Cari Artikel Disini

October 13, 2008

GURU DAN ANAK KREATIF ATAUPUN ANAK BERBAKAT

Setiap anak didik mempunyai bakat yang berbeda-beda. Setiap guru pasti akan merasakan tentang perbedaan mereka. Di benak kita pasti akan terlintas pertanyaan “apa sich sebenarnya bakat itu?” Bagi pendidik / guru, pertanyaan-pertanyaan ini sangatlah penting. “Bakat” (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Berbeda dengan bakat, “kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan (performance) dapat dilakukan sekarang. Sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan “prestasi” seseorang. Jadi prestasi merupakan perwujudan dari bakat dan kemampuan.

Banyak faktor-faktor yang menentukan sejauh mana bakat seseorang dapat terwujud. Faktor-faktor itu sebagian ditentukan oleh keadaan lingkungan seseorang, seperti kesempatan, sarana dan prasarana yang tersedia, sejauh mana dukungan dan dorongan orang tua, taraf sosial ekonomi orang tua, tempat tinggal, di daerah perkotaan atau di pedesaan, dan sebagainya. Sebagian besar faktor ditentukan oleh keadaan dari diri orang itu sendiri. Seperti minatnya terhadap suatu bidang, keinginannya untuk berprestasi, dan keuletannya untuk mengatasi kesulitan atau rintangan yang mungkin timbul. Untuk mendukung prestasi seseorang itu juga ditentukan oleh tingkat kecerdasannya (intelegensi). Sedangkan kecerdasan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak terhadap kecerdasan seseorang).

Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Kemampuan untuk berfikir abstrak

b. Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar

c. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru

IQ

Klasifikasi

% dalam populasi

130 ke atas

120 – 119

110 – 119

90 – 109

80 – 89

70 – 79

di bawah 70

Sangat unggul

Unggul

Cakap normal

Rata-rata

Lamban normal

Batas dungu

Cacat mental

2,2

6,7

16,1

50,0

16,1

6,7

2,2

Klasifikasi Inteligensi menurut Wechsler

· Keterbakatan dan Anak Berbakat

Keterbakatan adalah sesuatu yang majemuk, artinya meliputi macam-macam ranah atau aspek, tidak hanya kecerdasan. Renzuli dkk, (1981) dari hasil-hasil penelitiannya menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keterbakatan seseorang adalah pada hakikatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu:

1. Kemampuan di atas rata-rata

2. Kreativitas

3. Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task-commitment)

Adapun yang dimaksud dengan “anak berbakat” adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul mampu memberi prestasi yang tinggi.

Ada beberapa metode untuk mengidentifikasi anak berbakat secara umum bisa dibedakan dua pendekatan:

1. Dengan penggunaan alat-alat tes

Meliputi dua tahap:

a. Tahap penyaringan atau “screening” dengan tes kelompok yang sudah dibakukan. Biasanya tes aptitude seperti tes inteligensi, dan tes prestasi belajar

b. Tahap seleksi atau identifikasi dengan tes individual. Ini lebih halus dan mengukur kemampuan seseorang dengan teliti dan tepat. Tes inteligensi individual yang populer adalah Wechsler dan Stanford Binet.

2. Pendekatan kedua adalah identifikasi melalui studi kasus, yaitu memperoleh sebanyak mungkin keterangan tentang anak yang diperkirakan berbakat dari sumber-sumber yang berbeda-beda.

Martinson (1974) mendaftar ciri-ciri anak berbakat sebagai berikut:

- Membaca pada usia lebih muda

- Membaca lebih cepat dan lebih banyak

- Memiliki perbendaharaan kata yang luas

- Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat

- Mempunyai minat yang luas

- Mempunyai inisiatif

- Dapat memberikan banyak gagasan

- Luwes dalam berfikir

Itu adalah sebagian dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Martinson.

· Pengembangan Kreativitas Anak atau Keterbakatan Anak

Mengapa kreatifitas perlu dan penting sekali di pupuk dan dikembangkan pada diri anak? Ini disebabkan :

Pertama, karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya dan perwujudan diri dari termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Maslow (1968) yang menyelidiki sistem kebutuhan manusia menekankan bahwa kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya.

Kedua, kreativitas atau berfikir kreatif, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. (Guilford, 1957).

Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu. Dari wawancara dengan tokoh-tokoh yang telah mendapat penghargaan karena berhasil menciptakan sesuatu yang bermakna, yaitu para ilmuwan dan ahli penemu, ternyata kepuasan sangat berperan. Kepada mereka ditanyakan : Apakah yang mendorong mereka sehingga tanpa pamrih memberikan begitu banyak waktu dan tenaga serta sering juga mengorbankan kehidupan yang mewah agar menciptakan sesuatu? Kebanyakan dari mereka menjawab : “Karena hal itu memberikan kepuasan pribadi yang tak terhingga”. (Biondi, 1972).

Keempat, kreatifitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.

Sesungguhnya bakat kreatif dimiliki oleh semua orang tanpa pandang bulu, dan yang lebih penting lagi ditinjau dari segi pendidikan adalah bahwa bakat itu dapat ditingkatkan, dan karena itu perlu dipupuk sejak dini. Memang harus diakui bahwa setiap orang berbeda dalam macam bakat yang dimiliki serta derajat atau tingkat dimilikinya bakat tersebut. Adanya perbedaan bakat tentu dialami oleh baik setiap guru maupun setiap orang tua dalam menghadapi anak-anak didik. Semua murid di dalam kelas mempunyai bakat tertentu, tetapi masing-masing dalam bidang yang berbeda-beda yang satu lebih menonjol daripada yang lain.

Walaupun setiap orang mempunyai bakat kreatif, namun kalau tidak dipupuk bakat tersebut tidak akan berkembang, bahkan bisa menjadi bakat terpendam, yang tidak dapat diwujudkan.

· Pelayanan Pendidikan Untuk Anak Berbakat

Kemampuan dasar atau bakat yang luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian perangsangan (stimulasi) yang sistematis, terencana dan terjadwal agar apa yang ada, yang dimiliki, menjadi aktual, berfungsi sebaik-baiknya. Membiarkan seorang anak berkembang sesuai dengan azas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi tidak sempurna dan bakat-bakat yang luar biasa yang sebenarnya mempunyai potensi untuk bisa diperkembangkan menjadi tidak berfungsi.

Tanpa pendidikan khusus yang meliputi pengasuhan yang baik, pembinaan yang terencana dan perangsangan yang tepat, mustahil seorang anak akan bisa begitu saja mengembangkan bakat-bakatnya yang baik dan mencapai prestasi yang luar biasa. Tanpa pendidikan khusus, bakat-bakat yang dimiliki akan terpendam (latent) atau hanya muncul begitu saja dan tidak berfungsi optimal.

Faktor yang perlu diperhatikan agar mencapai hasil yang diharapkan yakni:

1. Faktor yang ada pada anak itu sendiri, yaitu perlunya mengenal anak. Mengenal dalam arti mengetahui semua ciri khusus yang ada pada anak secara obyektif.

2. Faktor kurikulum yang meliputi:

a. Isi dan cara pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak (child centered)

b. Perlu ditekankan bahwa kurikulum pada pendidikan khusus hendaknya tidak terlepas dari kurikulum dasar yang diberikan untuk anak lain.

c. Kurikulum khusus diarahkan agar perangsangan-perangsangan yang diberikan mempunyai pengaruh untuk menambah atau memperkaya program dan tidak semata-mata untuk mempercepat berfungsinya sesuatu bakat luar biasa yang dimiliki.

d. Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak yang berorientasi inovatif dan tidak reproduktif serta berorientasi untuk mencapai sesuatu yang tidak hanya sekedar memunculkan apa yang dimiliki tanpa dilatih menjadi kreatif.

3. Hal lain yang penting adalah tersedianya faktor lingkungan yang berfungsi menunjang. Tujuan institusional dan instruksional serta isi kurikulum yang disusun secara khusus bagi anak berbakat membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.

Guru yang melaksanakan tugas-tugas kurikuler yang telah digariskan mempunyai peranan yang penting agar apa yang akan diajarkan bisa merangsang perkembangan seluruh potensi yang dimiliki serta berhasil melatih setiap aspek yang berkembang memperlihatkan fungsi-fungsi kreatif dan produktif.

Mengenai pelaksanaan pendidikan khusus untuk anak berbakat pada umumnya dikelompokkan dalam tiga bentuk:

“Pemerkayaan” yaitu pembinaan bakat dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat pendalaman kepada anak berbakat setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diprogramkan untuk anak pada umumnya (independent study, projects, dan sebagainya).

“Percepatan” yaitu cara penanganan anak berbakat dengan memperbolehkan anak naik kelas secara melompat, atau menyelesaikan program reguler di dalam jangka waktu yang lebih singkat. Variasi bentuk-bentuk percepatan adalah antara lain early admission, advanced placement, advanced courses.

“Pengelompokan Khusus” dilakukan secara penuh atau sebagian, yaitu bila sejumlah anak berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya.

Selain bentuk-bentuk pembinaan tersebut di atas, ada pula cara-cara pembinaan yang lebih bersifat informal misalnya dengan pemberian kesempatan meninjau lembaga-lembaga penelitian-pengembangan yang relevan, atau pengadaan perlombaan-perlombaan.

· Penyiapan Guru Untuk Anak Berbakat

Kualifikasi guru untuk anak berbakat dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kualifikasi profesi, kualifikasi kepribadian, dan kualifikasi hubungan sosial. Persyaratan profesional / pendidikan antara lain meliputi:

- Sudah berpengalaman mengajar

- Menguasai berbagai teknik dan model belajar mengajar

- Bijaksana dan kreatif mencari berbagai akal dan cara

- Mempunyai kemampuan mengelola kegiatan belajar secara individual dan kelompok

- Menguasai teknik dan model penilaian

- Mempunyai kegemaran membaca dan belajar

Persyaratan kepribadian antara lain:

- Bersikap terbuka terhadap hal-hal baru

- Peka terhadap perkembangan anak

- Mempunyai pertimbangan luas dan dalam

- Penuh pengertian

- Mempunyai sikap toleransi

- Mempunyai kreativitas yang tinggi

- Bersikap ingin tahu

Persyaratan hubungan sosial antara lain:

- Suka dan pandai dengan anak berbakat dengan segala keresahannya dan memahami anak tersebut

- Dapat menyesuaikan diri

- Mudah bergaul dan mampu memahami dengan cepat tingkah laku orang lain. (S.C.U. Munandar, 1981)

Implikasi bagi guru anak berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (1975) sebagai berikut:

a. Pertama-tama guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya

b. Disamping memahami diri sendiri, guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan

c. Setelah anak berbakat diidentifikasi, guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.

d. Guru anak berbakat lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan

e. Guru anak berbakat tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.

f. Guru anak berbakat lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian

g. Guru anak berbakat harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar

h. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.

· Peran Orang Tua dalam Memupuk Bakat dan Kreativitas Anak

Kebanyakan, orang tua cenderung menuntut terlalu banyak dari anak berbakat dengan maksud mengembangkan bakat-bakatnya semaksimal mungkin. Padahal, anak berbakat pun memerlukan waktu untuk bermain-main, untuk bergaul dengan anak-anak lain, untuk membaca buku-buku biasa dan tidak semata-mata buku pelajaran.

Ada sementara orang tua yang karena dulu cita-citanya tidak terkabul berhasrat agar anak merekalah yang dapat meneruskan cita-cita orang tuanya, tanpa memperhatikan bagaimana minat dan kebutuhan anak tersebut.

Di lain pihak ada orang tua yang justru khawatir terhadap suatu perkembangan keterbakatan anak akan membawanya justru pada suatu kehidupan yang tidak wajar. Oleh karena itu, mereka tidak menginginkan pertumbuhan intelektual yang terlalu cepat. Banyak pula guru yang mempunyai kekhawatiran yang sama. Akibatnya mereka dengan sengaja tidak memberikan perhatian khusus kepadanya di sekolah, tidak memberikan kesempatan untuk maju sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang unggul.

Orang tua yang bijaksana dapat membedakan antara memberi perhatian terlalu banyak atau terlalu sedikit, antara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya dan memberi tekanan untuk berprestasi semaksimal mungkin.

Ada beberapa hal yang dapat memudahkan orang tua agar lebih mantap dalam menghadapi dan membina anak berbakat (Ginsberg dan Harrison, 1977; Vernon, 1977) diantaranya adalah:

1. Pertama-tama perlu diingat bahwa anak berbakat itu tetap anak dengan kebutuhan seorang anak

2. Jika ada anak-anak lain dalam keluarga, janganlah membandingkan anak berbakat dengan kakak-adiknya atau sebaliknya.

3. Jangan pula suka membandingkan anak berbakat Anda dengan anak tetangga

4. Sempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya

5. Berilah kesempatan seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunnya dengan menjajaki macam-macam bidang, namun jangan memaksakan minat-minat tertentu

6. Jika anak berbakat ingin mendalami salah satu bidang yang diamati, berilah kesempatan, karena belum tentu kesempatan itu ada di sekolah.

· Kerjasama Antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama keluarga (orang tua), sekolah, dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapat bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, misalnya dalam memandu dan memupuk minat anak. Tokoh-tokoh dalam masyarakat dapat menjadi “tutor” untuk anak berbakat yang mempunyai minat yang sama. Pada waktu-waktu tertentu di luar jam sekolah siswa dapat diterima oleh tokoh-tokoh ini untuk berdiskusi dan bersama-sama melakukan suatu kegiatan.

Semua usaha yang dilakukan itu tidak akan sia-sia, karena bukanlah “Kejayaan suatu bangsa dan negara bergantung dari bagaimana masyarakatnya menghargai dan memanfaatkan sumber daya manusianya berupa potensi unggul untuk menghadapi masalah-masalah hari esok”. (S.C.U. Munandar, 1983).


Referensi :

- S.C.U. Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992.

- Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution, dkk., Anak-Anak Berbakat Pembinaan dan Pendidikannya, Jakarta: CV. Rajawali, 1982.