahan, simpati, dan kasih sayang dengan begitu akan timbul perasaan memberi, juga keramah-tamahan pada saat yang sama.

Akhirnya sampai pada tahap relaksasi, sesungguhnya seorang anak belajar relaksasi terlebih dahulu dibandingkan dengan orang dewasa, orang tua hanya perlu menempatkan anak pada sebuah ritme yang tenang dan kalem, menempatkan anak dalam posisi yang nyaman agar sistem syaraf anak beristirahat, menatap mata anak dengan penuh simpati, hasilnya adalah suasana penuh kedamaian dan ketenangan sehingga anak mengalami relaksasi.[8]

Hal lain yang dapat merangsang kecerdasan anak adalah suasana rumah. Suasana emosional rumah bisa merangsang anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan kecerdasan anak yang sedang tumbuh. Kecerdasan anak akan berkembang lebih baik, bila sikap orang tua dalam rumah tangga terhadap anak hangat dan demokratis.

Orang tua yang bersikap hangat, penuh kasih sayang, menerangkan segala tindakan mereka kepada si anak, memberi anak kesempatan ikut mengambil keputusan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak ternyata dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Rumah yang hangat dan demokratis berarti juga memperhatikan kepentingan si anak dalam merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga, tujuannya adalah mengembangkan anak menjadi manusia yang cerdas dan mampu menganalisa sesuatu dan bertindak secara tepat.[9]

Orang tua juga perlu menerangkan alasan-alasan peraturan dari keputusan yang dibuat mengenai anak, tetapi tidak dengan cara yang membosankan, tidak dengan aturan yang sulit bagi anak. Dengan demikian anak mulai dilatih membuat evaluasi mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, sedikit demi sedikit anak belajar mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan bagaimana caranya mengambil keputusan yang baik berdasarkan informasi yang didapat. Dan semakin lama anak akan menyadari bahwa disiplin dan peraturan yang diberikan mempunyai alasan yang bijaksana dan kasih sayang.

Rumah merupakan tempat belajar yang baik. Di rumah anak bisa selaras dengan keinginan sendiri, situasi rumah merupakan hal yang menguntungkan bagi orang tua untuk berperan sebagai guru yang pertama.

Membimbing anak belajar dalam usia anak-anak juga membuat orang tua lebih sayang serta lebih bahagia dengan anaknya. Hubungan emosi antara orang tua dengan anak sangatlah erat.[10] Bagi anak, guru pertamanya adalah ibu, karena ibulah yang merawat, mendidik dan mengajarkan kata yang pertama pada anaknya. Setelah ibu, guru yang kedua bagi anak adalah ayah, karena ayah merupakan wali dalam mendidik, ayah mempunyai peran penting dalam perkembangan kecerdasan anak sebagaimana telah diterangkan dalam bab peran pria (ayah) dalam rumah tangga.

Dan guru yang ke-3 bagi anak adalah guru yang ada di sekolah. Guru dapat merangsang kecerdasan anak dengan pendidikan yang diterapkan, dan pendidikan utama yang dibelajarkan adalah pendidikan agama.

Agama adalah spirit bagi manusia. Guru dan orang tua seharusnya bisa menanamkan spirit agama dalam diri anak. Agama harus menjadi sumber inspirasi bagi anak dalam menapaki kehidupan dunia ini. Dalam memberikan pendidikan agama, guru harus memperhatikan:

1) Aturan, sistem dan hukum agama hendaknya tidak dipisah dari kehidupan, melainkan harus berkaitan dengan kehidupan nyata yang dihadapi anak.

2) Tidak boleh membedakan antara satu agama dengan agama lainnya, sehingga dalam diri anak tidak tumbuh fanatik sempit dan kecenderungan memusuhi agama-agama lain.

3) Guru harus memanfaatkan setiap kesempatan untuk mensosialisasikan kesadaran beragama, menumbuhkan semangat agama yang benar.[11]

4) Guru juga harus memaparkan sejarah perjalanan para nabi, hal ini bertujuan untuk memberikan contoh yang baik bagi anak.

5) Pada usia dini, anak berfikir konkrit, mereka belum mampu memahami hal-hal abstrak dan filosofis. Salah satu permasalahan yang jauh sekali dari pikiran anak adalah tentang hari akhir. Dalam menerangkan hari akhir, guru bisa menggunakan pendekatan perbandingan, misalnya, dengan membandingkan hari akhir dengan ujian akhir tahun yang dilaksanakan di sekolah.

6) Dalam mengajarkan agama, guru harus memperhatikan perkembangan dari aspeknya. Aspek akal yaitu melalui penjelasan manfaat dan hikmah ritual agama. Aspek emosional yaitu dengan membangkitkan rasa cinta, penghargaan terhadap agama, aspek minat yaitu dengan memperhatikan minat anak terhadap agama, aspek sosial yaitu dengan membiasakan anak melakukan tindakan-tindakan terpuji.

7) Dalam menjelaskan pesan-pesan agama, seorang guru harus mendekati anak dengan sentuhan emosional bukan dengan menakut-nakuti. Penggunaan ancaman dalam mengarahkan anak merupakan langkah keliru, menakut-nakuti anak akan memunculkan rasa takut yang berpengaruh pada perilaku anak.

8) Guru dan orang tua harus memanfaatkan minat agama anak untuk memotivasi solidaritas sosialnya dalam suatu kelompok.[12]



[1] Muhammad Muhyidin, Bahasa dan Kecerdasan Bayi, Nidia Pustaka, Yogyakarta, 2007, hlm. 170-172.

[2] Ibid., hlm. 175.

[3] Thomas Armstrong, Smart Baby’s Brain, Prestasi Pustakarya, Jakarta, 2003, hlm. 21-23.

[4] Hydrochephalus adalah adanya air dalam otak.

[5] Thomas Armstrong, op.cit., hlm. 24-26.

[6] Inayat Khan, Mendidik Sejak dari Kandungan Hingga Dewasa, Marja, Bandung, 2007, hlm. 12-13.

[7] Ibid., hlm. 14-15.

[8] Ibid., hlm. 16-20.

[9] Joan Beck, Meningkatkan Kecerdasan Anak, Delaprasta Publishing, 2003, hlm. 43-45.

[10] Ibid., hlm. 45-47.

[11] Ma’ruf Musthafa Zurayq, Sukses Mendidik Anak, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2003, hlm. 88.

[12] Ibid., hlm. 88-91.



Share:
Diberdayakan oleh Blogger.