25 Oktober 2009

EMPIRISME JOHN LOCKE

Salah satu cabang filsafat adalah empirisme, yang salah seorang tokohnya adalah John Locke. Empirisme timbul sebagai reaksi dari paham rasionalisme “Rene Descartes”. Maka dengan itu dalam makalah ini kami akan membahas bagaimana empirisme John Locke menentang ide-ide bawaan dari Descartes tersebut.

A. Biografi John Locke

Locke dilahirkan di Wrington di kota Somerset. Orang tuanya adalah penganut Puritan. Ayahnya adalah seorang tuan tanah kecil dan pengacara yang berperang di parlemen pada waktu perang sipil. Locke belajar di Oxford di mana ia memperoleh gelar BA dan M.A. Ia kemudian belajar ilmu kedokteran dan pada tahun 1667 menjadi sekretaris dan dokter pribadi Earl Shaftesbury pertama, yang memimpin partai Whig. Selama menduduki jabatan sebagai Lord Chancellor, Locke menduduki beberapa jabatan publik penting yang memberinya pengalaman dan penglihatan langsung pada realitas dan jalannya politik. Gangguan kesehatannya membuatnya pindah ke Perancis selama empat tahun, dan waktu luangnya memberinya kesempatan untuk mengembangkan pandangan-pandangan filsafatnya sendiri.[1]

B. Karya-karya John Locke

1. Two Treatises of Government, berisi tentang politik, terbit sebanyak 2 kali.

a. Buku pertama berisikan penolakan terhadap hak ketuhanan Filmier

b. Buku kedua berisikan ide-ide Locke sendiri yang konstruktif tentang watak negara dan kekuasaannya.

Buku Two Treatises of Government sering disebut sebagai bibel liberalisme modern. Buku ini ditulis untuk mempertahankan penyelesaian revolusioner, atau sebagai mana yang telah dikemukakan oleh Lock : “Untuk membangun tahta bagi pembantu kita, Raja William, untuk mendukung kedudukannya melalui persetujuan rakyat”.[2]

2. Essax Concerning Human Understanding (1689)

Buku ini ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman. Di buku ini Locke menolak ide-ide bawaan. Dia berkata:

“Marilah kita andaikan jiwa itu laksana kertas kosong, tidak berisi apa-apa, juga tidak ada idea di dalamnya. Bagaimana ia berisi sesuatu? Untuk menjawab pertanyaan ini saya hanya mengatakan : dari pengalaman, di dalamnya seluruh pengetahuan di dapat dan dari sana seluruh pengetahuan berasal”.[3]

C. Pemikiran

1. Empirisme

Seperti yang dikatakannya dalam buku yang berjudul “Essax Concerning Human Understanding” bahwa pengetahuan di dapat dari pengalaman inderawi. Tanpa mata tidak ada warna, tanpa telinga tak bunyi, dan sebagainya. Teori empirisme berasal dari pandangan “Tabularasa” John Locke yang merupakan konsep epistemologi yang terkenal Tabularasa (blank, tablet, kertas catatan kosong), digambarkan sebagai keadaan jiwa. Jiwa itu laksana jiwa kertas kosong, tidak berisi apa-apa, juga tidak ada idea di dalamnya.[4] Ia berisi sesuatu jika sudah mendapatkan pengalaman di dalam pengalaman itu kita dapatkan seluruh pengetahuan dan dari sanalah asal seluruh pengetahuan.

Dalam teori ini, John Locke menggunakan 3 istilah : Sensasi (sensation), yang oleh orang empiris modern sering disebut data inderawi (sense-data). Idea-idea (ideas), bukan idea dalam ajaran Plato, melainkan berupa persepsi atau pemikiran yang atau pengertian yang tiba-tiba tentang suatu objek dan sifat (quality) seperti merah, bulat, berat.[5]

2. Tentang Agama

Locke juga menentang kekuasaan negara atas agama. Negara tidak boleh memeluk agama, tidak dapat memerintahkan atau meniadakan suatu dogma. Tiap warga negara bebas dalam soal keagamaan. Hak negara hanyalah untuk menindas teori-teori dan ajaran-ajaran yang membahayakan keberadaan negara.[6]

Pandangan Locke yang mengenai agama bersifat deistis. Agama Kristen adalah agama yang paling masuk akal dibanding dengan agama-agama yang lain, karena dogma-dogma yang hakiki agama Kristen dapat dibuktikan oleh akal. Bahkan pengertian “Allah” itu disusun oleh pembuktian-pembuktian. Jadi Locke bukan berpangkal pada pengertian “Allah” yang telah ada, lalu pengertian itu dibuktikan, melainkan berpangkal pada fakta keberadaan manusia sebagai makhluk akali yang dapat berdiri sendiri. Dari situlah ia menyimpulkan adanya Tokoh Akali yang perlu mutlak, yang maha kuasa, yaitu Allah. Inilah tema agama alamiah, yang akan menjalar dalam abad ke-18 dan 19.[7]

3. Tentang Etikanya

Berdasarkan asas-asas teori pengenalan itu di dalam etikanya Locke menolak adanya pengertian kesusilaan yang telah menjadi bawaan tabiat manusia. Apa yang menjadi bawaan tabiat kita hanyalah kecenderungan-kecenderungan yang menguasai perbuatan-perbuatan kita. Segala kecenderungan itu dapat dikembalikan kepada usaha untuk mendapatkan kebahagiaan.[8]

Bagaimana kita harus berbuat diajarkan oleh pengalaman. Pengalaman mengajarkan, bahwa kesenangan dihubungkan dengan perbuatan tertentu dan bahwa ketidaksenangan dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan lainnya. Hubungan ini sering dikutip dari penetapan suatu penguasa yang memberikan peraturan-peraturan yang bersifat kesusilaan.

Ada 3 macam peraturan bagi perbuatan kesusilaan, yaitu: a) perintah-perintah Allah yang harus ditaati manusia, supaya orang tidak dinilai sebagai berdosa; b) undang-undang negara yang memberi cap kepada perbuatan orang sebagai perbuatan yang salah dan yang tidak bersalah; c) hukum pendapat umum yang menciptakan kebajikan dan bukan kebajikan, yang disetujui dan tidak disetujui. Ketiga macam perintah ini dapat mempengaruhi kehendak manusia, hanya karena dikemukakannya hal pahala dan hukuman, dengan kata lain, hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Bagi Locke kebebasan kehendak adalah kecakapan manusia untuk menentukan apa yang akan dilakukan, semata-mata karena pandangan dan pertimbangan rasional, tanpa ada paksaan dari luar.[9]

KESIMPULAN

Setelah kita mengetahui bahwa konsepnya John Locke mengatakan “Tabularasa”, bahwa kertas putih yang belum ada coretannya begitu juga dengan diri kita, yang tadinya tidak tahu asal apa-apa, kemudian menjadi tahu, melihat pengalaman-pengalaman dari panca indra kita. Bahwa pengetahuan di dapat dari pengalaman inderawi. Tanpa mata tidak ada warna, tanpa telinga tak bunyi, dan sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA

Henry J. Schmadt, Filsafat Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.

Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, cet. III.

Simon Petruss Tjahjadi, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004.

Anggota Ikapi, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: 1980.



[1] Henry J. Schmadt, Filsafat Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 335.

[2] Ibid., hlm. 336.

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003, hlm. 173.

[4] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, cet. III, hlm. 794.

[5] Ibid., hlm. 176.

[6] Simon Petruss Tjahjadi, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004, hlm. 38.

[7] Ibid., hlm. 39.

[8] Anggota Ikapi, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: 1980, hlm. 37.

[9] Ibid., hlm. 38.



Share:

24 Oktober 2009

FILSAFAT MODERN ABAD 20

Dunia Barat abad kedua puluh berbeda sekali dengan abad kesembilan belas. Bukan saja karena semua perubahan teknis dan ekonomis serta kedua perang dunia yang menghancurkan banyak negara, melainkan juga karena gaya hidup, bentuk seni, jenis musik dan cara berpikir sama sekali berbeda.

Sering dikatakan bahwa dalam pemikiran abad kedua puluh, heterogenitas dan kuantitas aliran-aliran lebih menonjol daripada kualitas mereka. Jumlah aliran dan perselisihan pendapat memang besar, tetapi di tengah semua kekacauan masih tetap menonjol beberapa pemikir yang penting.

Salah satu sebab heterogenitas filsafat abad kedua puluh adalah “profesionalisme” yang semakin besar. Kebanyakan filsuf abad kedua puluh merupakan spesialis-spesialis dalam matematika, fisika, psikologi, sosiologi dan ekonomi. Jelas bahwa titik pangkal yang khas ini juga membawa sutau cara berpikir yang khas dan suatu perhatian untuk masalah-masalah yang khas pula.

Pragmatisme

Pragmatisme diambil dari kata pragma (bahasa Yunani), yang berarti tindakan, perbuatan. Kata pragmatisme sering diucapkan orang-orang yang menyebutkan kata itu dalam pengertian praktis. Sebenarnya istilah pragmatisme lebih banyak berarti sebagai metode untuk memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.[1]

Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce, filosof Amerika yang pertama kali menggunakan pragmatisme sebagai metode filsafat, tetapi pengertian pragmatisme telah terdapat juga pada Socrates, Aristoteles.[2]

Aliran pragmatisme timbul di Amerika dengan tokohnya yang terutama : William James dan John Deawey.

1. William James

Dalam bukunya The Meaning of Truth, James menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam praktek, ada yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.

Nilai konsep atau pertimbangan kita, tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya tergantung pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar bila bermanfaat bagi pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinan-kemungkinannya.[3]

Menurut James, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan.

2. John Deawey

Menurutnya, tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran Metafisis yang tidak ada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis.

Menurut John Deawey tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Maka dari itu berpikir tidak lain daripada alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya mempengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.[4]

Filsafat Hidup

Henri Bergson (1859-1941). Menurut Bergson, hidup merupakan tenaga eksplosif yang telah ada sejak permulaan dunia. Kemudian terus berkembang dengan penentangan materi. Bergson meyakini adanya evaluasi yang dipandangnya sebagai suatu perkembangan yang menciptakan, yang meliputi semua kesadaran, semua hidup, semua kenyataan dimana di dalam perkembangannya senantiasa menciptakan bentuk-bentuk yang baru dengan menghasilkan kekayaan baru pula.[5]

Filsafat Bergson disebut sebagai filsafat hidup, karena Bergson mendasarkan filsafatnya pada kenyataan bahwa yang ada adalah gerak, hidup, berubah terus. Filsafat Bergson merupakan perlawanan terhadap pandangan pada waktu itu (abad 19 dan permulaan abad 20) yang menaruh penghargaan yang berlebih-lebihan terhadap pengetahuan rasional.

Bergson, filsafatnya kembali pada pemikiran Metafisis dan anti rasionalis, dan menciptakan filsafat intuisi. Fungsi intuisi ialah untuk mengenal hakekat pribadi dengan lebih murni dan dapat mengenali seluruh hakekat kenyataan. Hakekat kenyataan baik dari pribadi maupun dari seluruh kenyataan oleh intuisi dilihat sebagai “kelangsungan murni” atau “masa murni”.

Intuisi yang dimaksudkan Bergson, lain dari perasaan perseorangan atau sentimen. Baginya filosof bukanlah seorang sentimentalis, bukanlah orang perasaan, melainkan seorang ahli pikir yang intuitif.[6]

Fenomenologi

Edmund Husserl (1859-1938) adalah pelopor filsafat fenomenologi yang sangat berpengaruh. Fenomenologi adalah suatu filsafat yang menggunakan suatu metode fenomenologi dalam usahanya memahami suatu kenyataan. Bahwa dalam menghadapi suatu kenyataan kita menjumpai gejala-gejala (fenomena) yang belum tentu bahwa pengertian kita tentang sesuatu itu betul sama sekali.

Adapun usaha untuk mencapai hakekat segala sesuatu itu dengan jalan reduksi (penyaringan). Husserl mengemukakan tiga macam reduksi atau penyaringan, yaitu :

1. Reduksi Fenomenologis

Di dalam reduksi fenomenologis, kita harus melakukan penyaringan terhadap semua pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud agar mendapatkan fenomena yang semurni-murninya. Telah dikemukakan, bahwa barang-barang yang nampak kepada kita, yang lebih kita pentingkan ialah apa yang menampakkan diri yang segera kita anggap sebagai realitas di luar kita. Fenomena atau gejala yang menyodorkan diri sebagai hal yang nyata ada itu tidak boleh kita terima begitu saja. Keputusan itu harus ditangguhkan terlebih dahulu atau ditempatkan di antara tanda kurung dahulu. Sesudah itu harus memandang atau menilik apa yang kita alam di alam kesadaran kita. Kalau tindakan ini berhasil kita akan menemukan phenomenon atau gejala yang sebenarnya kita dengan demikian mengenal gejala dalam dirinya sendiri.

2. Reduksi Eidetis

Yaitu penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos (intisari/hakekat gejala/fenomena). Kita melihat hakekat sesuatu. Inilah pengertian yang sejati.

3. Reduksi Transendental

Dalam reduksi transendental yang harus ditempatkan di antara tanda kurung ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tidak ada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri, dengan lain kata, metode fenomenologi itu diterapkan pada subyeknya sendiri dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.[7]

Eksistensialisme

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala kehidupan dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia.

Kata eksistensi berasal dari kata ex (keluar) dan sistensi (berdiri, menempatkan). Jadi, eksistensi diartikan manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya dan sibuk dengan dunia di luarnya.[8]

Martin Heidegger (1905) dengan bukunya Sein Und Zeit (1927).

Menurutnya, persoalan berada hanya dapat dijawab melalui ontologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metode fenomenologis. Jadi yang penting adalah menemukan arti berada itu. Satu-satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan yang lain, sedang beradanya manusia, mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya.[9]

Keberadaan manusia adalah “berada di dalam dunia”. Maka ia dapat memberi tempat kepada benda-benda yang di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan dengan manusia-manusia lain dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya.

Menurut Heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, ia dilemparkan ke dalam keberadaan. Tetapi, walau manusia keberadaannya tidak mengadakan sendiri, bahkan merupakan keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bertanggungjawab atas keberadaannya itu.

Di dalam hidup sehari-hari manusia bereksistensi, tidak yang sebenarnya. Manusia yang tidak memiliki eksistensi yang sebenarnya itu menghadapi hidup yang semu, hidupnya orang banyak. Ia tidak menyatukan hidupnya sebagai satu kesatuan. Dengan ketekunan mengikuti kata hatinya itulah cara bereksistensi yang sebenarnya guna mencapai eksistensi yang sebenarnya.[10]

Jean Paul Sartre (1905- …)

Cukup lama ia menjadi pemikir paling populer di Eropa. Eksistensialisme-nya menjadi suatu gaya hidup. Bersama teman-temannya Sartre menerbitkan majalah Les Temps Modernes (Jaman Modern) yang menjadi corong bicara filsafat eksistensialistis, dan sekaligus dari suatu orientasi politik dan kultural.[11]

Dialah yang menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar, bahkan menjadi semacam mode, sekalipun pendiri eksistensialisme bukan dia, melainkan Soren Aabye Kierkegaard. Ia mengajarkan bahwa yang ada ialah “akal individual”. Ia telah memperkenalkan istilah eksistensi yang memegang peranan penting dalam filsafat abad ke-20. Pandangan tentang pentingnya arti manusia sebagai pribadi inilah yang menjadi intisari filsafat yang dikembangkan oleh Sartre dalam nama eksistensinya.

Bagi Sartre, segala berada secara ini, “segala berada” dalam diri (I’efre en soi) adalah memuakkan (nauseant). Benda-bend yang berada demikian, kalau kita tidak memberikan arti apa-apa, dalam keadaannya sendiri, nampak memuakkan.

Adapun yang termasuk “berada untuk dirinya sendiri” (I’efre pour soi) adalah berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia mempunyai hubungan dengan keberadaannya, ia bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada.

Eksistensi walaupun kebebasan, namun tergantung juga kepada hal yang lain. Sebab sekali kita bebas di dalam pemilihan, kita terikat pada pemilihan itu, serta harus berbuat serta memikul akibat perbuatan itu. Maka tidak ada kebebasan yang mutlak. Kita bebas, tetapi justru itulah kecemasan kita.

Gabriel Marcel (1889-1973). Bukunya yang bersifat eksistensialis Exsistence et Obyektivite (1924). Dalam filsafatnya ia menyatakan, bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. Tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya, tetapi dari dalam ia dikuasai oleh jasmaninya.

Manusia bukanlah makhluk yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses). Ia selalu menghadapi obyek yang harus diusahakan seperti yang tampak dalam hubungannya dengan orang lain.

Perjalanan manusia ternyata akan berakhir pada kematian, pada yang tidak ada. Perjuangan manusia sebenarnya terjadi di daerah perbatasan antara “berada” dan “tidak berada”. Maka manusia menjadi gelisah, menjadi putus asa dan takut kepada kematian. Tapi sebesarnya kemenangan kematian hanyalah semu saja, sebab hanya cinta kasih dan kesetiaan itulah yang memberi harapan guna mengatasi kematian. Di dalam cinta kasih dan kesetiaan ada kepastian, bahwa ada engkau yang tidak dapat mati. Harapan itulah yang menembus kematian. Adanya harapan menunjukkan, bahwa kemenangan kematian adalah semu.

Ajaran tentang harapan ini menjadi puncak ajaran Marcel. Harapan ini menunjuk adanya “Engkau Yang Tertinggi” (Toi Supreme), yang tidak dapat dijadikan obyek manusia.[12]

KESIMPULAN

Filsafat abad 20 disebut filsafat dewasa ini (contemporary) dengan ciri-ciri bahwa rasio yang ada pada masa-masa sebelum masa itu dianggap sebagai potensi kebenaran, mulai ditinggalkan. Dan oleh karena itu orang mengalihkan pandangannya ke potensi-potensi yang bukan rasio, misalnya ke intuisi.

Pada abad ini muncul beberapa aliran filsafat, pragmatisme yang memberikan penilaian sesuatu pada nilai kontannya. Fenomenologi, suatu filsafat yang menggunakan suatu metode fenomenologi dalam usahanya memahami suatu kenyataan. Filsafat hidup yang berdasarkan filsafatnya pada kenyataan bahwa yang ada adalah gerak, hidup, berubah terus. Eksistensialisme yang memandang segala gejala kehidupan dengan berpangkal pada eksistensi.



DAFTAR PUSTAKA

Basori, A. Chairil, Filsafat, Semarang: IAIN Walisongo, 1985.

Hamersma, Harry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT. Gramedia, 1992.

Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993.

Syadzali, Ahmad, Filsafat Umum, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990.



[1] Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990, hlm. 166.

[2] Drs. Ahmad Syadzali, Filsafat Umum, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997, hlm. 123.

[3] Drs. Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993, hlm. 337.

[4] Drs Ahmad Syadzali, op.cit., hlm. 126.

[5] Ibid., hlm. 340.

[6] Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT. Gramedia, 1992, hlm. 102.

[7] Drs. Sudarsono, op.cit., hlm. 340.

[8] Dr. Ahmad Tafsir, op.cit., hlm. 191.

[9] Drs. H. Ahmad Syadzali, op.cit., hlm. 128.

[10] Drs. A. Chairil Basori, Filsafat, Semarang: IAIN Walisongo, 1985, hlm. 128.

[11] Harry Hamersma, op.cit., hlm. 107.

[12] Drs. H. Ahmad Syadzali, op.cit., hlm. 130-131.



Share:

23 Oktober 2009

PENDIDIKAN HUMANIORA

Pendidikan humaniora adalah suatu bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi, yaitu membantu manusia untuk mengaktualkan potensi-potensi yang ada, sehingga akhirnya terbentuk manusia yang utuh, yang memiliki kematangan emosional, kematangan moral dan kematangan spiritual.
Setiap bangsa pasti ditandai dengan pluralitas agama dan budaya. Kehidupan dalam iklim yang berbeda ini diharapkan manusia atau setiap pribadi itu memiliki dimensi individual dan sosial. Hal ini sangat berkaitan dengan bagaimana hidup bersama orang lain, mengembangkan kepekaan untuk saling menghormati dan menghargai.
Dalam mencapai kesempurnaan kehidupan setiap individu memiliki akal dan budi atau yang lazim disebut pikiran dan perasaan yang memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih daripada tuntutan hidup makhluk lain dan memungkinkan munculnya karya-karya manusia yang sampai kapanpun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh makhluk lain.
Berdasarkan uraian di atas kita mengetahui bahwa tujuan dari pendidikan humaniora adalah untuk membimbing manusia menjadi manusia seutuhnya dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis, untuk kehidupan yang lebih sempurna.

A.     Pengertian Humaniora
Menurut bahasa latin, humaniora disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi.

B.     Pentingnya Mempelajari Pendidikan Humaniora
Berbagai macam kasus kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, tindakan anarkis dan pelanggaran nilai kemanusiaan bahkan sudah menjadi keseharian. Indikatornya adalah pendidikan belum berperan signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa yang berjiwa sosial dan kemanusiaan. Tampaknya, manusia harus lebih “dimanusiakan” lagi. Keterpurukan bangsa yang berlarut-larut juga berhubungan dengan kegagalan pendidikan di masa lalu yang mengakibatkan terjadinya proses dehumanisasi.
Gagasan dan langkah menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan merupakan salah satu upaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis. Melalui pendidikan de-humaniora diharapkan manusia dapat mengenal dirinya, kemanusiaannya yang utuh, dan tidak hanya dapat menundukkan lingkungan alam fisik melalui kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada prinsipnya, pendidikan humaniora bertujuan membuat manusiawi/untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.

C.     Latar Belakang Pendidikan Humaniora
1.      Pengertian kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Untuk lebih jelas dapat dirinci sebagai berikut :
a.       Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia yang meliputi kebudayaan material dan kebudayaan non material.
b.      Kebudayaan itu diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
c.       Kebudayaan itu adalah kebudayaan manusia dan hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan.
2.      Manusia sebagai pengemban nilai-nilai
Di muka telah dijelaskan bahwa adanya akal dan budidaya pada manusia, telah menyebabkan adanya perbedaan cara dan pola hidup di antara keduanya. Oleh karena itu, akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang berdimensi ganda, yakni kehidupan yang bersifat material dan kehidupan yang bersifat spiritual. Manusia dimanapun dia berada dan apapun kedudukannya selalu berpengharapan dan berusaha merasakan nikmatnya kedua jenis kehidupan tersebut.
Hal di atas sebagaimana kodrat dari Tuhan bahwasanya manusia memang ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal. Saling mengenal di sini diartikan bahwasanya agar mereka yang berbeda-beda itu bisa saling melengkapi dalam artian memberi dan menerima.
Kemajuan dan perkembangan yang hanya terbatas pada kemajuan material saja akan menimbulkan kepincangan pada kehidupan manusia. Kehidupan mereka kurang sempurna, dimensi di dalamnya akan hilang, karena batin mereka kosong akibatnya tidak akan memperoleh ketenteraman, ketertiban hidup, melainkan justru dapat lebih rusak karenanya.
Material dan spiritual adalah dua hal yang saling melengkapi. Dua hal ini bagaikan jasad dan ruh. Kebahagiaan material akan menunjang jasmani kita, sedangkan kebahagiaan spiritual akan menunjang ruhani kita.
3.      Manusia sebagai makhluk termulia
Kalau kita lihat dari segi bentuk fisiknya maupun yang ada di sebaliknya, tidak berlebihan kalau manusia menyatakan dirinya sebagai makhluk termulia. Di antara makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan.
Beberapa keistimewaan yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk yang lain, adalah :
a.       Manusia mampu mengatur perkembangan hidup makhluk lain dan menghindarkannya dari kepunahan.
b.      Manusia mampu mengubah apa yang ada di alam ini
c.       Manusia memiliki ilmu pengetahuan yang karenanya kehidupan mereka makin berkembang dan makin sempurna
d.      Semua unsur alam termasuk makhluk-makhluk lain dapat dikuasai manusia dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.
4.      Budaya sebagai sarana kemajuan dan sebagai ancaman
Filsuf Hegel dalam abad ke-19 membahas budaya sebagai keterasingan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam berbudaya, manusia tidak menerima begitu saja apa yang disediakan oleh alam, tetapi mengubahnya dan mengembangkannya lebih lanjut.
Dengan akal dan dayanya, manusia berusaha untuk merubah sesuatu yang bersifat bahan mentah, yang disediakan oleh alam menjadi bahan jadi yang bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka. Dengan selalu berfikir dan mencoba, menjadikan manusia menjadi maju. Lain halnya dengan mereka yang tidak berminat untuk selalu berfikir dan mencoba. Pasti, akan terlihat sekali perbedaan antara keduanya.
Selain sebagai kemajuan budaya juga bisa menjadi ancaman. Budaya merupakan bahaya bagi manusia sendiri, yang dimaksud umpama tekhnik, peradaban, pabrik berasap, udara yang penuh debu, kota yang kotor, hutan yang masih kotor, kediktatoran akal dan budaya yang tamat. Baginya budaya itu menguasai, menyalahgunakan, menjajah dan mematikan.
Begitulah keadaannya jika manusia mengembangkan kebudayaannya tanpa memperhatikan etika. Akan terlihat sekali perbedaan antara pengembangan kebudayaan yang memperhatikan etika dan yang tidak.

D.    Metode Pendidikan Humaniora
Tugas pendidikan masa kini, pertama-tama bukannya mengajarkan “apa yang paling baik diketahui dan dipikirkan pada masa lampau”, akan tetapi yang lebih penting adalah menyajikan informasi dan orientasi terhadap masa kini, dan khususnya orientasi terhadap masa depan di mana nantinya para siswa akan hidup di dalamnya. Dengan pendidikan seperti itu, mereka akan memiliki kepekaan dan kemampuan-kemampuan untuk mengambil bagian secara kreatif di berbagai kehidupan masa mendatang.
Mengingat masa lampau tidak akan memberikan kesegaran pada masa kini dan yang akan datang. Sesuai dengan maqolah dalam buku “Laa Tahzan” bahwasanya hari ini adalah milik anda. Yang perlu kita fikirkan adalah hari ini, marilah kita hadapkan diri kita pada kejadian sekarang. Boleh juga kita menoleh masa lampau, sekedar untuk pelajaran. Kita bisa mengoreksi diri kita dengan melihat kesalahan-kesalahan pada masa lampau. Namun hanya sebatas itu, jangan kita terlalu larut dalam kejadian masa lampau.
Pendidikan humaniora adalah pembinaan kualitas kepribadian anak didik, yaitu untuk mencapai tujuan pengembangan “pribadi seutuhnya”, maka perlu untuk disajikan program-program kegiatan belajar-mengajar yang sifatnya non-verbal, sehingga memungkinkan anak didik untuk mengembangkan kesadaran kepekaannya, serta kemampuan-kemampuan lainnya untuk menikmati kehidupan aktual dan bukan lagi terkungkung hanya di dalam lingkungan dunia intelek yang serba abstrak.
Hal tersebut sangat penting, seseorang yang hanya intelek, tidak akan seimbang jika tidak disertai dengan kecakapan. Orang yang tidak cakap tidak akan mampu menunjukkan dan mengembangkan keintelekannya. Begitu pula orang yang cakap tapi tidak intelek. Dia mampu menunjukkan dan mengembangkan sesuatu. Akan tetapi, dia tidak punya sesuatu atau materi atau bahan untuk ditunjukkan dan dikembangkan.
Selain hal-hal di atas, pendidikan humaniora juga mementingkan masalah spiritual. Manusia tak cukup hanya kaya, tampan, cantik dan berkecukupan. Orang yang tersebut tidak akan tenang hatinya tanpa adanya ketenteraman hati. Hal ini dapat dicapai dengan selalu mendekatkan diri pada sang khaliq dan mensyukuri nikmat-Nya.

KESIMPULAN
1.      Pendidikan humaniora adalah pendidikan yang berorientasi untuk mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya.
2.      Prinsip pendidikan humaniora bertujuan membuat manusia lebih manusiawi atau untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.
3.      Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya kebudayaan inilah yang melatarbelakangi pendidikan humaniora.
4.      Bahwasanya manusia diberkahi adanya akal dan budi daya yang menyebabkan cara dan pola hidup yang berbeda diantara keduanya. Dan dengan adanya akal dan budidaya manusia adalah sebagai pengemban nilai-nilai moral baik yang bersifat material maupun spiritual.
5.      Dalam metode pendidikan humaniora, anak didik dikenalkan pada pengembangan material dan spiritual.

Share:
Diberdayakan oleh Blogger.